Ka’bah Pernah Dilempari, Dibakar, Dibanjiri, dan Batunya Dicuri, Tapi Tetap Didatangi Sampai Hari Ini

Hari #20, 4 Oktober – Juz 4

Bismillah

Kalau dilihat dari kacamata orang biasa, Makkah itu tempat yang tidak masuk akal untuk jadi tujuan.

Tanahnya gersang. Tidak ada sungai, tidak ada sawah, tidak ada apa-apa yang tumbuh dengan sendirinya. Panasnya luar biasa di musim panas, dan dinginnya menggigit di musim dingin.

Tapi setiap muslim ingin ke sana. Yang belum pernah menabung bertahun-tahun untuk bisa datang. Yang sudah pernah ingin kembali lagi.

Juz hari ini menyebut sebabnya dalam satu kata.

اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَ

“Sesungguhnya rumah pertama yang dibangun untuk manusia ialah yang di Bakkah, yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.” (Ali Imran: 96)

Mubarakan. Diberkahi.

Berkah itu bukan soal subur atau nyaman. Berkah itu kebaikan yang terus bertambah dari sesuatu yang secara hitungan seharusnya tidak cukup. Dan lembah tanpa tanaman yang jadi tujuan miliaran orang itu contohnya yang paling jelas.

Rumah yang berkali-kali diserang

Kata diberkahi itu makin terasa kalau kita lihat apa saja yang pernah menimpa rumah itu.

Pasukan Abrahah datang hendak menghancurkannya, dan dihentikan oleh burung-burung kecil.

Tahun 683, dalam pengepungan Makkah, Ka’bah terkena lemparan batu dan terbakar. Menurut sebagian riwayat Hajar Aswad retak dalam peristiwa itu, lalu Abdullah bin Zubair membangun ulang Ka’bah sesuai fondasi Ibrahim. Sembilan tahun kemudian Makkah dikepung lagi, dan bangunannya dikembalikan ke bentuk Quraisy seperti yang kita lihat sekarang.

Tahun 930, kelompok Qaramithah dari arah Bahrain menyerang tepat di musim haji. Mereka membunuh jamaah di dalam Masjidil Haram, lalu mencungkil Hajar Aswad dan membawanya pergi ke negeri mereka. Batu itu hilang sekitar dua puluh dua tahun. Ketika akhirnya dikembalikan, sudah dalam keadaan pecah berkeping-keping. Itu sebabnya sampai hari ini Hajar Aswad yang kita lihat berupa beberapa pecahan yang disatukan dalam bingkai perak.

Banjir berkali-kali merusak bangunannya, yang paling besar tahun 1630.

Tahun 1979, sekelompok bersenjata menguasai Masjidil Haram dan menyandera jamaah di dalamnya selama dua pekan.

Dan ancaman itu belum selesai sampai sekarang. Setiap musim haji, pertahanan udara disiagakan dan ruang udara di atas kawasan ditutup ketat. Sistem penangkal rudal dipasang mengelilingi area. Kita yang datang sebagai jamaah cuma melihat pagar dan antrean pemeriksaan, padahal di atas kepala kita ada lapisan penjagaan yang sama sekali tidak kelihatan.

Lalu tahun 2020 datang hal yang tidak pernah dibayangkan siapa pun. Pandemi covid membuat umrah dihentikan berbulan-bulan, area mataf sempat dikosongkan, dan haji tahun itu digelar sangat terbatas. Foto Ka’bah tanpa orang yang mengelilinginya beredar ke seluruh dunia, dan banyak yang menangis melihatnya.

Dilempari, dibakar, dibanjiri, batunya dicuri, jamaahnya disandera, dan pernah ditinggalkan sepi karena wabah.

Tapi semuanya kembali. Setiap kali.

Dan yang menyerangnya satu per satu sudah lenyap dari muka bumi.

Lalu siapa yang diizinkan datang

Ayat berikutnya menyebut syaratnya.

وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا

“Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.” (Ali Imran: 97)

Mampu. Istitha’ah.

Dan kemampuan itu bukan cuma soal uang. Ada badan yang harus kuat, ada izin juga visa yang harus keluar, ada keamanan di jalan, ada urusan di rumah yang harus bisa ditinggal.

Tahun 2020 mengajarkan itu dengan sangat keras. Ada orang yang uangnya cukup, badannya sehat, visanya sudah di tangan, lalu dunia tiba-tiba menutup pintunya.

Dan kita bisa jadi sebabnya

Beberapa hari lalu aku bertemu seorang sahabat yang mengelola travel umrah, namanya Safar.

Dia banyak berbagi tentang bagaimana seharusnya bisnis umrah dijalankan. Intinya satu: jadikan ladang pahala dengan cara memudahkan calon jamaah sampai ke Haramain. Jadi pelanggan kita atau bukan, itu urusan belakangan.

Kuncinya, kalau melihat kawan atau siapa pun yang punya niat ke sana, beri edukasi dan dorongan supaya niat itu terlaksana. Posisi kita cuma jadi sebab, dan pahalanya diharapkan dari Allah.

Aku senang mendengar itu, karena pas sekali dengan apa yang sedang aku kerjakan lewat madrasah ini.

Istitha’ah bukan cuma urusan orang yang mau berangkat. Kadang yang kurang bukan uangnya, tapi ilmunya. Tidak tahu harus mulai dari mana, tidak tahu bedanya jalur yang satu dengan yang lain, tidak tahu apa yang harus disiapkan.

Dan di situ kita bisa masuk. Bukan untuk menjual apa-apa, tapi untuk membukakan jalan.

Alangkah senangnya kalau bisa jadi sebab orang lain sampai ke sana. Ya Allah, mudahkan lah aku menjadi sebab tersebut.

Yang bertahan bukan pengurusnya

Satu hal lagi dari sejarah tadi.

Rumah itu pernah dikelilingi ratusan berhala selama berabad-abad. Pengurusnya berganti-ganti, dari keturunan Ismail ke kabilah lain, dan tidak semuanya menjaganya dengan baik.

Yang bertahan bukan kesucian pengurusnya. Yang bertahan rumahnya, dan Pemiliknya yang menjaga.

Kita pun begitu. Kalau diberi kesempatan mengurus sesuatu yang mulia, entah mengantar jamaah, mengelola masjid, atau sekadar mengajak orang belajar, jangan merasa yang membuatnya bertahan adalah kita.

Wallahu a’lam bi showab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *