Berat Naik Lagi, Celana Mulai Sempit, Tapi Please Aku Gak Boleh Berhenti

Kondisi hari ini sedang kurang oke. Berat naik, waktu olahraga susah dicari, dan soal makan rasanya balik lagi ke titik yang dulu sudah pernah aku lewati.

Celana yang mulai sempit itu jujur sekali. Perut kelihatan lagi. Dan di kepala muncul pertanyaan yang tidak enak: jadi yang kemarin-kemarin percuma, ya? Sudah lari, sudah sepeda, sudah angkat beban, sudah atur makan, kok balik lagi.

Soal makan memang bagian yang paling melelahkan. Ketemu minyak, ketemu gula, ketemu craving malam-malam. Mau cari jalan lain juga tidak mudah.

Tapi kalau dipikir pelan-pelan, tidak ada yang hilang sepenuhnya. Kebugaran dan otot memang menurun kalau berhenti, itu wajar. Yang tidak hilang adalah pengalamannya. Aku tahu rasanya bisa, tahu caranya, dan tahu tubuhku merespons apa. Orang yang pernah terlatih biasanya lebih cepat pulih saat mulai lagi dibanding yang belum pernah sama sekali. Jadi ini bukan mulai dari nol, cuma mulai dari tengah.

Yoyo itu nyata, dan aku belum menaklukkannya. Tapi hari ini bukan waktunya menghitung kegagalan.

Jadi aku harus ngapain

Satu, bismillah dan luruskan niat. Bukan supaya terlihat bagus, bukan supaya dipuji. Supaya sehat, supaya ibadah lebih ringan, supaya kuat menemani anak-anak dan keluarga, supaya masih bisa beramal selama umur diberi.

Dua, tetapkan jadwal minimal yang pasti bisa dijalankan. Bukan program ideal, tapi yang paling kecil pun tetap dihitung. Tiga puluh menit sehari sudah cukup untuk dimulai.

Tiga, perbaiki satu hal saja dulu di urusan makan. Jangan semuanya sekaligus. Buatku yang paling masuk akal adalah protein dicukupi lebih dulu, karena kalau siang kurang, malamnya pasti balas dendam.

Empat, benahi tidur. Craving malam sering datang karena badan kurang istirahat, bukan karena kurang niat.

Lima, ukur yang lain selain timbangan. Lingkar pinggang, napas saat naik tangga, dan beban yang bisa diangkat.

Enam, siapkan rencana untuk hari yang berantakan. Pasti ada hari rapat padat, dinas, atau badan tidak enak. Yang penting jangan berhenti total, cukup jalan kaki pun tetap dihitung.

Mau tidak mau ini soal disiplin. Tidak ada jalan lain, dan rutinitas yang lain juga tetap berjalan, jadi tidak ada alasan menunggu waktu yang longgar.

Mulai lagi hari ini, pelan saja, tapi jalan terus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *