12 April, Juz 12
Bismillah.
Juz 12 membentang dari Hud ayat 6 sampai Yusuf ayat 52, dan isinya seperti dua sisi mata uang. Separuh pertama di Surat Hud bercerita tentang bagaimana peradaban-peradaban tiran berguguran. Separuh keduanya di Surat Yusuf justru membawaku ke titik paling awal, ke rumah Nabi Ya’qub, tempat tabiat Bani Israel pertama kali kelihatan bentuknya.
Idz qālū layūsufu wa akhūhu aḥabbu ilā abīnā minnā wa naḥnu ‘uṣbah, inna abānā lafī ḍalālim mubīn.
Uqtulū yūsufa awiṭraḥūhu arḍay yakhlu lakum wajhu abīkum wa takūnū mim ba’dihī qauman ṣāliḥīn.
“(Ingatlah) ketika mereka berkata, Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita ini adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.” (QS 12:8-9)
Perhatikan kata ‘uṣbah, satu golongan yang kuat. Mereka merasa jumlahnya banyak, kekuatannya besar, dan karena itu merasa lebih berhak atas kasih sayang ayahnya. Kedengkian yang berangkat dari perasaan lebih berhak, dan sasarannya adik sendiri.
Yang paling mengerikan justru ayat berikutnya. Rencananya bunuh atau buang jauh-jauh, lalu setelah itu kita bertobat dan jadi orang baik. Kejahatannya sudah disusun lengkap dengan jadwal tobatnya. Rencana itu tidak lahir dari kemarahan sesaat, tapi dari perhitungan yang dingin.
Tabiat yang sama muncul lagi ribuan tahun kemudian, cuma skalanya berubah dari satu keluarga menjadi satu bangsa. Menyingkirkan, membunuh, dan mengusir jutaan rakyat Palestina dari tanahnya sendiri lewat Nakba, supaya tanah itu bersih dan murni jadi milik kelompok mereka. Dan pembenarannya juga sama persis, bahwa setelah operasi militer ini rampung mereka akan menjadi negara demokratis yang beradab. Persis logika qauman ṣāliḥīn tadi. Kejahatannya dijalankan lebih dulu, kebaikannya dijadwalkan belakangan.
Yang membuat kejahatan sebesar itu bisa berjalan puluhan tahun bukan cuma pelakunya, tapi orang-orang di sekelilingnya.
Wa lā tarkanū ilal ladzīna ẓalamū fa tamassakumun nāru wa mā lakum min dūnillāhi min auliyā’a tsumma lā tunṣarūn.
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS 11:113)
Menurutku ini salah satu ketetapan moral paling tajam dalam Al-Qur’an. Kata yang dipakai tarkanū, yang artinya cenderung atau bersandar. Cakupannya luas sekali, mulai dari bersimpati, mendukung diam-diam, menormalkan hubungan, sampai sekadar ikut membenarkan. Tidak perlu ikut menembak untuk masuk hitungan.
Ayat ini menelanjangi wajah negara-negara Barat dan sebagian masyarakat internasional yang terus memasok senjata, memberi dukungan politik, dan menormalisasi hubungan dengan entitas penjajah. Peringatannya keras, siapa pun yang bersandar pada penindas akan ikut tersentuh api yang sama, dan kelak tidak akan ada yang bisa menolong.
Lalu bagaimana ujungnya bagi mereka yang sudah telanjur membangun sistem di atas kezaliman?
Wa mā ẓalamnāhum wa lākin ẓalamū anfusahum…
Wa kadzālika akhdzu rabbika idzā akhadzal qurā wa hiya ẓālimah, inna akhdzahū alīmun syadīd.
“Dan Kami tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri… Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (QS 11:101-102)
Tidak ada kekuatan militer mana pun di dunia ini yang sanggup menyelamatkan sistem yang fondasinya kezaliman. Entitas penjajah tidak runtuh semata karena diserang dari luar. Kezaliman yang mereka kerjakan setiap hari itulah yang sedang menggerogoti tiangnya sendiri dari dalam.
Jadi kejahatan sistemik tidak pernah berdiri sendirian. Ia butuh dua tiang penyangga. Di dalam ada kedengkian dan perasaan lebih berhak, dan itu sudah kelihatan sejak zaman anak-anak Ya’qub. Di luar ada pihak-pihak yang bersandar, mendukung, dan menormalkan. Cabut salah satu tiangnya, kejahatan itu tidak akan sanggup berdiri selama ini.
Dan yang paling perlu aku ingat, semuanya bermula dari hal yang kelihatannya sepele. Rasa iri di dalam satu rumah, terhadap saudara sendiri, gara-gara merasa kurang diperhatikan.
Wallahu a’lam.

