Hari kedua, Tanggal 16, Juz 16
Bismillah
Kemarin aku berhenti di kata “diperjalankan”. Hari ini aku mau melanjutkan ceritanya, karena ternyata belum selesai.
Istriku, dan jam tangan itu
Sebelum masuk ke kelanjutannya, aku mau cerita sedikit.
Aku punya istri tersayang. Dia motivatorku, pendorongku, dan menurutku hadiah terindah yang Allah berikan kepadaku.
Ada cerita kecil tentang dia. Suatu ketika aku beli jam tangan. Beberapa waktu kemudian dia penasaran dengan mereknya, lalu mengajakku ke butiknya. Ya ampun. Aku beli jam itu saja tidak sampai ke butik, tapi dia akhirnya beli juga, langsung dari sana. Aku cuma geleng-geleng kepala melihat semangatnya.
Nah, urusan jam tangan ternyata ada sambungannya.
Setelah aku pulang umrah tahun 2016, dia terpacu. Tidak mau kalah, dia juga ingin berangkat. Dan tahun 2017 itu pun terlaksana.
Lalu siapa yang paling beruntung? Aku lagi. Karena sebagai suami, aku yang jadi pendampingnya. Berangkat untuk kedua kalinya, lewat pintu yang lagi-lagi tidak aku buka sendiri.
Apakah ini dipanggil lagi? Diperjalankan lagi? MasyaAllah, alhamdulillah.
Senang juga punya istri yang tidak mau kalah.
Hampir dua puluh tahun tidak mendaftar
Setelah umrah kedua itu, hidup kembali ke kesibukan masing-masing. Kembali mencoba menabung, kembali ke urusan yang tidak ada habisnya.
Dan ini bagian yang baru aku sadari belakangan, waktu menghitung mundur.
Kami menikah tahun 2002. Baru akhir 2021 kami mendaftar haji.
Hampir dua puluh tahun. Dan dalam rentang itu kami sudah dua kali berangkat umrah.
Kenapa? Kalau jujur, mungkin jiper. Jiper dengan biayanya. Jiper dengan masa tunggunya yang belasan sampai puluhan tahun. Rasanya seperti sesuatu yang terlalu jauh untuk mulai dipikirkan, jadi ya tidak dipikirkan sama sekali.
Padahal justru karena antreannya panjang, mendaftar sedini mungkin itu yang paling masuk akal. Logikanya terbalik: kami tidak mendaftar karena menunggunya lama, padahal menunggunya lama karena kami tidak kunjung mendaftar.
Di sinilah pelajaran kemarin perlu diteruskan. Benar bahwa Allah yang memperjalankan. Tapi bagaimana mau diperjalankan kalau kita bahkan tidak melangkah? Minimal mendaftar.
Percaya bahwa Allah yang menentukan bukan alasan untuk diam.
Covid, lalu keberanian yang terlambat
Lalu datang musibah covid. Duka, pesimis, semuanya campur aduk. Beberapa kali kami harus terpisah karena ada yang positif.
Setelah keadaan mereda, entah bagaimana, kami akhirnya sepakat: daftar yuk.
Kami datang ke sebuah perusahaan travel umrah dan haji di daerah Mampang. Setor, urus berkasnya, lalu serahkan semuanya kepada Allah.
Lima tahun, tujuh tahun, entahlah. Kami tidak tahu. Itu sekitar akhir tahun 2021.
Telepon yang tidak diduga
Beberapa bulan kemudian, menjelang musim haji 2022, tiba-tiba ada telepon.
Tante Lila, istri dari Om-ku, almarhum Om Rinto yang meninggal karena Covid, adalah pemilik sebuah perusahaan travel umrah. Tumben-tumbenan tiba-tiba menelepon istriku. Singkat kata: kami ditawari menjadi petugas haji. Tahun itu juga.
MasyaAllah. Kami cuma bisa bengong. Pandang-pandangan. “Nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan?”
Singkat cerita, setelah melewati berbagai macam proses, kami berangkat haji dengan visa petugas. Hanya beberapa bulan setelah mendaftar, dan pendaftaran itu pun harus dibatalkan. Diganti dengan jalur yang super kilat ditengah gonjang-ganjing gagal berangkat haji di tahun itu yang sangat masif. Semuanya terjadi setelah hampir dua puluh tahun tidak berani mendaftar sama sekali.
Aku ingat, sebelum berangkat aku sempat mengantarkan Daffa untuk ujian SNBT di IPB. Hidup jalan terus di dua arah sekaligus. Bukan rencana kami, tapi panggilan-Nya.
Kembali lagi: diperjalankan.
Yang dijelaskan belakangan
Juz 16 dibuka dengan penutup kisah Musa dan Khidhr, dan rasanya seperti ditujukan untuk cerita seperti ini.
Musa ikut dalam perjalanan yang sama sekali tidak dia pahami. Kapal yang ditumpangi dibocorkan. Seorang anak dibunuh. Sebuah dinding di kampung yang menolak menjamu mereka justru diperbaiki tanpa bayaran. Tiga kali Musa tidak tahan dan bertanya.
Baru di akhir penjelasannya diberikan. Kapal itu dirusak supaya tidak dirampas raja yang merampas setiap kapal yang bagus. Anak itu dikhawatirkan akan menyeret kedua orang tuanya yang beriman kepada kesesatan. Dinding itu diperbaiki karena di bawahnya tersimpan harta milik dua anak yatim yang ayahnya seorang saleh.
Dan Khidhr menutup dengan kalimat ini:
وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْ ۗ ذٰلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًا
“Dan bukanlah aku melakukannya menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak sabar terhadapnya.” (Al-Kahf: 82)
Yang aku ambil dari kisah ini: penjelasan hampir selalu datang belakangan.
Waktu kami tidak berani mendaftar selama bertahun-tahun, tidak ada yang menjelaskan apa-apa. Waktu covid datang dan semuanya terasa mundur, tidak ada yang menjelaskan apa-apa. Baru setelah semuanya terjadi, urutannya kelihatan: kalau kami sudah mendaftar sejak awal menikah, mungkin kami sedang menunggu antrean panjang dan menolak tawaran itu. Kalau covid tidak datang, mungkin keberanian mendaftar itu tidak pernah muncul.
Aku tidak berani memastikan itu alasannya. Bagian ini bukan wewenang kita. Yang jadi wewenang kita hanya satu: mau berprasangka apa sambil menunggu penjelasannya.
Musa pun tidak tahu. Dan Musa seorang nabi.
Prasangka baik bukan berarti diam
Tapi kisah Khidhr saja bisa disalahpahami. Bisa dipakai membenarkan sikap pasrah yang sebenarnya cuma malas.
Maka juz ini juga menyediakan penyeimbangnya, di kisah Maryam.
فَاَجَاۤءَهَا الْمَخَاضُ اِلٰى جِذْعِ النَّخْلَةِ ۚ قَالَتْ يٰلَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَّنْسِيًّا
“Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya bersandar pada pangkal pohon kurma. Dia berkata, ‘Wahai, betapa baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.'” (Maryam: 23)
Lalu datang perintahnya:
وَهُزِّيْٓ اِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا
“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya akan berjatuhan buah kurma yang masak kepadamu.” (Maryam: 25)
Perhatikan baik-baik.
Maryam sedang dalam keadaan paling lemah yang bisa dibayangkan. Sendirian, kesakitan, baru saja mengucapkan kalimat keputusasaan. Allah sanggup menjatuhkan kurma itu tanpa satu pun gerakan darinya.
Tapi yang diperintahkan justru: goyanglah.
Padahal siapa pun tahu, pohon kurma tidak akan roboh digoyang perempuan yang sedang melahirkan. Secara hitungan manusia, gerakan itu tidak ada artinya.
Di situlah letak pelajarannya. Yang diminta bukan kekuatan, tapi gerakan. Bukan hasil, tapi ikhtiar. Kurmanya tetap Allah yang jatuhkan. Tapi tangan harus tetap bergerak lebih dulu.
Hampir dua puluh tahun kami tidak menggoyang apa-apa. Merasa pohonnya terlalu tinggi, biayanya terlalu besar, antreannya terlalu panjang. Baru setelah kami datang ke Mampang dan menyetor — satu gerakan kecil yang secara hitungan tidak berarti apa-apa dibanding masa tunggu belasan tahun — kurmanya jatuh dari arah yang sama sekali lain.
Dua doa untuk hari ini
Masih di juz yang sama, ada dua doa pendek yang cocok dibawa siapa pun yang sedang memulai sesuatu.
رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ ۙ وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ ۙ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ ۙ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ
“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.” (Thaha: 25–28)
Doa Musa sebelum menghadapi tugas yang jauh lebih besar dari kemampuannya. Yang diminta pertama bukan keberhasilan, tapi kelapangan dada. Karena yang paling sering menghalangi kita memulai sesuatu memang bukan keadaan di luar, melainkan sempitnya dada sendiri.
Dan satu lagi, yang sebaiknya jadi doa harian selama madrasah ini:
وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.'” (Thaha: 114)
Satu peringatan sebelum menutup
Ada ayat di juz ini yang membuat aku berhenti agak lama.
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْاَخْسَرِيْنَ اَعْمَالًا ۗ اَلَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا
“Katakanlah, ‘Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya? Yaitu orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.'” (Al-Kahf: 103–104)
Yang paling rugi bukan orang yang tidak beramal. Tapi orang yang beramal, merasa sudah baik, dan ternyata keliru arah.
Ini peringatan yang sangat pas untuk hari kedua sebuah program seratus hari. Karena godaan terbesar dari program semacam ini bukan berhenti di tengah jalan, melainkan menyelesaikannya dengan rasa puas sambil lupa untuk apa semuanya dimulai.
Yang aku bawa hari ini
Dua hal, dan keduanya harus jalan bersamaan.
Berprasangka baik, karena penjelasan hampir selalu datang belakangan, dan kita tidak pernah punya seluruh gambarnya. Musa saja tidak.
Dan tetap berikhtiar, karena Maryam pun disuruh menggoyang pohon yang jelas-jelas tidak akan goyah oleh tangannya.
Percaya bahwa Allah yang memperjalankan bukan alasan untuk tidak melangkah. Justru sebaliknya: karena Dia yang memperjalankan, kita cukup melangkah sekecil apa pun, dan sisanya bukan urusan kita.
Hampir dua puluh tahun aku tidak menggoyang apa-apa. Jangan diulang.





