Hari kesepuluh, 24 September, Juz 24

Bismillah

Sebelum umrah terakhir tahun lalu, aku mencoba membaca dan mendengarkan banyak kajian tentang umrah. Sampailah aku pada rekaman-rekaman Ustadz Adi Hidayat. Ada satu nasihat beliau yang mengubah cara aku memandang tawaf.

Datang dengan membawa dosa

Bersiaplah sebelum masuk ke area Ka’bah, kata beliau. Dan ketahuilah bahwa Hajar Aswad, menurut riwayat, dulunya bukan hitam.

نَزَلَ الْحَجَرُ الْاَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَهُوَ اَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِيْ اٰدَمَ

“Hajar Aswad turun dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, lalu dosa-dosa anak Adam menjadikannya hitam.” (HR. Tirmidzi no. 877, hasan sahih)

Riwayat ini bukan bagian dari tata cara manasik. Tidak ada kewajiban yang lahir darinya. Fungsinya menyiapkan hati, bukan mengatur gerakan.

Dan itu yang terjadi padaku. Membayangkan sebuah batu yang tadinya seputih susu lalu menghitam, sementara aku datang membawa dosa-dosaku sendiri, rasanya berbeda dengan sekadar tahu ada batu yang dicium orang di sudut sana.

Maka sampai di sana, hadapkan wajah dan katakan: labbaik, aku datang, ya Allah. Aku hamba-Mu, datang membawa dosa. Lalu perbanyak istighfar.

Membagi tujuh putaran

Nasihat berikutnya lebih praktis. Buatlah rencana sebelum tawaf dimulai.

Tujuh putaran terasa panjang, tapi anehnya sering habis begitu saja. Orang yang tidak menyiapkan apa-apa bisa tiba-tiba sadar sudah di putaran keenam, dan belum memohon apa pun selain yang terlintas sekilas.

Maka bagilah. Putaran pertama untuk diri sendiri, mulai dengan minta ampun sebelum minta yang lain. Kedua untuk istri dan anak-anak, sebut namanya satu per satu, doakan yang spesifik. Ketiga untuk orang tua. Keempat untuk keluarga besar dan handai taulan. Kelima untuk sahabat, termasuk yang menitipkan doa. Keenam untuk para pemimpin dan umat yang sedang terzalimi. Ketujuh untuk penutup: mintakan agar semuanya diterima, dan mintalah izin untuk kembali.

Satu hal yang perlu ditegaskan: pembagian ini bukan sunnah.

Yang ditetapkan dalam tawaf hanya dua. Bertakbir setiap melewati Hajar Aswad, sebagaimana dicontohkan Ibnu Umar dengan ucapan bismillah wallahu akbar (HR. Ahmad 4628). Dan membaca doa sapu jagat di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin As-Sa’ib (HR. Abu Dawud 1894, dihasankan Al-Albani).

Selebihnya bebas. Ibnu Taimiyah menegaskan tidak ada zikir khusus dari Nabi ﷺ dalam tawaf, dan kumpulan doa per putaran yang beredar luas itu tidak ada dasarnya (Majmu’ Fatawa 26/122). Ulama lintas kalangan pun sepakat jamaah boleh memilih doa apa saja, untuk siapa saja.

Jadi pembagian tujuh putaran itu alat bantu, bukan tata cara baru. Seperti daftar belanja: bukan kewajiban, tapi yang tidak membawanya biasanya pulang dengan barang yang salah. Yang penting jangan sampai daftar itu jadi beban. Kalau di putaran ketiga kita justru menangis untuk anak, teruskan saja. Daftar melayani doa, bukan sebaliknya.

Perintah, bukan sekadar izin

Juz 24 hari ini seperti disusun untuk orang yang sedang menyiapkan doa.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong untuk menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.'” (Ghafir: 60)

Perhatikan bentuknya. Ini perintah, bukan sekadar izin. Dan orang yang enggan berdoa disebut sombong, karena berdoa itu pengakuan bahwa kita butuh.

Dulu aku sempat berpikir, mintalah berkali-kali karena takut tidak dikabulkan. Ternyata yang diajarkan sebaliknya: ud’ullaha wa antum muqinuna bil ijabah, berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan (HR. Tirmidzi). Yang membuat kita mengulang bukan kekhawatiran, tapi keyakinan.

Untuk yang merasa terlalu kotor untuk datang

Ada orang yang ragu berangkat karena merasa dosanya terlalu banyak. Juz ini punya jawabannya.

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.'” (Az-Zumar: 53)

Perhatikan panggilannya: ya ‘ibadi, wahai hamba-hamba-Ku. Yang sudah melampaui batas pun tetap dipanggil hamba-Ku.

Dan batu yang menghitam karena dosa manusia itu tetap dibiarkan di tempatnya, di sudut rumah-Nya. Tidak diganti, tidak disingkirkan. Justru dari situlah tawaf dimulai.

Melatihnya dari rumah

Yang baru aku sadari belakangan: semua itu keterampilan. Dan keterampilan tidak muncul mendadak hanya karena kita sudah berdiri di tempat yang mulia.

Orang yang sehari-hari tidak pernah menyebut dosanya, lalu diminta mengaku dosa di depan Ka’bah, biasanya blank. Yang keluar cuma kalimat umum, habis itu bingung. Orang yang jarang mendoakan orang tuanya dengan sungguh-sungguh akan kehabisan kata di putaran ketiga setelah dua kalimat.

Maka seratus hari ini bukan cuma untuk memahami, tapi untuk berlatih. Beberapa cara yang sedang aku coba:

Membiasakan mengaku dosa sebelum meminta. Ini urutan para nabi. Adam berkata rabbana zhalamna anfusana. Yunus dari perut ikan berkata inni kuntu minazh zhalimin. Mengaku dulu, baru memohon. Dan yang paling lengkap ada di sayyidul istighfar, yang dibaca pagi dan petang: abu’u laka bini’matika ‘alayya wa abu’u bidzanbi faghfirli — aku mengakui nikmat-Mu atasku, dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Dua pengakuan dalam satu tarikan napas. Kalau dibaca tiap pagi dan petang selama seratus hari, pengakuan itu tidak lagi perlu dicari-cari kalimatnya di tengah tawaf.

Memindahkan pembagian tujuh putaran ke lima waktu shalat. Selepas Subuh untuk diri sendiri. Dzuhur untuk orang tua. Ashar untuk istri dan anak. Maghrib untuk keluarga besar dan sahabat. Isya untuk pemimpin dan umat. Dalam seratus hari itu jadi lima ratus kali latihan. Nanti tinggal memadatkannya jadi tujuh putaran.

Merawat daftar nama. Nama-nama itu berubah. Ada yang sakit, ada yang menikah, ada yang sudah tiada. Daftar yang dirawat seratus hari jauh lebih hidup daripada yang dibuat semalam sebelum berangkat.

Memakai sujud terakhir untuk yang paling berat. Yang paling sulit diucapkan biasanya yang paling perlu diucapkan. Kalau di rumah saja belum sanggup menyebutnya, jangan berharap tiba-tiba sanggup di sana.

Intinya satu: yang ingin kita lakukan di depan Ka’bah, mulailah melakukannya di atas sajadah rumah sendiri.

Supaya nanti tinggal melanjutkan

Menyiapkan doa sama seriusnya dengan menyiapkan dokumen dan koper. Bedanya, koper bisa dibereskan semalam sebelumnya.

Kebiasaan merendah tidak bisa. Kebiasaan mengaku dosa tanpa membela diri tidak bisa. Kebiasaan menyebut nama orang lain satu per satu dengan sungguh-sungguh juga tidak bisa.

Semoga nanti, ketika kaki menginjak mataf dan mata bertemu Ka’bah, aku tidak sedang memulai apa-apa. Aku cuma melanjutkan apa yang sudah aku kerjakan tiap hari di rumah, di tempat yang jauh lebih layak untuk melakukannya.

Bagaimana menurut kamu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News