Si Bungsu yang Rajin, dan Ayah yang Tidak Mau Ketinggalan Momennya

Hari Ahad ini aku kembali antar jemput si bungsu. Kali ini untuk try out di bimbingan belajarnya.

TO memang sering jatuh di hari libur. Jadi dari kemarin aku sengaja meluangkan waktu dan menunda beberapa hal lain yang sebenarnya juga menunggu. Tidak apa-apa, toh yang lain bisa dikerjakan besok, sementara yang ini tidak bisa diwakilkan.

Sambil menunggu di warung kopi sebelah, aku membayangkan masa kecilku sendiri.

Aku dulu tidak sesibuk anak-anakku.

Bimbel dua kali seminggu, oke, aku juga dulu begitu. Tapi waktu kelas tiga, dan itu pun SMA. Ini si krucil masih SMP. Dulu aku les bahasa Inggris, sekarang kayaknya anak-anak sudah belajar sendiri dari YouTube, ngomongnya sudah seperti orang bule, jadi tidak perlu lagi.

Sekarang isinya bimbel, les gambar di sekolah, ditambah tematik di rumah.

Kalau hari bimbel, dia berangkat dari rumah jam enam pagi untuk sekolah, pulang sekolah langsung lanjut bimbel, dan baru sampai rumah setengah sembilan malam. Begitu sampai, tenaganya tinggal sisa, dan besok paginya jam enam berangkat lagi.

Kok ya capek banget ya.

Aku tidak tahu apakah memang begini zamannya, atau kita yang terlalu banyak mengisi jadwal anak. Yang jelas kalau dibandingkan dengan masa kecilku, bedanya jauh sekali.

Yang dia minta sepulang les

Si bontot ini, walau tidak setiap minggu, biasanya minta ditraktir sepulang les.

Iya sih di rumah sudah ada makanan. Tapi biar dia semangat, boleh lah sesekali menikmati kesukaannya. Aku menemani saja, tidak ikut pesan.

Ahad ini pun begitu. Selesai TO, wajahnya langsung sumringah begitu tahu kami mampir ke makanan favoritnya.

Dan ini yang aku anggap quality time dengan si bungsu. Bukan acara khusus, bukan liburan yang direncanakan jauh-jauh hari, bukan juga foto-foto di tempat bagus. Cuma duduk di tempat makan sambil melihat dia lahap, sesekali dia cerita ini itu.

Kalau dipikir-pikir, momen seperti ini yang nanti akan hilang sendiri. Beberapa tahun lagi dia tidak perlu diantar, dan kalaupun mau makan di luar, besar kemungkinan maunya sama teman-temannya.

Setahun ini aku mengurangi jatah sendiri

Sudah setahun atau lebih aku sengaja mengurangi kegiatan hobi pribadi. Hiking bareng teman-teman, touring, ah sudahlah.

Bukan karena tidak ingin. Kadang masih kepingin juga lihat ajakan di grup. Tapi kalau ditimbang-timbang, kayaknya memang lebih nikmat sama anak-anak.

Beberapa minggu lalu, di pesawat menuju Singapura, aku mengobrol dengan seorang ibu yang kira-kira seumuran. Dia sedang dalam perjalanan trip ke Jepang bersama teman-temannya.

Aku agak terkejut. Anak-anak tidak diajak? Suami?

Katanya ada waktunya masing-masing. Di luar musim libur, waktunya jalan dengan teman. Kalau musim tertentu, ada jadwal dengan keluarga besar, ada dengan keluarga mertua, ada dengan keluarga inti. Dan semua anggota keluarga berkomitmen dengan jadwal itu. Kalau mau yang lain, ya cari waktu di luar yang sudah ditentukan.

Katanya itu ajaran orang tuanya, turun-temurun.

Wow, boleh juga.

Aku sambil membayangkan bagaimana caranya mengatur itu. Aku ambil cuti, istri ambil cuti, anak-anak menyesuaikan jadwal sekolah. Tentu lebih sulit buatku karena aku dan istri sama-sama karyawan, sementara buat dia lebih mudah karena pengusaha.

Jadi lumayan buat inspirasi untuk jadi pengusaha, ha ha ha.

Tapi kalau dipikir lagi, yang bisa aku ambil dari dia sebenarnya bukan soal pengusaha atau karyawan. Yang dia punya itu jadwal yang disepakati, dan semua orang menghormatinya.

Itu bisa dikerjakan siapa saja, cuma skalanya yang berbeda. Tidak harus trip ke Jepang. Bisa jadi cuma satu akhir pekan dalam sebulan yang memang jatahnya anak-anak, dan tidak boleh diganggu urusan lain.

Punya jatah yang jelas, lalu ditepati. Soal ini aku perlu pikirkan lagi.

Sambil melihat dia makan

Doa ayah dan bunda selalu untuk kebaikanmu, Nak.

Semoga semua yang kamu korbankan untuk belajar, pagi yang kepagian dan malam yang kemalaman itu, jadi sebab kebaikan untuk kamu dan untuk keluargamu nanti.

Sayang kamu, dan terus mendukung kamu.

 
 
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *