20 April, Juz 20

Bismillah.

Juz 20 membentang dari An-Naml ayat 56 sampai Al-Ankabut ayat 45, dan di tengahnya ada Surat Al-Qasas yang menampilkan dua ikon kezaliman sepanjang masa. Firaun mewakili kezaliman lewat kekuatan militer dan politik. Qarun mewakili kezaliman lewat modal dan penguasaan ekonomi.

Dua nama, dua cara berkuasa, dan hari ini keduanya diborong sekaligus oleh satu entitas.

Mulai dari Firaun, dan yang dibongkar bukan kekejamannya, melainkan strateginya.

Inna fir’auna ‘alā fil-arḍi wa ja’ala ahlahā syiya’ay yastaḍ’ifu ṭā’ifatam minhum yudzabbiḥu abnā’ahum wa yastaḥyī nisā’ahum, innahū kāna minal-mufsidīn.

“Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia termasuk orang yang berbuat kerusakan.” (QS 28:4)

Urutan kalimatnya yang penting. Ja’ala ahlahā syiya’ā, memecah penduduknya jadi golongan-golongan, disebut lebih dulu sebelum penindasan dan pembunuhannya. Memecah belah itu bukan efek samping dari kekuasaannya, melainkan syarat supaya kekuasaan itu bisa berjalan lama. Rakyat yang bersatu terlalu mahal untuk ditindas.

Taktik itu diadopsi Zionis Israel secara utuh. Mereka paham betul tidak akan sanggup menghadapi umat yang bersatu. Maka Tepi Barat dipisahkan dari Gaza. Faksi-faksi perjuangan Palestina dipecah satu per satu. Di level yang lebih luas, hubungan dinormalisasi dengan sejumlah penguasa negara Arab supaya barisan Arab retak dan Palestina dibiarkan menghadapi pembantaian sendirian. Watak penjajah memang selalu begitu, hancurkan dulu solidaritasnya, sisanya jadi urusan mudah.

Kaki kedua diwakili Qarun, dan sosoknya justru lebih dekat daripada yang kita kira. Secara asal-usul ia bagian dari kaum Musa sendiri, orang Bani Israel yang berbalik menindas saudaranya karena memegang monopoli kapital.

Qāla innamā ūtītuhū ‘alā ‘ilmin ‘indī, a wa lam ya’lam annallāha qad ahlaka min qablihī minal-qurūni man huwa asyaddu minhu quwwataw wa akṡaru jam’ā…

“Dia (Qarun) berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi (harta kekayaan) ini semata-mata karena ilmu yang ada padaku.’ Tidakkah dia tahu bahwa Allah telah membinasakan generasi-generasi sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan (harta)…” (QS 28:78)

Kalimat ‘alā ‘ilmin ‘indī itu inti penyakitnya. Semua ini karena kepintaranku. Bukan karena diberi, bukan karena dititipi, tapi karena aku memang lebih hebat.

Tabiat itu hidup lagi hari ini lewat klaim sebagai bangsa perintis teknologi. Iron Dome, perangkat pengintai Pegasus, sistem kecerdasan buatan untuk menentukan sasaran, ditambah kekuatan lobi ekonomi yang bisa menyetir Amerika. Semua itu diyakini sebagai jaminan bahwa mereka tidak terkalahkan.

Bantahan Al-Qur’an datang langsung di kalimat berikutnya. Allah sudah pernah membinasakan generasi yang jauh lebih kuat dan lebih banyak hartanya. Bukan berarti teknologi itu tidak nyata, tapi tidak satu pun dari itu pernah terbukti sanggup menahan ketetapan Allah.

Dan di antara dua sosok itu, Allah menyelipkan janji yang arahnya berlawanan.

Wa nurīdu an namunna ‘alalladzīnastuḍ’ifū fil-arḍi wa naj’alahum a’immataw wa naj’alahumul-wāriṡīn.

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).” (QS 28:5)

Dulu yang tertindas itu Bani Israel, dan Allah menyelamatkan mereka dari Firaun. Roda itu berputar, dan hari ini entitas Israel yang memerankan Firaun baru atas bangsa Palestina. Maka ayat ini sekarang berlaku untuk pihak yang sedang berada di bawah puing.

Bumi tidak akan diwariskan kepada yang mengandalkan kezaliman, mesin pembunuh canggih, dan uang haram para pelobi senjata. Yang akan diangkat justru mereka yang hari ini bertahan di bawah reruntuhan Gaza.

Jadi peta kekuatan lawan sebenarnya sudah lengkap tergambar. Mereka berdiri di atas dua kaki, kaki politik pecah belah warisan Firaun, dan kaki hegemoni modal serta teknologi warisan Qarun.

Yang sering dilupakan, dua-duanya punya akhir cerita yang sudah tercatat. Firaun tenggelam di laut bersama seluruh pasukannya, dan Qarun ditelan bumi bersama seluruh hartanya. Serapi apa pun rekayasa geopolitik dan secanggih apa pun persenjataan sebuah rezim, begitu jalan kezaliman yang dipilih, sebenarnya mereka sedang menggali liang lahat untuk peradabannya sendiri.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News