Bisikan-bisikan di Kantor: Dua Sisi yang Sama-Sama Merasa Benar: Rumor vs Kebijakan Resmi

28 Juli, Juz 28

Bismillahirrahmanirrahim. Beberapa waktu lalu di kantor, ada seorang leader yang harus meninggalkan perusahaan karena suatu alasan. Dengan pertimbangan bisnis, perusahaan mengeluarkan surat pengumuman resmi, termasuk alasan kepergiannya. Sebagai karyawan, surat itu jadi pedoman kami, baik untuk menjawab kalau ada yang bertanya, maupun sebagai pemahaman resmi bersama. Tapi dalam proses sebelum pengunduran diri itu terjadi, ada beberapa kejanggalan yang sempat disaksikan sejumlah orang, sampai muncul pertanyaan, apakah pengumuman resmi itu benar-benar mencerminkan yang sebenarnya terjadi. Dari situ mulai muncul bisikan-bisikan dan rumor.

Yang menarik, dua sikap ini sama-sama merasa berada di posisi benar. Yang membisikkan rumor merasa sedang membela fakta dan kebenaran. Yang memilih diam dan berpegang pada pengumuman resmi merasa sedang menjaga prinsip menghormati kebijakan perusahaan, apapun isinya. Seorang teman dari tim legal cuma berkomentar singkat, “biarkan saja lah.”

Peristiwa ini yang membawaku kembali ke Al-Mujadalah 8-10, ayat yang berbicara persis soal bisikan dan dampaknya pada kepercayaan sebuah kelompok.

Ayat 8
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نُهُوا عَنِ النَّجْوَىٰ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَيَتَنَاجَوْنَ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ
“Apakah tidak kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka berbisik-bisik untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul?”

Ayat 9-10
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ وَتَنَاجَوْا بِالْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ … إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul, dan bicarakanlah tentang berbuat kebajikan dan takwa… Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, padahal pembicaraan itu tidak memberi mudarat sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah.”

Riwayat Ibnu Abi Hatim dari Muqatil bin Hayyan menjelaskan latar turunnya ayat ini. Saat itu ada perjanjian damai antara Nabi dan kaum Yahudi Madinah. Tapi setiap kali seorang sahabat lewat di dekat mereka, orang-orang Yahudi sengaja duduk berbisik-bisik satu sama lain, sampai sahabat yang lewat curiga, khawatir mereka sedang merancang rencana jahat. Nabi sudah melarang kebiasaan itu, tapi mereka mengulanginya lagi, sampai Allah menegur langsung lewat ayat 8. Ada hadis pendukung yang relevan, “Apabila kalian bertiga, janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa yang ketiga, sampai kalian berbaur dengan orang banyak, karena hal itu akan membuatnya sedih.”

Yang menarik, ayat 9-10 tidak berhenti mengutuk kaum Yahudi dan munafik itu, tapi berbalik menegur orang beriman sendiri, mengingatkan bahwa bisikan rahasia itu boleh saja terjadi, tapi isinya harus kebajikan dan takwa, bukan dosa. Ayat 10 menambahkan penjelasan psikologis yang tajam, tujuan bisikan buruk itu sebenarnya cuma satu, membuat orang beriman bersedih, meski secara nyata tidak bisa membahayakan mereka kecuali dengan izin Allah.

Ada satu model di buku The Decision Book (Krogerus & Tschäppeler) yang belum pernah dibahas di jurnal ini, namanya The Subtle Signals Model, subjudulnya “Why nuances matter”, dari bab How to Understand Yourself Better. Model ini menjelaskan gejala yang sering muncul di organisasi, informasi tidak mengalir ke tempat yang seharusnya, antar-departemen saling bersaing alih-alih saling mendukung, dan keputusan sering diambil berdasar gaya komunikasi yang terdengar meyakinkan, bukan fakta sebenarnya. Buku ini mengutip teoretikus organisasi Elliott Jaques, “Manajemen hari ini berada di posisi yang sama seperti ilmu alam di abad ketujuh belas, belum ada satu konsep pun yang benar-benar mapan untuk dibangun teori yang bisa diuji.”

Kalau dipetakan ke peristiwa di kantor kemarin, dua kubu yang muncul itu sebenarnya sama-sama merespons satu gejala yang sama, informasi yang tidak mengalir sepenuhnya. Yang berbisik rumor merasa mengisi celah itu dengan versi yang mereka yakini lebih dekat ke kebenaran. Yang memilih diam berpegang pada informasi resmi merasa sedang menjaga tatanan, meski tahu ada celah yang belum terjelaskan. Subtle Signals Model mengingatkan, disfungsi semacam ini sering muncul bukan karena ada pihak yang benar-benar jahat, tapi karena nuansa dan detail kecil di sekitar sebuah keputusan tidak pernah benar-benar sampai ke semua orang, sehingga masing-masing pihak menyusun narasinya sendiri untuk mengisi kekosongan itu.

Ayat 10 menjelaskan kenapa bisikan semacam ini terasa berat secara emosional meski secara faktual tidak selalu berbahaya, tujuannya memang menanam kesedihan dan kecurigaan, bukan menyelesaikan apapun. Komentar teman dari tim legal, “biarkan saja lah,” barangkali justru mendekati semangat ayat 10, bertawakal pada kenyataan bahwa bisikan itu tidak bisa mendatangkan mudarat nyata kecuali dengan izin Allah, jadi tidak perlu ikut larut membalasnya dengan bisikan tandingan.

Yang bisa dipetik dari sini bukan soal siapa yang benar antara membela transparansi atau membela kebijakan resmi, tapi soal bagaimana menyikapi ruang abu-abu di antara keduanya. Kalau memang ada kejanggalan yang perlu diklarifikasi, jalurnya semestinya lewat saluran yang tepat, bukan bisikan yang justru menambah kecurigaan dan kesedihan kolektif tanpa penyelesaian nyata.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News