Hari ke lima belas, 29 September, Juz 29
Bismillah
Kemarin aku menulis tentang shalat Jumat sebagai madrasah mingguan yang selama ini kadang aku lewatkan begitu saja. Hari ini pertanyaannya aku teruskan: kalau memang itu madrasah, apa keluarannya?
Berjalan di Kampung Gelam
Aku sedang di Singapura, berjalan-jalan di sekitar Kampong Glam, lalu menelusuri kawasan pusat bisnisnya.
Sambil terus mengagumi fasilitas publik di sana, pikiranku tidak bisa berhenti di satu pertanyaan.
Tahap pertama kita memang tunduk kepada Allah. Apa pun syariatnya, kita ikuti. Itu sudah benar dan memang harus begitu.
Tapi setelah itu apa?
Bagaimana membangun karakter muslim yang pada akhirnya sanggup membangun peradaban? Apa korelasi antara ketundukan dan madrasah-madrasah yang kita jalani dengan hasil karya kita?
Untuk kehidupan akhirat, insyaAllah itulah yang paling kita harapkan. Tapi kemakmuran dunia juga mestinya jadi komitmen. Bukan sekadar bonus.
Masjid yang dibangun seorang pedagang perempuan
Di kawasan itu ada Masjid Hajjah Fatimah, yang jadi salah satu ikonnya. Aku sempat membaca sekilas siapa beliau.
Hajjah Fatimah binte Sulaiman adalah saudagar perempuan dari Melaka yang menikah dengan seorang bangsawan Bugis, lalu menetap dan berdagang di Singapura. Kaya, berpengaruh, punya kapal dagang sendiri.
Rumahnya pernah dirampok dan dibakar. Dia selamat. Dan sebagai rasa syukur atas keselamatannya, di atas tanah bekas rumah itu dia membangun masjid, sekitar tahun 1846. Masjid itu masih berdiri sampai sekarang, dan menaranya yang sedikit miring jadi penanda kawasan.
Keturunannya meneruskan jejak itu. Cucunya mewarisi kekayaannya, dan keluarga itu dikenal dermawan. Mereka membangun sekolah, menyumbang untuk komunitas, mengurus banyak kepentingan umat di kota ini.
Mereka orang-orang yang punya prestasi dunia. Pedagang yang berhasil, sekaligus dermawan yang meninggalkan bangunan yang masih dipakai orang hampir dua abad kemudian.
Pada akhirnya pengaruh keluarga itu meredup, karena berbagai keadaan, termasuk datangnya kekuasaan kolonial Eropa. Tapi jejaknya tidak hilang.
Aku berdiri di sana dan berpikir: ini contoh keluaran yang aku maksud. Ketundukan yang berbuah bangunan, sekolah, dan komunitas.
Lalu apa kata juz hari ini
Aku terlalu jauh kalau ingin meniru mereka. Tapi juz hari ini, kalau dibaca sebagai daftar keluaran madrasah, isinya jelas sekali.
Pertama, ukurannya bukan banyak, tapi baik.
الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا
“Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2)
Ahsanu ‘amala, yang paling baik amalnya. Bukan aktsaru ‘amala, yang paling banyak amalnya.
Kedua, ada bangun malam.
يٰٓاَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ ۙ قُمِ الَّيْلَ اِلَّا قَلِيْلًا
“Wahai orang yang berselimut, bangunlah pada malam hari, kecuali sedikit darinya.” (Al-Muzzammil: 1–2)
Menariknya, ini perintah paling awal yang turun kepada Nabi, sebelum beliau diminta keluar menghadapi masyarakat. Bekal malam dulu, baru kerja siang.
Ketiga, ada shalat yang dijaga terus-menerus.
اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا ۙ اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًا ۙ وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا ۙ اِلَّا الْمُصَلِّيْنَ
“Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan dia jadi kikir, kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat.” (Al-Ma’arij: 19–22)
Dua penyakit disebut sekaligus: mengeluh ketika susah, dan kikir ketika senang. Dan obat keduanya satu: shalat yang dijaga.
Keempat, ada memberi makan.
وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا ۙ اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanmu hanyalah karena mengharap wajah Allah, kami tidak menghendaki balasan darimu dan tidak pula ucapan terima kasih.” (Al-Insan: 8–9)
Perhatikan dua hal yang ditolak: balasan dan ucapan terima kasih. Bukan hanya uangnya yang tidak diharapkan, tapi juga rasa berutang budi dari yang menerima.
Dan di surat lain, peringatannya lebih tegas lagi:
وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ
“Dan janganlah engkau memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak.” (Al-Muddatstsir: 6)
Jadi kalau dirangkum, keluaran madrasah itu kira-kira begini: malam yang dipakai, shalat yang dijaga, mulut yang tidak mengeluh, tangan yang tidak kikir, dan pemberian yang tidak berhitung.
Itu semua bukan amalan yang terlihat dari luar. Tapi dari situlah orang seperti Hajjah Fatimah bisa muncul. Orang tidak membangun masjid di atas tanah rumahnya yang terbakar kalau hatinya masih sibuk menghitung kerugian.
Apakah ini tahap pertama atau tahap kedua?
Ini yang perlu aku luruskan dari pertanyaanku sendiri tadi.
Aku tadi bertanya, setelah tunduk, apa berikutnya. Seolah ada tahap kedua yang terpisah.
Ternyata tidak terpisah. Perintah bangun malam dan perintah memberi makan itu sama-sama syariat. Sama-sama bagian dari ketundukan. Bedanya, yang satu dikerjakan sendirian dalam gelap, yang satu dikerjakan untuk orang lain di siang hari.
Jadi bukan dua tahap. Satu tahap, dua arah.
Dan yang membuat sebuah peradaban berdiri bukan salah satunya saja. Orang yang rajin bangun malam tapi tidak peduli tetangganya tidak membangun apa-apa. Orang yang membangun sekolah tapi tidak pernah sujud juga tidak sedang membangun peradaban yang kita maksud.
Yang masih hilang dariku
Aku sering membangkitkan kembali perasaan saat shalat di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.
Dikelilingi orang asing, di tempat yang asing, tapi ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Dan aku merindukan suasana itu.
Tapi aku tahu, rindu seperti itu bisa berubah jadi jebakan. Kita jadi menunggu tempat, padahal yang diminta bukan tempatnya.
وَاَنَّ الْمَسٰجِدَ لِلّٰهِ فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللّٰهِ اَحَدًا
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu menyembah siapa pun di dalamnya selain Allah.” (Al-Jinn: 18)
Yang dimuliakan dari masjid adalah kepada siapa ibadah di dalamnya ditujukan.
Maka suasana itu harus bisa aku bangkitkan di mana pun. Termasuk di sisi tempat tidurku sendiri, pada sepertiga malam, tanpa penerangan megah dan tanpa ribuan jamaah di sekeliling.
Kalau di Masjidil Haram aku bisa khusyuk karena suasananya, itu belum tentu prestasi. Suasana di sana memang membantu siapa saja.
Yang sesungguhnya diuji adalah apakah aku bisa menghadirkan rasa itu di kamar sendiri? tanpa siapa pun melihat.
Ujian yang sebenarnya dimulai sesudahnya
Hajjah Fatimah membangun masjidnya hampir dua abad lalu. Keluarganya membangun sekolah. Pengaruh mereka akhirnya meredup, tapi bangunannya masih dipakai orang sampai hari ini.
Aku tidak sedang bermimpi meninggalkan sesuatu sebesar itu. Tapi pertanyaannya tetap berlaku untuk siapa saja.
Kalau seratus hari ini selesai, kalau nanti perjalanan itu terlaksana, lalu apa?
Madrasah yang baik tidak diukur dari khidmatnya upacara penutupan. Diukur dari apa yang dikerjakan lulusannya setelah pulang.
Apakah kita bisa jadi alumni yang bisa membangun peradaban?






