2 Februari – Juz 2
Setelah sholat maghrib, masjid-masjid terlihat lebih ramai dari biasanya. Jamaah bersuka cita menyambut malam Nisfu Sya’ban dengan dzikir, menjadi penanda tegas bahwa bulan suci Ramadhan tinggal kurang lebih 15 hari lagi.
Memang sebaiknya kita menyiapkan Ramadhan sejak bulan Rajab lalu, lanjut Sya’ban, dan masuk Ramdhan mesin iman sudah panas. Tapi tidak ada kata terlambat, better late than never. Mulai malam ini, yuk fokus siapkan bulan suci.
Sambil menyelesaikan Juz 2, pikiranku melayang ke hal lain. Seperti ada wake-up call.
Aku berhitung usiaku. Setelah masa baligh, ternyata aku sudah dikaruniai kesempatan bertemu Ramadhan lebih dari 44 kali. MasyaAllah. Sungguh nikmat usia yang luar biasa dari Allah SWT.
Tentu saja, seringkali, setiap Ramadhan tiba aku punya harapan standar: dapat pahala berlipat, dapat ampunan, dan diam-diam berharap dapat “jackpot” Lailatul Qadar. Seperti yang diingatkan dan dimotivasi oleh Khotib dari atas mimbar.
Tapi apa iya setelah lebih dari 44 kali digembleng di kawah candradimuka bernama Ramadhan itu benar-benar membuatku lebih baik hari ini?” Bukankah tujuan akhirnya adalah La’allakum tattaqun (agar kalian bertaqwa)?
Bagaimana status taqwaku hari ini?
Aku tidak pernah diberi rapor tertulis dari langit. Kalau aku menilai diri sendiri, khawatirnya aku terlalu lunak atau justru terlalu keras dan bias.
Lalu bagaimana ya para ulama melakukan benchmark (tolok ukur) keberhasilan Ramadhan seseorang?
Ternyata, para ulama seperti Ibnu Rajab Al-Hanbali hingga Imam Al-Ghazali punya parameter sederhana namun menohok. Indikator keberhasilan Ramadhan itu bukan dilihat dari seberapa nangis kita saat tarawih di malam ke-27, atau berapa kali khatam Quran, tapi dilihat dari apa yang terjadi di bulan Syawal dan seterusnya.
Para ulama mengatakan: “Tanda diterimanya sebuah kebaikan adalah (dimudahkannya) kebaikan lain setelahnya.”
(Al-Hasanah ba’dal Hasanah)
Benchmark-nya sederhana: Apakah setelah Ramadhan lalu, shalatku jadi lebih ringan? Apakah sedekah jadi lebih otomatis tanpa mikir panjang? Jika iya, itu tanda “lulus”. Jika masih saja berat seperti batu, berarti Ramadhan kemarin cuma sekadar ritual musiman.
Taqwa itu definisinya kehati-hatian (seperti berjalan di jalan berduri).
Benchmark-nya: Apakah setelah Ramadhan tahun lalu, hatiku makin sensitif terhadap dosa?
Dulu mungkin aku santai saja bohong dikit (“white lies”) di kantor. Apakah sekarang hati jadi gelisah kalau bicara tidak jujur? Kalau kegelisahan itu makin kuat, itu tanda taqwa sedang tumbuh. Kalau masih bebal dan biasa saja melanggar, berarti puasa belum berdampak ke jiwaku.
Di Juz 2, ayat puasa (183) itu letaknya berdekatan dengan ayat larangan memakan harta orang lain dengan batil (188).
Ulama mengingatkan, kesalehan ritual (puasa) harus berbuah kesalehan sosial.
Benchmark-nya: Apakah aku jadi lebih sabar sama istri dan anak? Apakah aku jadi lebih adil sama bawahan? Apakah aku lebih bisa menahan lisan dan jempol di grup WhatsApp?
Kalau puasa rajin tapi lisan atau jempol masih tajam menyakiti orang, berarti “puasa”-nya baru sampai tenggorokan, belum sampai ke hati.
Ini yang jadi renunganku.Target Ramadhan besok bukan sekadar khatam berapa kali atau berburu 10 hari terakhir.
Tapi, aku ingin memastikan: Satu bulan nanti harus ada satu sifat burukku yang hilang permanen, dan satu sifat baik yang menempel permanen.
Ya Allah, izinkan Ramadhan kali ini benar-benar “jadi”. Bukan sekadar menggugurkan kewajiban tahunan, tapi benar-benar menaikkan kelas ketakwaanku.
Allahumma barik lana fi Sya’ban wa ballighna Ramadhan.
Wallahu a’lam.
