Hari #21, 5 Oktober – Juz 5
Bismillah
Haji tahun 2022 itu aku jalani sambil menemani istriku, yang bertugas sebagai dokter pendamping rombongan haji ONH plus.
Jadi ini cerita dari sisi pendamping. Wajar kalau kurang detail atau kurang lengkap, karena memang bukan aku yang menangani.
Sejak perkenalan pertama di forum manasik, istriku sudah menyiapkan strateginya. Mulai dari obat apa saja yang perlu dibawa, dengan memahami penyakit apa yang umum di kalangan jamaah, sampai bagaimana nanti cara melayani pasien. Soal praktik, apakah ada jam buka dan jam tutup atau bagaimana, itu pun dibicarakan.
Dia juga mengusulkan pendataan penyakit yang sedang diderita jamaah, termasuk saran agar dilakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh sebelum berangkat. Gunanya dua. Pertama untuk memahami risiko jamaah yang punya penyakit bawaan. Kedua untuk menyiapkan penanganannya, baik obat maupun strategi perawatannya.
Berangkat di tahun yang serba dag dig dug
Ini haji pertama setelah dua tahun ditutup karena pandemi. Tahun itu Arab Saudi membuka kuota satu juta jamaah dari dalam dan luar negeri, jauh di bawah angka normal yang sekitar dua setengah juta. Indonesia kebagian seratus ribu jamaah lebih sedikit, ditambah sekitar seribu sembilan ratus petugas.
Ada juga batas usia, hanya yang di bawah enam puluh lima tahun yang boleh berangkat. Secara tugas, itu sebenarnya keringanan besar buat dokter rombongan. Jamaah lansia yang biasanya paling banyak membutuhkan penanganan tahun itu tidak ada sama sekali.
Dan kami harus swab sebelum berangkat. Syaratnya PCR negatif maksimal tujuh puluh dua jam sebelum terbang.
Bisa dibayangkan gelisahnya. Kalau tiba-tiba positif, bagaimana?
Alhamdulillah tidak ada kabar yang positif dari rombongan kami, dan perjalanan lancar.
Sampai di Makkah, kami tinggal di sebuah hotel bersama jamaah dari Rusia dan dari Eritrea, kalau tidak salah.
Suara batuk yang menggema
Protokol pencegahan Covid masih dijalankan. Disiplin masker dan segala macamnya.
Tapi sebenarnya, kapan pun musimnya, penyakit yang paling gampang menyebar di Makkah dan Madinah memang itu-itu juga. Batuk dan pilek.
Dan kalau sudah shalat berjamaah di masjid, tinggal pasrah. Suara batuk menggema dari segala arah. Depan, belakang, kanan, kiri. Ribuan orang dari puluhan negara berkumpul di satu ruangan, dan sebagian besar sedang kelelahan.
Yang bisa dilakukan cuma berdoa semoga tetap sehat dan dikuatkan.
Pasien pertama
Seorang rekan jamaah kami, demam. Dan demamnya ternyata sudah dibawa dari Indonesia.
Ya seperti itu. Sakit ditahan-tahan, jangan sampai gagal berangkat.
Ternyata demam berdarah.
Istriku langsung mencari informasi ke mana harus merujuk, dan dapat info soal KKHI, Klinik Kesehatan Haji Indonesia. Dengan bantuan pengurus rombongan kami dipesankan Grab dan berangkat ke sana. Pendampingnya ikut, dong.
Di sana ketemu yunior istriku, dan prosesnya jadi mudah. Trombositnya rendah, ciri khas DBD, tapi belum sampai batas yang mengkhawatirkan. Dicek hari berikutnya sudah naik, bukan sebaliknya. Alhamdulillah. Jadi tinggal pemulihan sebelum hari Arafah.
Pasien berikutnya lebih berat, penyakit jantung, diderita seorang hakim. Beliau harus menginap di rumah sakit.
Qadarullah, ketika tulisan ini aku buat, beliau sudah berpulang ke rahmatullah. Semoga hajinya mabrur, dan semoga Allah memberikan ampunan serta balasan terbaik untuk beliau.
Beda cara memandang
Waktu istriku merasa perlu membawa pasien ke rumah sakit dan mencari informasi rumah sakit, jawabannya tidak langsung ada.
Mungkin cara orang memandang jamaah yang sakit memang berbeda-beda. Buat sebagian orang, kurang enak badan di tengah perjalanan itu hal biasa, cukup istirahat dan nanti pulih sendiri. Rumah sakit baru dipikirkan kalau keadaannya sudah berat.
Istriku melihatnya dari sisi yang lain. Justru yang dia inginkan mencegah supaya tidak sampai berat. Diagnosis dulu di depan, periksa ke rumah sakit supaya pemeriksaannya lengkap. Kalau ternyata aman, baru beristirahat di hotel dengan tenang.
Dan alhamdulillah akhirnya tetap sampai ke KKHI.
Praktik di kamar hotel
Selain dua kasus berat itu, sisanya pelayanan rutin. Yang paling banyak batuk pilek, radang tenggorokan, sakit perut, nyeri ulu hati.
Seorang jamaah pernah diperiksa di ruang makan karena mengeluh sakit di perut bagian atas. Kalau ketemu jamaah lain, bahasannya ya itu-itu saja. Obatnya berapa kali sehari, minta obat lagi, dan seterusnya.
Siang hari sering ada ketukan di pintu kamar, pasien mencari. Dan di dalam kamar, istriku sibuk dengan buku catatan dan obat-obatan yang berantakan di mana-mana.
Ada satu pasien dengan keluhan batuk yang menarik. Dia bercerita sudah mondar-mandir ke berbagai dokter di Jakarta, bermacam obat dicoba, tapi belum juga sembuh sampai hari keberangkatan.
Mendengar itu istriku bingung. Apa lagi yang bisa diberikan, sementara yang ada di sana serba terbatas, baik fasilitas maupun kemampuan penanganannya. Akhirnya seadanya saja, diberi antibiotik.
Qadarullah, beberapa hari kemudian justru sembuh. Hikmah haji, insyaAllah.
Di Madinah aku sering memperhatikan para petugas haji yang berjaga. Mereka berseragam, punya tanda pengenal yang jelas, dan ditempatkan di titik-titik tertentu. Tugasnya mengarahkan, mengantar yang kesulitan, jadi tempat bertanya. Anak-anak muda yang terlihat sigap.
Yang di luar urusan sehat dan sakit
Ternyata jadi dokter rombongan itu bukan cuma mengurus yang sakit lalu sembuh.
Ada rombongan lain yang jamaahnya wafat. Dan di sana kita memang terus-menerus diingatkan soal kematian. Hampir setiap selesai shalat fardhu, jamaah diminta berdiri lagi untuk shalat jenazah.
Jenazah siapa, kita tidak tahu. Dari negara mana, juga tidak tahu. Tapi kita tetap berdiri dan menshalatkannya.
Juz hari ini punya ayat untuk keadaan seperti itu.
وَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ
“Dan barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya, maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah.” (An-Nisa: 100)
Ayat ini turun tentang orang yang berhijrah. Tapi maknanya menenangkan siapa pun yang keluar dari rumahnya menuju Allah lalu tidak sempat sampai, atau sampai tapi tidak sempat pulang.
Pahalanya sudah ditetapkan. Bukan tergantung selesai atau tidak.
Jamaah dari jauh yang ternyata ramah sekali
Karena hotelnya bercampur dengan jamaah dari negara lain, kesempatan bersapa jadi banyak.
Aku sempat mengobrol dengan jamaah dari Moskow dan dari Dagestan. Ramah sekali, dan bahasa Inggrisnya bagus. Obrolannya ringan saja, tapi rasanya lain ketika kita sadar sedang berbicara dengan orang yang datang dari arah yang sama sekali berbeda, untuk tujuan yang persis sama.
Dan juz ini punya ayatnya juga.
وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَا
“Dan apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu salam, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa.” (An-Nisa: 86)
Di sana aturan itu jadi sangat gampang dipraktikkan, karena tidak ada yang punya kepentingan apa pun terhadap kita. Tidak ada yang sedang menjual, tidak ada yang sedang menilai. Orang menyapa karena memang ingin menyapa.
Soal amanah
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (An-Nisa: 58)
Mengurus perjalanan ibadah orang lain itu amanah. Dan amanahnya bukan cuma mengantar sampai ke sana. Ada badan orang yang dititipkan, ada keluarga di rumah yang menunggu kabar.
Memahami dasar penanganan jamaah yang sakit itu bagian dari amanah. Mulai dari pendataan kondisi kesehatan sebelum berangkat, penyiapan obat, sampai memahami kapan seseorang harus dirujuk ke rumah sakit. Sama pentingnya dengan mengatur jam keberangkatan bus.
Dan juz ini juga bicara soal keringanan dalam perjalanan.
وَاِذَا ضَرَبْتُمْ فِى الْاَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَقْصُرُوْا مِنَ الصَّلٰوةِ
“Dan apabila kamu bepergian di bumi, maka tidaklah berdosa kamu mengqashar shalat.” (An-Nisa: 101)
Tapi dua ayat setelahnya langsung ditutup dengan penegasan:
اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا
“Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa: 103)
Diringankan, tapi tidak digugurkan.
Dan kira-kira itu juga yang istriku perjuangkan waktu itu, dalam bahasa yang berbeda. Jamaah yang sakit memang boleh beristirahat dan dapat keringanan. Tapi bukan berarti dibiarkan begitu saja sampai berat.
Wallahu a’lam bi showab.







