Datang Satu Jam Sebelum Subuh di Haram Itu Berat Kalau Tidak Dilatih dari Sekarang

Hari #28, 12 Oktober – Juz 12

Bismillah

Dari Ibnu Abbas, Abu Bakar pernah berkata kepada Rasulullah ﷺ, wahai Rasulullah, engkau telah beruban. Beliau menjawab, “Telah membuatku beruban surat Hud, Al-Waqi’ah, Al-Mursalat, Amma yatasa’alun, dan Idzasy syamsu kuwwirat.” (HR. Tirmidzi, dinilai hasan, dan sahih menurut Al-Hakim)

Anas bin Malik pernah menghitung, uban Rasulullah tidak sampai dua puluh helai. Jadi bukan seluruh rambutnya memutih. Tapi penyebabnya bukan urusan dunia atau beratnya hidup, melainkan beberapa surat Al-Qur’an.

Surat Hud memang isinya berat. Hampir seluruhnya kisah kaum yang dibinasakan, dengan pola yang berulang. Diutus seorang nabi, didustakan, lalu azab datang. Surat-surat lain yang disebut dalam hadis itu pun semuanya bicara tentang hari kiamat.

Dan sebagian ulama menyebut satu ayat secara khusus sebagai yang paling berat.

فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

“Maka tetaplah engkau pada jalan yang benar, sebagaimana telah diperintahkan kepadamu, dan juga orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Hud: 112)

Yang berat bukan perintah istiqamahnya saja, tapi tambahannya. Bukan cuma engkau, melainkan juga orang-orang yang bertobat bersamamu.

Kenapa ini jadi inti dari madrasah ini

Aku percaya ibadah seperti umrah dan haji harus disiapkan. Waktunya terbatas, tempatnya jauh, biayanya mahal, dan tenaganya terkuras. Yang disiapkan bukan cuma uang, tapi juga fisik, ilmu, dan kesiapan mental.

Semua itu tidak bisa didapat tanpa latihan, dan latihan tidak akan berhasil tanpa istiqamah.

Yang lebih berat, kalau tujuannya haji dan umrah, istiqamah sebelum berangkat saja tidak cukup. Sesudahnya pun kita dituntut tetap istiqamah dalam takwa. Justru di situ ukuran mabrurnya.

Itu sebabnya madrasah ini aku buat seratus hari, bukan seminggu dua minggu menjelang berangkat.

Contoh yang paling nyata

Supaya tidak mengawang, ini contoh konkretnya.

Kalau sudah di Haram, usahakan datang minimal satu jam sebelum Subuh. Bukan cuma supaya dapat tempat yang menghadap Ka’bah, tapi supaya bisa shalat malam di sepertiga malam terakhir, di tempat yang paling mulia.

Itu pasti berat kalau tidak dibiasakan dari sekarang. Orang yang di rumah saja Subuhnya mepet, tidak mungkin tiba-tiba sanggup bangun jam tiga di sana selama berhari-hari.

Lalu menunggu syuruq setelah Subuh, diisi tawaf, dzikir, atau baca Al-Qur’an. Dan menunaikan seluruh shalat wajib berjamaah di masjid, bukan cuma sebagian.

Semua itu kedengarannya biasa kalau dibayangkan dari rumah. Praktiknya butuh stamina dan kebiasaan yang sudah terbentuk jauh sebelumnya.

Jadi latihannya mulai dari sekarang. Di kantor, di mal, di mana pun, selalu alert dengan waktu shalat, dan mengusahakan di awal waktu serta berjamaah.

Belum lagi rutin infak, berbuat baik kepada sesama, dan tetap menunaikan ikhtiar pekerjaan serta tanggung jawab yang lain.

Ternyata banyak sekali

Ambil yang paling dasar saja, shalat.

Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya. Masing-masing punya waktunya sendiri, dan yang terbaik di awal waktu. Ditambah rawatib yang mengiringinya, ditambah Dhuha, ditambah shalat malam.

Lalu bukan cuma soal jumlah rakaatnya. Diusahakan berjamaah di masjid, bukan sendirian di rumah atau di ruang kerja. Dan bukan cuma hadir lalu selesai, tapi tahu apa yang sedang dibaca dan pikirannya tidak ke mana-mana.

Itu semua baru satu pos. Masih ada tilawah, infak, menjaga lisan, berbuat baik kepada tetangga dan rekan kerja, ditambah tanggung jawab pekerjaan yang tidak boleh ditinggalkan.

Dan tidak ada yang selesai sekali jalan

Ini bagian yang lebih berat.

Kalau urusan dunia, pekerjaan selesai ya selesai. Laporan dikirim, proyek ditutup, lalu pindah ke yang lain.

Ibadah tidak begitu. Subuh hari ini tidak membebaskan kita dari Subuh besok. Infak bulan lalu tidak menggantikan infak bulan ini. Semuanya berulang, setiap hari, sampai ajal datang.

Istiqamah artinya memang itu. Bukan sekali berhasil, tapi terus-menerus.

Dan yang membuat capek biasanya bukan satu ibadahnya, melainkan sadar bahwa besok harus mengulanginya lagi, lusa juga, bulan depan juga.

Dan bukan cuma diriku sendiri

Bagian “dan juga orang yang bertobat bersamamu” di ayat tadi yang paling harus diperhatikan.

Perjalanan nanti, insyaAllah kalau ada kesempatan, adalah perjalanan keluarga. Jadi tugasku bukan cuma menyiapkan diri sendiri, tapi juga mengajak, dan yang paling utama untuk diajak memang keluarga sendiri. Termasuk anak-anak, yang jadwalnya sendiri sudah padat.

Masalahnya, mengajak itu tidak bisa cuma dengan mulut. Kalau aku sendiri masih bolong-bolong, ajakan itu pastilah semakin jauh panggang dari api.

Jalan keluarnya ada di juz ini juga

Yang bagus, juz ini tidak berhenti pada perintah yang berat tadi. Dua ayat setelahnya langsung memberi pegangannya.

وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗ اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِ

“Dan laksanakanlah shalat pada kedua ujung siang dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.” (Hud: 114)

Jadi setelah diperintahkan istiqamah, langsung diberi tahu caranya, sekaligus diberi tahu bahwa kalau ada kesalahan di tengah jalan, kebaikan bisa menghapusnya. Dan yang disebut sebagai pegangan itu justru shalat, persis yang sedang aku latih.

Ada juga kalimat Syu’aib yang melegakan, walau konteks aslinya tentang mengajak kaumnya memperbaiki praktik dagang. Beliau mengatakan bahwa yang diinginkannya hanyalah perbaikan selama masih sanggup, dan bahwa taufik itu hanya dari Allah, lalu menutupnya dengan tawakal. Perbaikan sebatas yang disanggupi, hasilnya diserahkan.

Surat ini pun ditutup dengan perintah yang sama, sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.

Yang aku adukan hari ini

Aku sering yoyo. Semangat, lalu kendor, lalu semangat lagi.

Tanda disiplin belum kelihatan. Perut masih buncit. Ego masih sering menguasai. Shalat masih sering ke mana-mana pikirannya.

Semua itu aku adukan kepada Allah, sambil tetap berikhtiar dengan belajar dan beramal. Walau sedikit, asal terus.

Ya Allah, mudahkanlah, dan jadikan semuanya barakah. Untukku dan untuk keluargaku.

Wallahu a’lam bi showab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *