1 Agustus, Juz 1
Bismillahirrahmanirrahim.
Bulan ini saya ingin membaca Al-Qur’an sambil membawa satu pertanyaan dari juz ke juz: sebenarnya apa yang dimaksud merdeka. Satu juz sehari mengikuti tanggal, tiga puluh hari sampai tuntas. Bukan karena tiba-tiba jadi lebih nasionalis begitu Agustus datang, tapi karena tiap kali umbul-umbul mulai dipasang di gang depan rumah, saya selalu merasa ada yang belum beres dengan kata itu.
Kita merayakannya setahun sekali dengan panjat pinang dan lomba kerupuk. Lalu sisa tiga ratus enam puluh empat hari kita jalani dengan perasaan yang, kalau mau jujur, tidak selalu terasa seperti orang merdeka.
Dan ternyata jawabannya sudah menunggu di halaman pertama. Bukan di kisah Fir’aun yang tenggelam, bukan di laut yang terbelah. Di tujuh ayat pendek yang saya baca belasan kali setiap hari tanpa pernah benar-benar saya pikirkan.
Pertanyaan yang keliru sejak awal
Selama ini saya membayangkan merdeka itu artinya tidak terikat siapa pun. Bebas menentukan sendiri, tidak tunduk pada apa-apa.
Masalahnya, kalau definisi itu dipakai, tidak ada satu manusia pun di dunia yang merdeka. Kita tidak memilih dilahirkan. Tidak memilih dari rahim siapa, di negara mana, dengan tubuh seperti apa. Tidak memilih kapan berhenti. Kita juga tidak pernah lepas dari kebergantungan: pada udara, pada makanan, pada ribuan orang yang menanam dan mengangkut apa yang kita makan pagi ini tanpa kita tahu namanya.
Jadi kalau merdeka berarti bebas dari segala ikatan, pembicaraan ini selesai sebelum dimulai.
Yang lebih jujur begini: setiap orang pasti sedang menghamba pada sesuatu. Selalu ada yang menentukan jam bangunnya, yang membuatnya mengalah padahal tidak mau, yang kalau hilang rasanya dunia ikut runtuh. Bagi sebagian orang itu pekerjaan. Bagi yang lain pandangan orang, atau uang, atau rasa aman, atau citra diri yang capek dijaga.
Pertanyaannya bukan mau menghamba atau tidak. Pertanyaannya menghamba kepada siapa.
Kalimat yang saya ucapkan tujuh belas kali sehari
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (Al-Fatihah: 5)
Susunan kalimat ini tidak biasa dalam bahasa Arab. Objeknya dimajukan ke depan kata kerja. Bukan na’buduka, “kami menyembah-Mu”, melainkan iyyaka na’budu. Dan pemajuan objek seperti itu punya fungsi khusus: membatasi.
Bedanya besar. “Kami menyembah-Mu” tidak menyingkirkan siapa pun. Bisa saja kita menyembah Allah sambil diam-diam juga menyembah gengsi. Tapi “hanya kepada Engkau” menutup pintu itu. Tidak ada yang lain, titik.
Begitu kalimat itu diucapkan sungguh-sungguh, semua yang lain otomatis turun pangkat. Atasan tetap atasan, tapi dia makhluk. Pasar tetap ada, tapi dia makhluk. Penilaian orang tetap berbunyi, tapi pemiliknya makhluk juga. Mereka boleh dihormati, dilayani, ditaati dalam urusan dunia. Tidak satu pun berhak menentukan harga diri saya.
Teks proklamasi 1945 isinya juga begitu, kalau dipikir-pikir. Bukan mengumumkan bahwa kita kuat, tapi mengumumkan bahwa tidak ada pihak lain yang berhak memerintah negeri ini.
Tuan yang tidak butuh apa-apa dari saya
Di sinilah bagian yang bikin saya diam agak lama waktu memikirkannya.
Semua tuan yang berupa makhluk punya kepentingan sendiri. Atasan butuh angka saya supaya laporannya bagus. Perusahaan butuh tenaga saya. Orang-orang butuh saya berperilaku sesuai selera mereka supaya mereka nyaman. Sedalam apa pun hubungannya, tetap ada unsur pertukaran di dalamnya. Begitu saya berhenti berguna, nilai saya turun. Makanya melayani makhluk selalu melelahkan: harus terus membuktikan diri supaya tetap dipegang.
Ada hadits qudsi panjang riwayat Abu Dzar yang dikeluarkan Imam Muslim, dan di tengahnya ada kalimat ini:
يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي
“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian tidak akan sanggup mendatangkan mudarat kepada-Ku sehingga kalian bisa mencelakakan-Ku, dan kalian tidak akan sanggup mendatangkan manfaat kepada-Ku sehingga kalian bisa memberi keuntungan kepada-Ku.”
Lalu ditegaskan lagi: andai seluruh manusia dan jin, dari yang pertama sampai yang terakhir, memiliki hati setakwa orang paling takwa di antara kita, itu tidak menambah kerajaan-Nya sedikit pun. Dan andai semuanya sefasik orang paling fasik, itu tidak menguranginya sedikit pun.
Coba renungkan akibatnya. Kalau Dia sama sekali tidak diuntungkan oleh ketaatan kita, maka tidak mungkin perintah-perintah itu dirancang untuk keuntungan-Nya. Tidak ada yang bisa Dia peras dari kita. Ini satu-satunya bentuk penghambaan yang tidak eksploitatif di seluruh dunia, karena pihak yang di atas tidak punya kepentingan apa pun atas yang di bawah.
Menghamba pada makhluk membuat kita jadi alat bagi tujuan orang lain. Menghamba pada Allah, perintahnya justru untuk kepentingan kita sendiri. Di situlah letak merdekanya. Itu bukan permainan kata.
Satu tuan, atau banyak tuan yang bertengkar
Al-Qur’an memakai perumpamaan perbudakan untuk menjelaskan hal ini:
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَّجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا
“Allah membuat perumpamaan, (yaitu) seorang laki-laki (hamba sahaya) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat, (tetapi) dalam perselisihan, dan seorang (hamba sahaya) yang menjadi milik penuh seorang (saja). Apakah keduanya sama keadaannya?” (Az-Zumar: 29)
Perhatikan, tidak ada opsi ketiga di situ. Tidak ditawarkan budak yang bebas. Pilihannya cuma dua: satu tuan, atau banyak tuan yang saling bertengkar.
Karena memang begitu kenyataannya. Orang yang merasa dirinya bebas dari Tuhan sebetulnya tidak sedang berdiri sendiri. Dia sedang melayani banyak pihak sekaligus yang maunya bertabrakan. Kantor minta lembur, anak minta ditemani, gengsi minta gaya hidup tertentu, badan minta istirahat, linimasa minta citra. Semuanya menarik ke arah berbeda dan tidak ada yang mau mengalah.
Itu bukan kebebasan. Itu perbudakan berjamaah, dan yang robek adalah orangnya.
Menyerahkan diri pada satu otoritas yang menaungi semuanya justru mengembalikan keutuhan. Saya masih bekerja, masih menghormati atasan, masih menjaga hubungan dengan banyak orang. Bedanya sekarang semua itu punya atasan bersama. Bukan lima suara yang berebut, satu suara yang mengatur porsinya.
Dan kalimat itu tidak berhenti di iyyaka na’budu. Lanjutannya wa iyyaka nasta’in. Karena ada dua cara orang diperbudak: lewat ketaatan, dan lewat ketergantungan. Orang bisa saja tidak tunduk pada seseorang, tapi tetap terikat karena dari tangan orang itulah nafkahnya datang. Satu penggal memutus rantai pertama, penggal berikutnya memutus rantai kedua.
Kenapa harus diulang belasan kali sehari
Sehari semalam ada tujuh belas rakaat wajib, dan Al-Fatihah dibaca di setiap rakaat. Artinya minimal tujuh belas kali sehari kalimat itu keluar dari mulut kita.
Dulu saya pikir itu sekadar pengulangan ritual. Sekarang saya curiga pengulangannya memang disengaja sebanyak itu karena klaim semacam ini luntur dengan sangat cepat.
Saya bisa mengucapkannya dengan sungguh-sungguh waktu subuh, lalu jam sepuluh pagi sudah mengubah keputusan yang saya tahu benar, hanya karena takut dianggap tidak becus oleh seseorang yang lima tahun lagi mungkin tidak akan saya temui lagi. Proklamasi 1945 dibacakan sekali lalu diperingati setahun sekali. Yang ini tidak bisa begitu. Yang ini harus diperbarui tiap rakaat, karena penjajahnya tidak pernah pergi dari halaman rumah. Dia tinggal di dalam dada.
Satu hal lagi yang bikin gambarannya utuh. Ayat setelah proklamasi itu adalah ihdinash shirathal mustaqim, tunjukilah kami jalan yang lurus. Jadi begitu kemerdekaan dinyatakan, yang langsung diminta adalah arah. Sebab bebas tanpa tahu mau ke mana itu bukan merdeka, itu cuma terombang-ambing. Persis bangsa yang sudah merdeka lalu bingung mau jadi apa.
Hamba sebagai gelar, bukan hinaan
Kalau penghambaan itu perendahan, semestinya kata ‘abd dipakai untuk mencela. Nyatanya kebalikannya.
Ayyub dipuji dengan نِعْمَ الْعَبْدُ, sebaik-baik hamba. Dan ketika Nabi Muhammad mengalami peristiwa paling agung sepanjang hidupnya, perjalanan malam itu, Al-Qur’an tidak menyebut beliau dengan gelar nabi atau rasul, melainkan بِعَبْدِهِ, hamba-Nya.
Di momen paling mulia, yang disebut justru statusnya sebagai hamba. Berarti di sini penghambaan bukan posisi rendah yang harus ditanggung, tapi kedudukan yang dicapai.
Analogi yang paling masuk akal buat saya: orang yang ingin bebas bermain piano tidak bisa menolak tunduk pada tangga nada dan latihan jari bertahun-tahun. Yang menolak semua aturan itu bukan pemain yang lebih bebas, dia cuma tidak bisa bermain. Kebebasan berekspresinya justru lahir dari ketundukan yang dia pilih sendiri sampai aturan itu tidak lagi terasa mengikat. Bedanya, tangga nada tidak punya kepentingan atas si pemain. Sama seperti tadi.
Satu rambu yang harus ikut ditulis
Logika ini gampang sekali dibajak, dan saya tidak mau tulisan ini ikut membajaknya.
Kalimat “menghamba itu merdeka” sering dipinjam untuk membenarkan ketundukan buta kepada manusia. Kepada tokoh, organisasi, penguasa, atasan. Padahal ayat yang kita bahas ini justru memutus hal itu. Pembatasan iyyaka berlaku dua arah: tidak ada makhluk yang berhak disembah, dan karena itu tidak ada makhluk yang berhak menuntut ketaatan mutlak atas nama apa pun, termasuk atas nama agama.
Generasi pertama memahaminya persis begitu. Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan-Nihayah meriwayatkan dialog Rib’i bin Amir dengan Rustum menjelang Qadisiyyah. Ditanya apa yang membawa orang Arab keluar dari padang pasirnya, jawaban Rib’i: Allah mengutus kami untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan kepada Tuhan manusia, dan dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.
Bukan memindahkan kepemilikan dari satu tuan ke tuan lain yang lebih besar. Mengeluarkan dari lingkaran penghambaan antarmanusia sepenuhnya.
Ukurannya sederhana
Kalau mau tahu siapa tuan kita yang sebenarnya, tidak perlu tes rumit. Cukup satu pertanyaan: kepada siapa saya tidak sanggup mengatakan tidak.
Bukan siapa yang saya hormati. Bukan siapa yang saya sayangi. Siapa yang membuat saya menelan kembali kalimat yang sudah di ujung lidah, padahal saya tahu kalimat itu benar.
Saya mencoba menjawabnya jujur untuk diri sendiri minggu ini, dan hasilnya tidak menyenangkan. Ada beberapa nama. Ada beberapa hal yang bahkan bukan orang.
Delapan puluh satu tahun lalu bangsa ini berhenti tunduk pada satu kekuasaan. Tapi rupanya berhenti tunduk itu pekerjaan harian, bukan peristiwa sekali jadi. Dan ternyata sudah disediakan latihannya, tujuh belas kali sehari, sejak lama sekali, cuma selama ini saya baca sambil melamun memikirkan pekerjaan.
Wallahu a’lam.









