5 Januari, Juz 5
Di Juz 5, ada Surat An-Nisa (Perempuan).
Berbeda dengan surat-surat seperti Yasin, Al-Mulk, Al-Kahfi, atau Al-Ikhlas yang memiliki fadhilah khusus ketika dibaca, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi, ternyata tidak ditemukan riwayat shahih yang secara spesifik menyebut fadhilah Surat An-Nisa hanya dari sisi bacaan.
Namun justru di situlah letak keistimewaannya.
Fadhilah terbesar Surat An-Nisa bukan terletak pada berapa kali ia dibaca, tapi pada sejauh mana isinya dijalankan.
Karena An-Nisa lebih banyak mengatur tatanan sosial dan relasi kekuasaan, seperti tentang perempuan, anak yatim, harta dan amanah, keluarga, kepemimpinan, dan keadilan.
Surat ini seperti membawa iman kepada Allah SWT untuk dipraktekan di kehidupan keluarga dan sosial kita.
Banyak sekali nilai yang bisa diambil dari Surat An-Nisa namun kali ini kita ambil satu yang paling mendasar yaitu bersikap adil.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
(QS An-Nisa: 58)
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkan dengan adil.”
Ayat ini sederhana, tapi berat. Karena adil tidak selalu enak buat kita. Adil sering kali menuntut kita mengalahkan ego, kepentingan, bahkan rasa takut.
Surat An-Nisa mengajarkan bahwa iman yang matang akan selalu diuji ketika kita punya kuasa, sekecil apa pun itu. Ingat penguasa bukan hanya Raja. Kita punya kuasa sebagai orang tua, atasan, atau pasangan kita. Juga sebagian kita punya kuasa sebagai orang yang didengar pendapatnya, baik di kantor maupun di lingkungan.
Dan mungkin salah satu fadhilah Surat An-Nisa yang sesungguhnya, mengajarkan untuk berbuat adil.
Oiya ngomong-ngomong tentang adil, siapa tau ada yang penasaran, ayat tentang poligami juga berbicara tentang syarat adil. Ayat itu di awal Surat Annisa, di Juz 4. Jadi bukan bahasan hari ini 😛

