7 Februari, Juz 7
Sebelum lanjut hari ini, aku pengin mengulang topik 6 hari refleksi yang aku tulis berdasarkan kronologi hari dan juz. Cuma mau memastikan peta jalan persiapan Ramadhan tetap on track.
Juz 1: Mulai dengan bercermin diri, waspada terhadap sifat gaslighting dan nifaq (manis di muka, menusuk di belakang). Juz 2: Menetapkan benchmark taqwa, bahwa keberhasilan Ramadhan bukan cuma euforia sesaat, tapi Al-hasanah ba’dal hasanah (kebaikan yang berlanjut). Juz 3: Menemukan “resep penenang” lewat 5 karakter unggul (Sabar, Jujur, Taat, Infak, Istighfar di waktu sahar) sebagai target konkret. Juz 4: Belajar dari kekalahan Uhud untuk memperkuat benteng keluarga (An-Nisa) sebagai support system utama. Juz 5: Belajar menjadi Qawwam yang melayani dan menjaga “cermin” (istri) agar pantulannya tetap indah. Juz 6: Menandatangani kontrak komitmen (Aufuu bil ‘uquud), berjanji setia agar tidak menjadi hamba yang terkena “PHK” dari Allah.
Persiapan di atas rasanya sudah matang. Peta ada, benchmark ada, benteng keluarga kokoh, dan kontrak janji sudah diteken.
Di Juz 7 ini, Allah memberikan rambu agar berhati-hati terhadap perilaku yang bisa merusak semua persiapan di atas.
Di penghujung Surat Al-Maidah (Juz 7), Allah menurunkan ayat tegas tentang khamr (sesuatu yang memabukkan/menutup akal).
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi… adalah perbuatan keji dari perbuatan setan. Maka jauhilah…” (QS. Al-Maidah: 90)
Kenapa ayat ini krusial? Karena disebutkan perilaku dan barang di atas adalah rijs (kotoran) ala setan. Dan tujuan setan menebar racun ini disebut jelas di ayat 91: “Bermaksud menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat.”
Dalam konteks modern, khamr bukan cuma alkohol dalam botol. Khamr adalah segala sesuatu yang membuat kita “mabuk”, lupa waktu, dan lalai dari kontrak ibadah kita.
Mabuk gadget: Scroll layar berjam-jam sampai lupa waktu shalat. Mabuk hiburan: Nonton Netflix atau game sampai kewajiban terbengkalai. Mabuk pekerjaan: Mengejar dunia sampai lupa pulang ke “benteng” keluarga.
Semua itu adalah “racun” yang membius kesadaran. Syaitan tahu, jika “mabuk”, kontrak janji yang dibahas di Juz 6 kemarin berpotensi batal.
Memang tidak mudah untuk melawan khamr zaman now, tapi justru karena kita sedang menyiapkan Ramadhan dan membidik kualitas takwa, ini akan menjadi penyemangat.
Seperti yang aku tulis sebelumnya, semakin bisa memperbanyak perbuatan saleh, otomatis perbuatan salah pun akan tertekan.
Nah, hadiah bagi mereka yang berhasil “Sadar” (tidak mabuk dunia) ada di surat selanjutnya.
Masih di Juz 7, kita bertemu Surat Al-An’am.
Surat ini turun sekaligus, tidak bagian-bagian seperti surat lain. Surat Al-An’am mengajak kita untuk banyak melihat kebesaran Allah di alam semesta. Tapi bagaimana bisa menikmati kebesaran Allah tersebut kalau mata masih mabuk karena kesenangan yang sementara.
Salah satu ayat paling indah di surat ini tentang “CCTV Allah” ada di sini: “…Dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya…” (QS. Al-An’am: 59)
Jika daun kering yang sering dianggap sampah saja Allah perhatikan sedetail itu… maka tetesan keringat saat beramal saleh, doa lirih di sepertiga malam, dan perjuangan menahan amarah, pastilah Allah perhatikan.
Memang tidak mudah lepas dari gadget dan medsos. Tapi aku juga pengin menikmati kebesaran Allah SWT lewat mata hati yang bersih.
InsyaAllah, sekecil apa pun usahaku untuk lepas dari “mabuk dunia” demi meningkatkan ketakwaan, pasti akan dicatat dan diperhatikan oleh-Nya.
Wallahu a’lam.



