14 Maret, Juz 14
Bismillah.
Setiap hari, aku selalu memanggil anak-anakku dengan sebutan, “Anak sholeh,” atau “Anak sholehah.” Panggilan itu meluncur begitu saja, karena di dalamnya terkandung doa dan pengharapan terbesarku sebagai orang tua.
Tapi apa sebenarnya makna sholeh itu, aku sendiri belum tentu paham betul.
Aku teringat penjelasan Ustadz Adi Hidayat (UAH) yang membedah bahwa kata sholeh itu bukan sekadar rajin shalat. Maknanya sangat luas dan mencakup empat tingkatan:
Thoyyib, sehat dan baik secara fisik.
Khoir, baik secara akhlak, nilai, dan prinsip hidup.
Ma’ruf, mampu mempraktikkan akhlak dan prinsip tersebut ke dalam interaksi kehidupan sehari-hari, bermanfaat bagi sekitar.
Ihsan, puncak tertingginya, melakukan segala kebaikan tersebut semata-mata karena berharap ridha Allah.
Definisi sholeh yang komprehensif ini rupanya divalidasi dengan sangat indah di Juz 14, tepatnya di penghujung Surah An-Nahl. Kalau dibaca runtut, ayat-ayat di akhir surah ini seperti memberi “peta jalan” bagaimana Al-Qur’an membangun karakter manusia yang sholeh lewat tiga anak tangga.
Anak tangga pertama, membangun moral pribadi (QS. An-Nahl: 90). Ayat ini dibaca dalam khutbah Jumat hampir di seluruh dunia Islam sejak zaman sahabat, karena dianggap ayat yang merangkum seluruh akhlak Islam.
Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.”
Ini fondasinya, khoir dan ihsan. Keadilan adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, membayar utang tepat jumlah, tidak mengambil hak orang lain. Tanpa keadilan, masyarakat akan runtuh. Tapi ayat ini meminta kita naik kelas menuju ihsan, berbuat lebih dari sekadar adil, membayar utang dengan tambahan kebaikan, atau bekerja melebihi ekspektasi. Keadilan menjaga sistem, tapi ihsan yang membuat dunia jadi indah. Dan moral ini harus dimulai dari ring terdekat, keluarga.
Anak tangga kedua, integritas dan konsistensi (QS. An-Nahl: 91). Setelah moral terbentuk, Al-Qur’an langsung menguji daya tahannya. Allah berfirman: “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu)…”
Ini soal integritas, ma’ruf. Di ayat-ayat setelahnya, Allah melarang keras menukar prinsip dan janji dengan “harga yang sedikit”, keuntungan dunia. Jangan menggadaikan iman demi keuntungan. Jangan mengorbankan prinsip demi jabatan. Orang sholeh adalah mereka yang integritasnya tidak mudah dibeli.
Anak tangga ketiga, menyebarkan kebaikan dengan hikmah (QS. An-Nahl: 125). Kalau moral (ayat 90) dan integritas (ayat 91) sudah kokoh, barulah Islam mengajarkan cara berinteraksi dan mendakwahkannya ke masyarakat.
Allah berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.”
Al-Qur’an menegaskan satu kaidah penting, Islam tidak dimulai dari debat. Islam dimulai dari akhlak. Kita tidak berhak mendebat orang lain kalau sikap adil, ihsan, dan integritas kita belum tuntas di rumah maupun di tempat kerja.
Bulan Ramadhan sejatinya jadi madrasah untuk mencetak kesholehan itu. Puasa melatih fisik kita (thoyyib), menahan hawa nafsu membentuk prinsip kita (khoir), zakat dan sedekah melatih kepedulian sosial kita (ma’ruf), dan puasa itu sendiri adalah ibadah rahasia yang melatih kita berbuat murni karena Allah (ihsan).
Semoga Ramadhan ini bukan hanya membuatku lebih rajin beribadah, tapi juga benar-benar melatihku dan anak-anakku menapaki tiga anak tangga peradaban Al-Qur’an: adil dalam prinsip, kokoh dalam integritas, dan lembut dalam menyampaikan kebenaran.
Wallahu a’lam.
