26 Maret, Juz 26

Bismillah.

Di Juz 26 ada ayat tentang dari mana datangnya ketenangan jiwa dan bagaimana manusia mencarinya. Di Surah Al-Fath ayat 4, Allah menegaskan bahwa Dialah yang menurunkan ketenangan atau sakinah ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah. Ketenangan itu anugerah langsung dari Allah SWT, bukan hasil rekayasa peradaban dunia.

Lalu dalam Surah Al-Hujurat ayat 13, Allah mengingatkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal dan mengambil pelajaran.

Sementara dalam Surah Muhammad ayat 15, Allah memberikan perumpamaan surga yang di dalamnya ada sungai-sungai khamr yang lezat rasanya, tapi tidak memabukkan dan tidak merusak.

Tiga pesan ini jadi pedomanku untuk membaca realitas yang aku temui hari ini.

Aku kenal beberapa lagu K-Pop karena sering mendengar anak-anak memutarnya di dalam mobil saat aku mengantar mereka berangkat ke sekolah. Industri K-Pop memang sangat masif dan mengglobal. Di sini aku menyaksikan langsung betapa besarnya mesin industri tersebut.

Industri K-Pop adalah mesin pencetak idola yang lahir dari kedisiplinan tingkat tinggi dan sistem pelatihan bertahun-tahun. Tapi di balik itu, mesin ini juga menyimpan sisi gelap. Aku ingat grup idola anakku, Bigbang. Mereka pernah berada di puncak pencapaian, dipuja jutaan penggemar, dan punya harta berlimpah. Ironisnya, ketika berada di puncak itu, ada dua orang anggotanya yang justru terjerat kasus kriminal, perdagangan manusia, dan narkoba.

Berada di puncak rupanya tidak membuat jiwa mereka tenang. Tekanan yang luar biasa memicu stres, dan kekosongan hati akhirnya mendorong mereka berbuat menyimpang. Pemandu lokal kami pun banyak bercerita bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi pada para artis, tapi juga meluas pada generasi muda yang gagal dalam sistem yang keras tersebut.

Standar kebahagiaan yang hanya bertumpu pada pencapaian materi akan sangat rapuh. Tanpa iman di dalam dada, puncak kesuksesan justru bisa berubah jadi ruang hampa yang menyesatkan.

Kekosongan dan tekanan hidup ini ternyata tidak berhenti di dunia hiburan. Dalam kehidupan sehari-hari, aku melihat bagaimana kompetisi yang ketat juga melahirkan bentuk pelarian lain, salah satunya budaya minum alkohol yang sangat kompleks.

Minum alkohol di negeri ini bukan sekadar kebiasaan pribadi, tapi bagian dari sistem sosial untuk membangun relasi dan mencairkan suasana kerja.

Aku sempat bertanya dalam hati, kenapa harus dengan alkohol. Selain faktor tradisi turun-temurun, ternyata ini juga jadi pelarian dari tekanan hierarki yang sehari-hari sangat mengekang.

Aku teringat ucapan Ustadz Firanda Andirja. Beliau pernah menyampaikan rasa herannya, kenapa manusia tidak mau menahan diri sedikit saja di dunia ini. Padahal kelak di surga, Allah sudah menyiapkan sungai-sungai khamr yang bisa diminum sepuasnya tanpa melanggar aturan, tanpa membuat mabuk, dan tanpa merusak akal.

Tapi di sisi lain, aku juga belajar untuk tidak melihat ini secara sederhana. Mengubah kebiasaan yang sudah mengakar memang tidak mudah. Aku teringat bagaimana Al-Qur’an sendiri menggunakan metode bertahap dalam mengharamkan khamr. Dimulai dari menjelaskan bahwa dosanya lebih besar dari manfaatnya, kemudian melarang shalat dalam keadaan mabuk, hingga akhirnya turun larangan total. Semua itu terjadi dalam rentang waktu yang panjang.

Dari sini aku belajar bahwa perubahan besar memang butuh proses dan kesabaran.

Manusia di sini bekerja sangat keras lalu mencari pelarian lewat alkohol. Dampaknya pun nyata. Saat berkunjung ke pusat Red Pine, aku baru tahu bahwa penyakit kanker hati dan gangguan pembuluh darah cukup tinggi. Salah satu penyebabnya konsumsi alkohol.

Ironisnya, aku melihat mereka juga berbondong-bondong mengonsumsi obat-obatan untuk mencegah penyakit organ hati, termasuk ekstrak pinus merah yang dipercaya mampu membersihkan darah dan memperbaiki fungsi hati. Mereka merusak tubuh dengan alkohol demi tuntutan sosial, lalu mencari penawar untuk memperbaikinya. Sebuah lingkaran yang melelahkan.

Perjalanan hari ini juga membawaku belajar membuat makanan fermentasi tradisional di Kimchi School. Ini cara cerdas bertahan hidup di musim dingin. Saat sayuran membeku, mereka mengawetkan sawi dengan garam dan menyimpannya agar tetap bisa memenuhi kebutuhan nutrisi.

Aku juga sempat singgah di pusat perhiasan Amethyst dan melihat bagaimana batu kecubung ungu terbentuk dari tekanan alam dalam waktu yang sangat lama. Dari Kimchi sampai Amethyst, aku melihat bagaimana manusia berusaha mengolah alam dan memperindah kehidupan mereka. Semua ini bentuk ikhtiar manusia dalam membangun dunia.

Menjelang sore, suasana berubah lagi. Aku menyusuri jalanan yang dipenuhi anak muda, musik jalanan, dan energi kebebasan yang meluap. Melihat wajah-wajah mereka, aku kembali merenung. Mereka semua sedang mencari sesuatu, mencari kebahagiaan, mencari ketenangan, mencari pelarian dari beban hidup.

Safar hari ini memberikan pelajaran yang sangat dalam. Etos kerja, kreativitas, dan kedisiplinan bangsa ini sangat layak dipelajari. Tapi cara mereka mencari pelarian dari tekanan hidup jadi pengingat keras bagi diriku sendiri.

Ketenangan sejati tidak lahir dari ketenaran. Tidak ditemukan di dasar gelas minuman. Tidak bisa disembuhkan secara instan oleh ramuan apa pun. Dan tidak ada di riuhnya jalanan.

Ketenangan sejati adalah anugerah dari Allah untuk hati yang tunduk, hati yang terhubung, dan hati yang mengenal Tuhannya.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News