1 Maret, Juz 30. Bismillah.
Alhamdulillah, garis finish maraton One Day One Juz sebelum Ramadhan ini akhirnya tercapai di tanggal 1 Maret. Membaca Juz 30 atau Juz ‘Amma memberikan nuansa yang berbeda. Surat-suratnya pendek, lugas, dan sering banget kita dengar atau kita baca saat shalat.
Tapi justru karena terlalu sering dibaca, kadang kita jadi lupa untuk merenungi maknanya. Di juz terakhir ini, Allah banyak sekali menyinggung tentang kepastian Hari Kiamat, pembalasan amal sekecil zarrah, dan betapa berharganya waktu.
Membaca Surat Al-‘Asr membuatku merenung panjang. “Wal-‘asr. Innal-insaana lafii khusr.” Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.
Waktu rasanya melaju tanpa ampun. Rasanya baru kemarin merawat anak-anak saat masih balita. Sekarang, di sela-sela kesibukan, aku sudah mulai ngajarin anak mbarep nyetir mobil. Saat duduk di kursi penumpang menemaninya pegang setir, aku sadar satu hal: pada akhirnya, dia harus memegang kendali arahnya sendiri. Aku tidak bisa selamanya menginjakkan rem atau memutar setirnya dari bangku sebelah.
Begitu pula dengan urusan akhirat. Allah menegaskan di Surat ‘Abasa ayat 34-37, pada hari kiamat kelak manusia akan lari dari saudaranya, ibu dan bapaknya, serta istri dan anak-anaknya. Setiap orang akan sibuk dengan urusannya sendiri. Hisab itu sangat personal.
Sebagai kepala keluarga, tugasku saat ini adalah membekali mereka dengan “SIM” (Surat Izin Mengemudi) kehidupan, yaitu tauhid dan kecintaan pada tiga pilar amalan yang sudah kita bahas sepanjang bulan lalu: Al-Quran, Shalat, dan Infak. Setelah bekal panduan navigasi itu diberikan, sisanya adalah doa dan tawakkal.
Selain tentang waktu, Juz 30 juga menjadi tamparan keras soal prioritas hidup. Di Surat At-Takatsur Allah berfirman: “Alhaakumut-takaatsur. Hattaa zurtumul-maqaabir.” Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.
Bekerja keras mengejar target finansial, mengembangkan bisnis, atau merencanakan investasi itu penting dan bagian dari ibadah jika diniatkan dengan benar. Tapi ayat ini jadi pengingat keras agar aku tidak terjebak menjadikan tumpukan materi sebagai tujuan akhir. Seperti yang kita bahas di Juz 28 lalu, harta itu harusnya jadi “kendaraan” atau pipa saluran infak, bukan sekadar pajangan yang melalaikan jiwa.
Juz 30 adalah penutup yang sempurna. Ia merangkum seluruh peringatan Al-Quran dengan nada yang cepat, tegas, dan tak terbantahkan. Menyadarkan kita bahwa hidup ini sangat singkat, waktu terus berdetak, dan hari pembalasan itu nyata.
Perjalanan tadabbur 30 juz ini telah selesai. Tapi sejatinya, ini baru pemanasan. Medan juang yang sesungguhnya, yaitu bulan suci Ramadhan, baru akan kita mulai. Berbekal peta jalan dan kurikulum yang sudah digali dari Al-Quran selama sebulan ini, bismillah, mari kita masuk ke bulan Ramadhan dengan jiwa yang jauh lebih siap, lisan yang lebih basah dengan zikir, dan tangan yang lebih ringan untuk berbagi.
Terima kasih ya Allah atas nikmat keistiqamahan ini. Semoga Ramadhan kali ini menjadi Ramadhan terbaik dalam hidup kita.
Wallahu a’lam.
