20 Maret, Juz 20
Bismillah.
Hari ini ada rentetan tiga kisah besar di Juz 20. Dari kisah-kisah itu, aku menemukan benang merah yang sangat indah tentang seni mendidik, membimbing, dan mengantarkan hidayah. Sesuatu yang terasa sangat penting untuk kupahami sebagai seorang ayah.
Pertama, dari kisah Surah An-Naml tentang Nabi Sulaiman, aku belajar bagaimana seharusnya sikap seorang pendidik. Di akhir surat itu, digambarkan sosok nabi dengan kekuasaan yang begitu besar, menguasai jin, memahami bahasa hewan, dan memiliki kerajaan yang luas.
Tapi yang ditonjolkan bukan arogansi kekuatannya, melainkan kelembutan dan kerendahan hatinya. Ketika melihat kelimpahan nikmat itu, beliau justru berkata:
Hadza min fadhli rabbi liyabluwani a’asykuru am akfur.
Ini adalah karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur (QS. An-Naml: 40).
Sebagai orang tua, aku punya otoritas atas anak-anakku. Tapi Sulaiman mengajarkan, kekuasaan itu harus dibungkus dengan kelembutan dan kesadaran bahwa semuanya adalah ujian dari Allah, bukan alasan untuk memaksakan kehendak. Memiliki kuasa bukan berarti kita bisa menguasai hati mereka.
Kedua, kisah bergeser ke Ratu Balqis. Dari sini aku belajar melihat dari sudut pandang mereka yang sedang dididik, yaitu anak-anakku. Ratu Balqis gambaran manusia yang cerdas, punya logika, dan tidak gegabah. Ketika dakwah Sulaiman sampai kepadanya, ia tidak langsung menolak, tapi juga tidak serta-merta menerima. Ia butuh waktu untuk memprosesnya.
Hingga akhirnya, setelah melihat sendiri kebenaran itu, ia berkata:
Rabbi inni zhalamtu nafsi wa aslamtu ma’a sulaimana lillahi rabbil ‘alamin.
Ya Tuhanku, sungguh aku telah menzalimi diriku, dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah (QS. An-Naml: 44).
Ratu Balqis terasa begitu dekat dengan gambaran anak-anak hari ini. Anak-anak zaman now yang tumbuh dengan limpahan informasi, yang cerdas, tapi juga butuh bimbingan. Mereka tidak selalu langsung menolak, tapi juga tidak langsung menerima.
Menghadapi mereka butuh kesabaran yang berbeda. Seringkali aku menuntut anak-anakku berubah saat ini juga. Padahal bisa jadi saat mereka merespons tidak sesuai harapanku, itu bukan pembangkangan. Mungkin mereka hanya sedang memproses. Diamnya hari ini, bisa jadi proses yang belum selesai.
Menanamkan kebaikan memang tidak pernah instan.
Ketiga, masuk ke Surah Al-Qasas, aku dihadapkan pada kisah Ibunda Nabi Musa. Inilah puncak dari proses pendidikan itu, kesadaran akan batas kemampuan kita.
Fir’aun mengeluarkan perintah kejam untuk membunuh setiap bayi laki-laki. Allah memberi ilham kepada Ibu Musa:
Wa awhayna ila ummi musa an ardhi’ihi fa idza khifti ‘alaihi fa alqihi fil yammi.
Kami ilhamkan kepada ibu Musa: susuilah dia, dan jika engkau khawatir terhadapnya, maka lemparkanlah dia ke sungai (QS. Al-Qasas: 7).
Setelah menyusui dan merawat, cara ibu Musa menyelamatkan anaknya justru dengan melepaskannya ke arus sungai yang deras. Bentuk cinta yang paling sulit, menjaga dengan cara melepaskan.
Mendidik anak ternyata gabungan dari ketiga kisah ini. Aku mendekati anak-anakku dengan kelembutan otoritas seperti Sulaiman, bersabar menghargai proses dan waktu mereka seperti yang dilakukan Balqis, dan pada akhirnya harus sadar bahwa aku tidak bisa menggenggam mereka selamanya, seperti yang diteladankan ibu Musa.
Cinta tertinggi seorang ayah kepada anaknya mungkin justru terletak pada keberanian untuk melepaskan mereka ke arus kehidupan, sambil menitipkan penjagaan sepenuhnya kepada Allah.
Ini terasa sangat relevan di penghujung Ramadhan. Sebulan ini aku menggenggam erat keluarga dengan rutinitas ibadah. Tapi sebentar lagi Ramadhan akan pergi. Suka atau tidak, aku harus melepaskan anak-anak kembali ke dunia mereka, ke pergaulan, kost, sekolah, dan arus kehidupan yang sesungguhnya.
Tugasku hanyalah membekali mereka selagi mereka ada dalam pelukanku. Selebihnya, hidayah dan penjagaan adalah milik Allah.
Perjalanan hidup anak-anakku kelak harus kutitipkan kepada Sang Pemilik Kehidupan. Mengayomi dengan kelembutan, bersabar menghargai prosesnya, lalu melepaskannya dengan tawakal.
Wallahu a’lam.

