30 Juli, Juz 30, penutup

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, akhir Juli 2026, tidak terasa sudah 7 bulan membiasakan one day one juz, membaca dan menulis. Memang akhir-akhir ini kedodoran. Beberapa juz terakhir baru sempat ditulis susulan di Agustus, bukan lagi mengikuti tanggal aslinya. Sempat muncul godaan untuk bilang ke diri sendiri bahwa targetnya terlalu berat, tapi itu terasa kaya mau menyerah menghadapi standar yang aku buat sendiri. Aku kuatkan aja mauku, yaitu mencari kesempatan meningkatkan kapasitas, bukan mengecilkan target supaya lebih mudah dicapai.

Ini mirip dengan situasi melihat saldo tabungan yang mengering. Dengan banyaknya kebutuhan dan mahalnya harga-harga, aku tahu, harus irit. Tapi pilihan dan doa yang aku panjatkan justru bukan sekadar menahan diri, panjatkan, “Ya Allah, jadikan aku sebagai wasilah-Mu untuk meneruskan rezeki hamba-hamba-Mu lewatku.” Bukan mengecilkan harapan supaya sesuai kondisi yang menipis, tapi memohon kapasitas yang diperluas, supaya tetap bisa jadi jalan kebaikan buat orang lain, bahkan di saat kondisi sendiri sedang terasa sempit.

Ada satu model di buku The Decision Book (Krogerus & Tschäppeler) yang belum pernah dibahas di jurnal ini, namanya The Pareto Principle, subjudulnya “Why 80 per cent of the output is achieved with 20 per cent of the input”, dari bab How to Understand Others Better. Prinsip ini pertama kali diamati ekonom Italia Vilfredo Pareto di awal abad ke-20, delapan puluh persen kekayaan Italia dimiliki dua puluh persen penduduknya. Pola serupa berulang di banyak bidang, dua puluh persen pekerja menghasilkan delapan puluh persen output kerja, dua puluh persen klien menyumbang delapan puluh persen omzet perusahaan, bahkan delapan puluh persen keputusan rapat diambil dalam dua puluh persen waktu yang tersedia.

Dengan situasi target yang kedodoran ini, Pareto Principle mengajak melihat ulang bukan dari sisi mengecilkan target keseluruhan, tapi dari sisi mengenali dua puluh persen usaha mana yang sebenarnya menghasilkan delapan puluh persen hasil. Beberapa juz yang tertulis lengkap dengan riset mendalam mungkin memang butuh waktu lebih panjang, tapi mungkin juga ada pola tertentu, momen atau kondisi tertentu, yang justru paling produktif menghasilkan tulisan, dan pola itu yang perlu dikenali serta diperbanyak, bukan menuntut semua hari punya kapasitas sama persis.

Ada hikmah penting dari surat penutup Juz 30 ini, Al-Insyirah.

Ayat 1-8
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ ﴿١﴾ وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ ﴿٢﴾ الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ ﴿٣﴾ وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ ﴿٤﴾ فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿٥﴾ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿٦﴾ فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ ﴿٧﴾ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَب ﴿٨﴾
“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu, dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu, yang memberatkan punggungmu, dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

Beban yang memberatkan punggung di ayat 2-3 itu terasa dekat sekali dengan rasa kedodoran menyelesaikan proyek ini. Tapi ayat 5-6 menegaskan dua kali berturut-turut, kemudahan itu datang berdampingan dengan kesulitan, bukan menggantikannya, dan ayat 7-8 menutup dengan perintah untuk terus bergerak begitu satu urusan selesai, sambil menggantungkan harapan hanya kepada Allah.

Benang merah ini ternyata relevan jauh lebih luas dari sekadar target menulis harian. Berlaku juga untuk target KPI tim maupun target pribadi di pekerjaan. Aim high itu bukan masalah, bahkan semestinya tetap dipertahankan, karena Al-Insyirah sendiri tidak pernah menyuruh menurunkan level tugas kenabian yang berat. Yang perlu digeser justru fokusnya, dari “apakah targetnya harus dikecilkan” menjadi dua pertanyaan lain yang lebih produktif.

Pertanyaan why, kenapa target itu penting dikejar, apa yang melapangkan dada di baliknya, karena target yang dikejar tanpa why yang jelas gampang terasa sebagai beban murni tanpa makna, persis seperti wizr yang memberatkan punggung di ayat 2-3. Pertanyaan how, dan di sinilah Pareto masuk, dua puluh persen aktivitas mana dari seluruh rencana kerja yang sebenarnya paling menentukan delapan puluh persen pencapaian KPI, supaya energi dan waktu yang terbatas dialokasikan ke titik yang paling berpengaruh, bukan tersebar rata ke semua hal dengan bobot yang sama.

Jadi bukan menurunkan angka target tim atau pribadi supaya lebih mudah dicapai, tapi memperjelas why di baliknya supaya dadanya lapang menjalani prosesnya, dan menajamkan how lewat dua puluh persen usaha yang paling berdampak, supaya kapasitas nyata bertambah, bukan sekadar standar yang diturunkan.

Dengan rutinitas harian ini semua, aku percaya Allah SWT akan selalu memudahkan, dan memberikan berkah.

وَاللَّهُ لَا يُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News