4 April, Juz 4

Bismillah.

Juz 4 membentang dari Ali Imran ayat 93 sampai An-Nisa ayat 23, dan isinya membuat dadaku sesak. Kalau juz-juz sebelumnya bicara soal watak dan cara bicara, di sini ceritanya sudah naik ke urusan nyawa. Konflik antara kebenaran melawan kekuasaan absolut, entah itu raja atau pemimpin agama, sampai di titik paling ekstremnya.

Mulanya dari penolakan. Mukjizat Nabi Isa itu terang benderang, tapi mayoritas elit agama tetap menolak. Yang percaya justru segelintir orang, para Hawariyyun, yang berani menyatakan diri sebagai penolong agama Allah ketika hampir semua orang memilih ikut arus. Jumlah mereka sedikit sekali, dan mungkin memang begitu polanya. Di dalam sistem yang sudah rusak, selalu ada kelompok kecil yang bertahan, dan biasanya mereka tidak populer.

Ketika penolakan saja tidak cukup, elit agama naik level. Mereka menyusun makar, merencanakan pembunuhan Isa. Dan Allah membalas makar itu dengan cara yang tidak masuk akal manusia. Isa diselamatkan dan diangkat, rencana mereka gagal total.

Lalu Allah mengungkit rekam jejak yang paling kelam. Di ayat 112 dan 181, disebut kebiasaan mereka membunuh para nabi tanpa hak. Bukan sekali. Bukan kecelakaan sejarah. Kebiasaan.

Membacanya, cuma dua pertanyaan yang muncul di kepalaku. Nabi siapa saja, dan bagaimana caranya?

Menjawabnya perlu kehati-hatian, karena ada dua lapis sumber yang tidak boleh dicampur. Al-Qur’an mengonfirmasi fakta pembunuhannya, dan menegaskan sebabnya, yaitu keengganan tunduk pada kebenaran. Fokusnya pada pelajaran, bukan pada detail kejadian. Nama-nama seperti Yesaya dan Yeremia, juga cerita soal digergaji atau dilempar ke sumur, itu tidak datang dari Al-Qur’an. Semua itu berasal dari literatur Israiliyat dan naskah-naskah kuno yang masuk ke khazanah Islam lewat tokoh-tokoh Ahli Kitab yang memeluk Islam, lalu dipakai para mufassir untuk melengkapi latar sejarahnya. Berguna untuk gambaran, tapi statusnya tidak sama dengan wahyu.

Kemarin di Juz 3 aku sudah memetakan perjalanan mereka dari ketinggian. Hari ini aku ingin memperbesar resolusinya di satu titik saja. Dan begitu rekam jejak berdarah ini disandingkan dengan peta kemarin, muncul korelasi yang bikin merinding. Membunuh nabi hampir selalu menjadi tanda bahwa hitungan mundur sudah dimulai. Kehancurannya menyusul tidak lama kemudian. Allah sendiri menyebutnya sebagai dua kali kerusakan besar dalam QS Al-Isra ayat 4 sampai 8, yang letaknya nanti di Juz 15.

Kehancuran pertama datangnya di era Kerajaan Yehuda, sekitar 687 sampai 586 SM. Jembatan sejarahnya begini. Setelah generasi pembangkang di zaman Musa habis dihukum tersesat di padang pasir, generasi baru di bawah Yusha bin Nun berhasil masuk dan menaklukkan tanah Kanaan. Sepeninggal Yusha mereka dipimpin para Hakim, tapi eranya penuh perpecahan dan manipulasi, sampai akhirnya mereka menuntut seorang raja. Talut yang pertama, lalu Daud dan Sulaiman, dan di situlah puncak kejayaannya. Setelah Sulaiman wafat, kerusakan mulai jalan. Raja Manasye yang fasik mengeksekusi Nabi Yesaya dengan gergaji kayu. Satu generasi berikutnya, Nabi Yeremia disiksa di masa Raja Zedekia. Dan penutupnya, Allah mendatangkan Nebukadnezar dari Babilonia pada 586 SM, meratakan Yerusalem dan menggiring mereka sebagai budak.

Kehancuran kedua terjadi di era Romawi, abad pertama Masehi. Mereka sudah diberi kesempatan bangkit, dan penyimpangannya berulang lagi. Elit agama berkolaborasi dengan penguasa Romawi seperti Herodes Antipas. Nabi Yahya dipenggal gara-gara menentang pernikahan terlarang sang raja, dan Nabi Zakariya dibunuh saat bersembunyi. Makar terhadap Isa jadi kejahatan sistemik yang terakhir. Setelah itu Yerusalem diluluhlantakkan Romawi di bawah Titus sekitar tahun 70 Masehi, dan mulailah diaspora panjang ke seluruh dunia.

Yang aku penasaran, kenapa sekejam itu? Padahal para nabi ini tidak membawa pasukan, cuma membawa teguran.

Ternyata teguran itu sendiri yang jadi ancaman. Ia mengganggu otoritas, mengusik kemapanan, dan yang paling sensitif, mengganggu bisnis para elit penguasa lokal. Dalam psikologi kepemimpinan, ini kombinasi obsesi kekuasaan dengan ego yang rapuh. Telinganya terlalu panas untuk mendengar kebenaran, jadi cara tercepat mendapatkan kembali rasa nyaman adalah menghabisi pembawa pesannya.

Cara berpikir seperti itu ternyata tidak ikut terkubur bersama zamannya.

Lihat saja bagaimana Israel membunuh para negosiator dan pemimpin Hamas, lalu berlanjut ke jenderal-jenderal Iran, dan hampir seluruh jajaran kabinet Houthi di Yaman. Dalam strategi perang kuno, menghabisi pemimpin lawan memang jalan tercepat untuk menang. Tapi yang dilakukan Israel berjalan paralel dengan membunuhi anak-anak, tim medis, jurnalis, dan rakyat biasa, tanpa belas kasihan sedikit pun, karena mereka tahu persis pihak-pihak itu tidak akan bisa membalas. Kecongkakan seperti ini pasti ada pengadilannya.

Israel juga tidak berhenti pada membunuh dan membantai. Di dunia yang mengaku beradab, menghabisi orang secara fisik jelas pidana dan suatu saat bisa diseret ke pengadilan. Maka disiapkan satu cara lagi yang lebih rapi, tidak berdarah, dan sulit dijerat hukum, yaitu membunuh karakter orangnya. Istilahnya character assassination.

Intinya begini. Ini upaya yang disengaja, terencana, dan dijalankan terus-menerus untuk menghancurkan reputasi dan kredibilitas seseorang. Yang diserang bukan argumennya, bukan karyanya, bukan idenya, melainkan pribadinya. Tujuannya supaya orang berhenti percaya kepada orangnya, sehingga apa pun yang ia sampaikan otomatis tidak lagi didengar. Caranya macam-macam, dari memelintir ucapan, menyebar rumor, sampai membesar-besarkan kesalahan kecil di masa lalu.

Di politik, ini senjata klasik. Jauh lebih murah menjatuhkan orangnya daripada beradu gagasan dan program. Ada kampanye hitam berisi kabar palsu soal kehidupan pribadi, keluarga, atau agama seseorang. Ada pelabelan yang diulang-ulang sampai melekat, entah dicap radikal, korup, boneka, atau pengkhianat, dan diperkuat pasukan pendengung sampai publik menerimanya sebagai kebenaran. Ada juga kebiasaan mengorek pernyataan bertahun-tahun lalu, lalu diviralkan tanpa konteks aslinya. Hasilnya, publik terbiasa memilih atau membenci pemimpin berdasarkan skandal dan sentimen, bukan berdasarkan rekam jejak.

Yang bikin tidak nyaman, versi kantornya nyaris sama persis, cuma skalanya lebih kecil dan pelakunya duduk beberapa meja dari kita. Biasanya digerakkan orang yang posisinya terancam, atau yang ingin menutupi ketidakmampuannya sendiri. Bentuknya bisa gosip yang beredar dari mulut ke mulut, si A susah diajak kerja sama, si B cuma cari muka, si C tidak kompeten. Bisa juga sabotase yang lebih senyap, targetnya diisolasi dari informasi penting, sengaja tidak diajak rapat strategis, lalu disalahkan ketika hasil kerjanya tidak maksimal. Yang paling licin, kesalahan kecil dibesar-besarkan di depan manajemen dengan nada seolah-olah objektif, sementara pencapaian besarnya disembunyikan, atau malah diklaim sebagai hasil kerja pelakunya.

Dampaknya fatal. Kantor jadi tempat yang penuh curiga, korbannya stres berat sampai kelelahan mental, dan ujungnya perusahaan yang rugi karena orang-orang terbaiknya memilih pergi. Bukan karena tidak mampu bekerja, tapi karena tidak tahan difitnah.

Kembali ke Israel, aku jadi ingat Karim Khan, Jaksa Kepala Mahkamah Pidana Internasional. Begitu ia serius menegakkan hukum internasional dan memburu para petinggi zionis, karakternya dibunuh lewat tuduhan skandal yang dirancang sedemikian rupa. Tidak berhenti di situ, ruang geraknya ikut dimatikan. Email dan sistem digital lembaganya diretas dan diblokir, bahkan akses perbankan para pejabat ICC diancam dibekukan lewat sanksi negara sekutu.

Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk Hak Asasi Manusia, mengalami hal serupa. Laporannya tajam dan berbasis fakta, maka yang diserang bukan isi laporannya, melainkan dirinya. Dilabeli antisemit, lalu kredibilitasnya digerus secara sistematis di media global.

Polanya sama persis dengan elit masa lalu. Habisi pembawa pesannya, matikan akses hidupnya, sebar fitnahnya, supaya pesannya ikut mati bersama orangnya.

Dan motifnya juga tidak berubah dari zaman Manasye sampai hari ini. Ego yang rapuh, takut kehilangan zona nyaman, dan haus kekuasaan. Begitu kalah argumen dan kalah prestasi, menyerang pribadi lawan terasa seperti satu-satunya jalan pintas untuk menyelamatkan harga diri.

Untungnya sejarah juga memperlihatkan hal lain. Kebenaran yang disangga integritas, bukti, dan karya nyata umurnya jauh lebih panjang daripada rumor yang dirancang untuk menjatuhkannya. Rumor butuh perhatian orang banyak supaya tetap hidup. Kebenaran tidak.

Banyak sekali yang aku dapat dari Juz 4 ini, dan perjalanan membaca bangsa ini masih panjang. Semoga masih diberi kemampuan untuk terus menggali.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News