25 Mei · Juz 25
Kemarin aku sempat ngobrol seru dengan Ayyash, teman putri keduaku di SMA. Ia bercerita tentang buku fiksi politik legendaris Animal Farm karya George Orwell. Di sana dikisahkan bagaimana hewan-hewan di sebuah peternakan memilih pemimpin setelah ditinggal pemiliknya. Ayyash mengatakan bahwa seorang pemimpin biasanya muncul karena memiliki kelebihan di antara mereka yang setara (primus inter pares). Dalam cerita itu, kelebihan tersebut digambarkan melalui tiga tokoh babi: Napoleon yang dominan dan haus kekuasaan, Snowball yang visioner, serta Squealer yang sangat lihai membentuk opini.
Dari cerita itu, pikiranku justru melompat ke kehidupan nyata. Sering kali manusia menilai pemimpin hanya dari bungkusnya: jabatan, kekayaan, penampilan, atau popularitas.
Di tempat kerjaku, aku memimpin tim After Sales Service untuk pasar Indonesia. Produk yang kami tangani adalah sanitary premium. Namun, secara posisi di dalam perusahaan, tim after sales sering dianggap tidak sekeren tim sales yang berada di garda depan.
Aku selalu mengingatkan tim bahwa daya tarik sejati bukanlah pada bungkusnya, melainkan pada esensinya: kedalaman ilmu teknis, kemampuan meredakan masalah, dan menghadirkan solusi nyata. Justru karena itulah banyak pelanggan, owner proyek, and arsitek semakin yakin memilih produk kami. Bukan semata karena negosiasi harga, tetapi karena mereka melihat kualitas solusi yang diberikan.
Penyakit terlalu mengagungkan casing sebenarnya sudah ada sejak lama. Bani Israil pernah menolak Talut sebagai raja karena ia bukan orang kaya. Padahal Allah memilihnya karena kualitas dirinya: ilmu yang luas dan fisik yang kuat untuk memimpin.
Pelajaran yang sama muncul dalam Juz 25, Surah Az-Zukhruf ayat 31:
«”Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah atau Thaif)?”»
Kaum Quraisy menolak kebenaran hanya karena pembawanya tidak dibungkus kemewahan dan status sosial.
Lalu, pada Surah Ad-Dukhan, Allah memperlihatkan bagaimana kemewahan itu runtuh ketika Makkah dilanda paceklik hebat. Saat krisis datang, semua kebanggaan terhadap harta dan kedudukan tidak lagi berarti. Mereka yang sebelumnya sombong justru memohon agar azab diangkat dan berjanji akan beriman. Namun setelah keadaan kembali nyaman, mereka mengingkari janji dan kembali kepada kebiasaan lama.
Kisah ini terasa sangat dekat dengan pekerjaanku. Tim sales mungkin membangun kesan pertama yang baik saat transaksi terjadi. Namun ketika pelanggan menghadapi masalah, semua kemasan itu tidak lagi penting. Yang dibutuhkan adalah solusi nyata. Di situlah tim After Sales membuktikan nilai sebenarnya.
Pelajaran ini juga relevan dalam memimpin perubahan. Banyak orang berjanji akan berubah ketika sedang berada dalam krisis. Namun setelah keadaan membaik, komitmen itu perlahan hilang. Padahal, menjaga nilai dan konsistensi justru diuji ketika keadaan sudah kembali nyaman.
Akhir Animal Farm menjadi pengingat yang kuat. Para pemimpin yang awalnya berjuang demi keadilan akhirnya larut dalam kemewahan dan kekuasaan. Mereka berdiri dengan dua kaki, mengenakan pakaian manusia, dan berpesta bersama orang-orang yang dahulu mereka tentang. Dari luar, hewan-hewan lain bahkan tidak lagi mampu membedakan mana babi dan mana manusia. Mereka kehilangan esensi karena mengejar bungkus.
Semoga kita tidak termasuk orang yang sibuk mempercantik kemasan, tetapi lupa memperbaiki isi. Karena pada akhirnya, yang bernilai di hadapan Allah bukanlah bungkusnya, melainkan kualitas hati, ilmu, amal, dan keteguhan memegang kebenaran.
Wallahu a’lam.



