Kotak Infak yang Tidak Pernah Terisi karena Tidak Ada yang Pegang Uang Tunai

Hari #19, 3 Oktober – Juz 3

Bismillah

Zaman sekarang yang paling repot itu urusan uang tunai. Bayar parkir susah, kembalian sudah jarang dipegang, dan dompet makin lama makin tipis isinya bukan karena bokek, tapi karena memang tidak ada lagi yang perlu disimpan di situ.

Termasuk untuk infak.

Di kantor kami ada masjid non permanen. Jamaah memakmurkannya dengan shalat berjamaah dan shalat Jumat, menempati bagian paling atas tempat parkir yang memang jarang terisi mobil. Shalat Jumatnya sudah berlangsung lama.

Tapi yang aku perhatikan, di sana cuma ada kotak infak tunai.

Jadi aku tawarkan untuk membuat QRIS. Idealnya QRIS infak dibuat atas nama rekening masjid. Masalahnya masjid non permanen ini tidak punya akta pendirian, jadi tidak bisa membuka rekening.

Akhirnya aku berinisiatif memakai salah satu rekening pribadiku, khusus untuk menampung infak dari QRIS itu. Pengurus masjid setuju, dan jadilah QRIS-nya, lengkap dengan stiker yang dipasang di sana.

Setiap pekan dananya aku transfer ke bendahara masjid, disertai laporan saldonya. Pemisahan dan pencatatan itu penting, apalagi karena rekeningnya atas nama pribadi. Uang titipan orang untuk masjid tidak boleh bercampur, walau sebentar.

Dan hasilnya di luar dugaan. Sekarang perolehan lewat QRIS sudah lebih besar daripada yang masuk ke kotak tunai. Totalnya pun naik.

Jadi ternyata bukan jamaahnya yang enggan. Jalannya saja yang dulu tidak tersedia.

Aku senang ini bisa jalan. QRIS sendiri salah satu kebanggaan kita, karena memindahkan transaksi bernilai triliunan yang dulu lewat jaringan asing, yang keuntungannya mereka nikmati. Sekarang semua jadi lebih gampang, termasuk untuk berinfak.

Tapi pertanyaannya bukan di situ

Stikernya sudah terpasang. Jalannya sudah dibuka. Angkanya sudah naik.

Pertanyaan yang sebenarnya: seberapa sering aku sendiri memakainya?

Dan yang aku maksud bukan jumlahnya. Yang aku maksud rutinnya.

Karena kemudahan itu pedang bermata dua. Dulu alasannya tidak ada uang kecil di dompet. Sekarang alasan itu sudah hilang, dan kalau tetap jarang berinfak, berarti masalahnya memang bukan di kotak infaknya.

Juz hari ini hampir separuhnya bicara soal ini

Ada perumpamaan yang terkenal:

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.” (Al-Baqarah: 261)

Perhatikan yang dipakai sebagai perumpamaan: sebutir biji. Bukan sekarung.

Yang kecil itu justru yang jadi contoh. Karena yang menentukan bukan besarnya, tapi apakah ditanam atau tidak.

Dan biji punya sifat yang tidak dimiliki benda lain. Dia tidak langsung jadi. Butuh waktu, butuh diulang musim demi musim. Satu kali menanam tidak membuat orang jadi petani.

Beberapa ayat kemudian ada peringatan soal mutunya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ ۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu infakkan.” (Al-Baqarah: 267)

Dulu “yang buruk” itu maksudnya kurma yang jelek, hasil panen yang tidak laku dijual. Sekarang bentuknya berubah. Yang buruk itu uang receh sisa kembalian yang kebetulan ada di saku, diberikan karena memang tidak tahu mau diapakan.

Dengan QRIS, alasan itu hilang sama sekali. Kita memilih sendiri angkanya, dengan sadar, dari saldo yang sama yang kita pakai membeli kopi.

Justru di situ ujiannya.

Dan ada ayat yang menjelaskan kenapa kita suka menunda

وَالشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاۤءِ ۚ وَاللّٰهُ يَعِدُكُمْ مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا

“Setan menjanjikan kemiskinan kepadamu dan menyuruhmu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu.” (Al-Baqarah: 268)

Bisikannya bukan “jangan berinfak”. Bisikannya “nanti saja kalau sudah lebih longgar”.

Dan “lebih longgar” itu tidak pernah datang, karena pengeluaran selalu menyesuaikan diri dengan pemasukan.

Hubungannya dengan perjalanan nanti

Di catatan manasik yang pertama aku menulis soal bekal. Biaya yang halal dan cukup, urusan yang diselesaikan, badan yang disiapkan, ilmu yang dipelajari.

Setelah menulis soal infak hari ini, ada satu pos yang menurutku luput dari daftar itu.

Bekal untuk diberikan.

Selama ini kalau menghitung biaya keberangkatan, yang dihitung kebutuhan sendiri. Tiket, hotel, makan, oleh-oleh, dan cadangan kalau ada apa-apa. Pos untuk memberi biasanya tidak ada, dan akhirnya kalau di sana ada kesempatan, yang dipakai sisa, atau tidak jadi sama sekali karena merasa anggarannya sudah mepet.

Padahal di sana orang yang membutuhkan ada di depan mata. Tidak perlu dicari. Petugas kebersihan yang bekerja sepanjang malam, jamaah tua yang kesulitan, orang yang betul-betul kehabisan bekal.

Aku tidak mau menyebut angka pelipatgandaan, karena yang punya dalil tegas soal berlipat itu shalatnya. Tapi tempat itu memang mulia, waktunya memang istimewa, dan orang yang berhak menerima memang ada di sekeliling kita. Tiga hal itu sudah cukup.

Jadi mulai sekarang aku siapkan pos tersendiri. Dianggarkan sejak awal, bukan diambil dari sisa.

Dan soal ilmunya, memberi pun ada aturannya. Ayat 267 tadi mengatur mutunya, dan ayat 264 memberi peringatan yang lebih keras: jangan merusak sedekah dengan menyebut-nyebut pemberian dan menyakiti penerimanya. Orang bisa memberi dengan sungguh-sungguh, lalu amalnya hilang karena caranya.

Tapi yang paling aku butuhkan dari infak sebenarnya bukan itu semua.

Yang aku butuhkan pelembutan hatinya. Ada riwayat ketika seseorang mengadu kepada Nabi bahwa hatinya keras, dan yang beliau perintahkan bukan memperbanyak bacaan, melainkan mengusap kepala anak yatim dan memberi makan orang miskin.

Itu masuk akal. Yang membuat hati mengeras biasanya merasa semuanya milik sendiri. Melepaskan sedikit demi sedikit, berulang-ulang, adalah cara paling sederhana untuk mengingatkan diri bahwa bukan begitu kenyataannya.

Dan hati yang sudah terlatih melepas, nanti di sana tidak perlu berpikir dua kali.

Stikernya sudah aku pasang untuk orang lain. Sekarang giliran aku sendiri yang memakainya.

Wallahu a’lam bi showab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *