Hari #27, 11 Oktober – Juz 11

Bismillah

Setiap kali ziarah ke Madinah, jamaah pasti dibawa berkunjung ke Masjid Quba. Hampir tidak ada paket perjalanan yang melewatkannya.

Dan memang ada alasannya.

Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Islam. Dibangun Rasulullah ﷺ pada tahun 1 Hijriah, ketika beliau singgah di kawasan Quba dalam perjalanan hijrah dari Makkah menuju Madinah, sebelum Masjid Nabawi berdiri.

Keutamaannya pun disebut dalam hadis.

“Barang siapa bersuci di rumahnya, lalu datang ke Masjid Quba dan shalat dua rakaat di dalamnya, maka baginya pahala seperti umrah.” (HR. Ibnu Majah no. 1412, dinilai sahih)

Ibnu Umar juga meriwayatkan bahwa Nabi biasa mendatangi Masjid Quba setiap hari Sabtu, kadang berjalan kaki, kadang berkendara, lalu shalat dua rakaat di sana.

Perhatikan satu syarat kecil di hadis itu. Bersuci dari rumah, bukan berwudu setelah sampai. Jadi perjalanannya pun sudah masuk hitungan.

Masjid yang dibangun atas dasar takwa, dan lawannya

Juz hari ini memuat ayat tentang dua masjid yang berbeda jauh.

Yang pertama disebut sebagai masjid yang dibangun untuk memecah belah.

وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَّكُفْرًا وَّتَفْرِيْقًاۢ بَيْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Dan di antara mereka ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana, untuk kekafiran, dan untuk memecah belah di antara orang-orang beriman.” (At-Taubah: 107)

Inilah yang dikenal sebagai masjid dhirar. Bangunannya masjid, bentuknya masjid, dan pemakainya pun shalat di dalamnya. Tapi niat di balik pendiriannya memecah jamaah kaum muslimin di Quba. Setelah pulang dari Tabuk, Nabi memerintahkan agar bangunan itu dibongkar.

Lalu ayat berikutnya menyebut lawannya.

لَمَسْجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقْوٰى مِنْ اَوَّلِ يَوْمٍ اَحَقُّ اَنْ تَقُوْمَ فِيْهِ

“Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan shalat di dalamnya.” (At-Taubah: 108)

Masjid mana yang dimaksud? Di sini ada perbedaan pendapat. Sebagian ulama, termasuk riwayat dari Ibnu Abbas, menyebut Masjid Quba. Sebagian lain menyebut Masjid Nabawi, berdasarkan riwayat dalam Shahih Muslim ketika Nabi ditanya soal itu lalu menjawab bahwa yang dimaksud adalah masjid beliau.

Dua-duanya punya dasar, dan dua-duanya sampai pada kesimpulan yang sama: yang membedakan bukan bangunannya, melainkan apa yang mendasari pendiriannya sejak hari pertama.

Jalur yang sekarang sudah dibuat

Jarak Masjid Nabawi ke Masjid Quba sekitar tiga kilometer, dan sekarang keduanya sudah terhubung jalur pejalan kaki yang sangat baik. Lebarnya sekitar lima belas meter, dibagi tiga jalur. Sisi kiri dan kanan untuk pejalan kaki, bagian tengah untuk mobil golf, sepeda, dan skuter. Pohon-pohonnya ditanam berjajar sepanjang jalan.

Jalan kaki satu arah kira-kira empat puluh lima sampai enam puluh menit. Di sepanjang jalurnya ada kafe, pertokoan, taman, dan berbagai fasilitas. Mendekati Masjid Quba ada gerbang bertuliskan ucapan selamat datang di kawasan pertokoan warga Madinah.

Dan Masjid Quba sendiri sekarang sudah direnovasi. Jauh lebih baik dan indah dari sebelumnya, lengkap dengan taman di halamannya.

Aku sendiri belum pernah menempuh jalur itu dengan berjalan kaki. Waktu itu ikut rombongan, naik bus, turun di depan masjid, shalat, lalu kembali.

Semoga lain waktu diberi kesempatan menyusuri pedestrian itu. Kebetulan jalur yang dibangun itu memang mengikuti jalan yang dulu ditempuh Rasulullah ﷺ menuju Quba.

Yang perlu dijaga dari semua kemudahan itu

Fasilitas kuliner dan wisata di Madinah sekarang banyak sekali, termasuk di sepanjang jalan menuju Quba. Ada yang jalan kaki, ada yang naik mobil listrik, ada yang bersepeda, bahkan ada jamaah yang memanfaatkannya untuk lari pagi.

Semuanya baik. Jalurnya memang dibuat untuk dipakai, dan kafe di sana memang disediakan untuk disinggahi.

Yang perlu dijaga cuma satu, jangan sampai semua itu memecah fokus ibadahnya.

Dan di situ sambungannya dengan dua masjid tadi. Dari luar, orang yang berjalan ke Quba kelihatan sama saja. Sama-sama menempuh tiga kilometer, sama-sama lewat jalur yang sama, sama-sama singgah di kafe yang sama.

Yang membedakan ada di dalam. Satu orang berjalan untuk menuju masjid dan singgah seperlunya, satu lagi berjalan untuk jalan-jalan lalu kebetulan mampir ke masjid.

Masjid dhirar dibongkar bukan karena bangunannya jelek, dan Masjid Quba dipuji bukan karena bangunannya bagus. Yang dinilai niat di balik pendiriannya.

Begitu juga perjalanan kita. Yang dihitung bukan jarak yang ditempuh, tapi untuk apa kaki ini melangkah.

Wallahu a’lam bi showab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *