Hari #25, 9 Oktober – Juz 9

Bismillah

Suasana tawaf selalu padat. Dan sering kelihatan jamaah yang benar-benar berniat ikut apa yang aku sebut sendiri sebagai tawaf war. Bukan ticket war, tapi perjuangan menuju satu titik tertentu, entah mencium Hajar Aswad, menyentuh dinding Ka’bah, atau masuk ke Hijr Ismail.

Seperti yang pernah aku tulis, sebagian besar yang ada di mataf itu peziarah. Orang-orang yang sudah berjuang dengan tenaga, pikiran, dan harta demi mengobati rindu, dan akhirnya sampai juga di sana. Sebagian khusyuk, sebagian entah apa bahasanya. Pokoknya berjuang ke sana.

Aku sendiri kadang kurang nyali untuk ikut-ikutan. Tapi kalau sedang di sana dan melihat kesempatan terbuka, aku ikut juga.

Pernah aku perhatikan strategi mendekati Hajar Aswad. Daripada berdesakan dari tengah, lebih baik melipir dari dinding Ka’bah, lalu bergeser satu demi satu menunggu giliran. Dan berhasil.

Pernah juga mendekati Hijr Ismail, tiba-tiba pintu yang biasanya ditutup, dibuka di depanku. Tanpa ragu, tanpa rencana langsung masuk dan sempat shalat di dalamnya.

Dan ada cerita waktu tawaf berdua

Suatu kali tawaf bersama istri, lalu tiba-tiba dia hilang dari pandangan. Aku biarkan saja. Di akhir tawaf kami bertemu lagi, dan dia bercerita bahwa dia mendapat kesempatan mendekat ke Ka’bah.

Ya sudah, biarlah. Aku sendiri tidak mau mengajak istri berdesakan, kasihan. Memang tergantung momen.

Kenapa Hijr Ismail jadi rebutan

Ada sejarahnya, dan ini yang membuat tempat itu istimewa.

Ketika Quraisy membangun ulang Ka’bah sebelum masa kenabian, dana halal yang terkumpul tidak cukup, sehingga sebagian fondasi Ibrahim ditinggalkan di luar. Bagian itulah yang kita kenal sebagai Hijr Ismail.

Nabi pernah menyampaikan kepada Aisyah bahwa seandainya kaumnya tidak baru saja meninggalkan masa jahiliyah, beliau akan membangunnya kembali sesuai fondasi Ibrahim. Dan ketika Aisyah ingin shalat di dalam Ka’bah, beliau menuntunnya ke Hijr Ismail lalu bersabda bahwa kalau ingin masuk Ka’bah, shalatlah di situ, karena itu bagian dari Baitullah.

Sekitar tahun 64 Hijriah, Abdullah bin Zubair benar-benar melakukannya. Ka’bah dibangun ulang sesuai fondasi Ibrahim, Hijr Ismail dimasukkan ke dalam dinding, dan dibuat dua pintu.

Bentuk itu cuma bertahan sekitar sembilan tahun. Pada tahun 73 Hijriah, Hajjaj bin Yusuf merebut Makkah atas perintah Abdul Malik bin Marwan, dan mengembalikan bangunannya ke bentuk Quraisy. Hijr Ismail dikeluarkan lagi, pintu keduanya ditutup.

Jadi selama sembilan tahun itu, orang yang tawaf mengelilingi bangunan yang bentuknya berbeda dengan yang kita kelilingi hari ini.

Yang dikatakan juz ini soal cara meminta

Al-A’raf menyebut bagaimana semestinya kita berdoa.

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raf: 55)

Dua kata kuncinya, tadharru’ dan khufyah. Merendah dan lirih. Dan ujungnya peringatan supaya tidak melampaui batas.

Ayat berikutnya menyambung dengan larangan berbuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki, lalu perintah berdoa dengan rasa takut dan penuh harap.

Kalau dibaca di tengah mataf yang padat, dua ayat itu terasa seperti sedang mengatur cara kita berebut.

Mencium Hajar Aswad itu sunah, bukan wajib. Masuk Hijr Ismail juga bukan rukun. Semuanya keutamaan, dan keutamaan tidak pernah boleh didapat dengan cara menyakiti orang lain. Umar bin Khattab sendiri pernah berkata kepada Hajar Aswad bahwa dia tahu batu itu tidak bisa memberi manfaat atau mudarat, dan dia menciumnya semata karena melihat Nabi melakukannya.

Al-Anfal di juz ini menambahkan satu peringatan lagi.

وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْا

“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang, dan bersabarlah.” (Al-Anfal: 46)

Ayat ini aslinya tentang barisan perang. Tapi pesannya terpakai di mana saja ada banyak orang bergerak bersama menuju satu arah.

Soal kesempatan yang datang sendiri

Dari pengalamanku, yang paling enak justru yang tidak diperjuangkan mati-matian.

Pintu Hijr Ismail yang kebetulan terbuka. Jalur di dekat dinding yang kebetulan lowong. Dan istri yang mendapat kesempatan mendekat justru ketika terpisah dari suaminya.

Semuanya datang sendiri. Yang kita lakukan cuma ada di sana, memperhatikan, dan masuk ketika jalannya terbuka.

Kalau jalannya tidak terbuka, ya tidak apa-apa. Sembilan tahun lamanya orang bertawaf mengelilingi Ka’bah dengan Hijr Ismail di dalamnya, dan sesudah itu tidak pernah lagi. Bentuk bangunannya saja berubah-ubah sepanjang sejarah, dan yang tetap cuma satu, yaitu kepada siapa semua itu ditujukan.

Wallahu a’lam bi showab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *