Hari #18, 2 Oktober – Juz 2
Bismillah
Kemarin tentang rumah yang dibangun Ibrahim. Hari ini tentang saat rumah itu ditetapkan jadi arah shalat seluruh umat.
Setelah hijrah ke Madinah, kaum muslimin shalat menghadap Baitul Maqdis. Kira-kira enam belas atau tujuh belas bulan lamanya. Dan selama itu Rasulullah ﷺ sering menengadahkan wajah ke langit.
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِ ۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
“Sungguh Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit. Maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.” (Al-Baqarah: 144)
Beliau tidak meminta dengan lisan. Yang ada cuma wajah yang berkali-kali menengadah, dan itu sudah cukup terbaca.
Ada riwayat dalam Bukhari dan Muslim tentang bagaimana kabar itu sampai. Seorang sahabat baru selesai shalat Asar bersama Rasulullah ﷺ, lalu lewat di dekat sekelompok orang yang sedang rukuk, masih menghadap Baitul Maqdis. Dia berseru bahwa kiblat sudah berubah. Dan mereka berputar, dalam keadaan masih shalat.
Di Madinah ada masjid yang kemudian dikenal sebagai Masjid Qiblatain, masjid dua kiblat, karena peristiwa serupa terjadi di sana.
Yang bikin kejadian itu terasa lain buatku adalah kecepatannya. Tidak minta penjelasan dulu, tidak menunggu sampai shalat selesai, tidak menunda sampai besok. Dengar kabar, langsung berputar. Padahal mereka sudah enam belas bulan menghadap arah yang lama, sudah terbiasa, dan selama itu memang benar.
Perintah inilah yang sampai hari ini membuat miliaran orang bergerak ke satu titik yang sama, lima kali sehari. Dan di mataf, arah itu tidak perlu dicari lagi. Bangunannya ada di depan mata, dan safnya melingkar mengelilinginya.
Dua pengingat dari dua masjid
Kemarin malam, di Masjid Baitul Hakim di komplek sebelah, ustadznya mengingatkan jamaah tentang kaifiyah shalat.
Dan tadi pagi, di Masjid Al-Akbar di komplek kami, ustadz menyampaikan sesuatu yang searah dengan itu.
Alangkah beruntungnya orang yang mau belajar dan memperdalam ilmu. Karena dengan belajar, dia tahu bagian mana dari ibadahnya yang kurang sempurna, lalu bisa memperbaiki. Sementara orang yang merasa ibadahnya sudah cukup, dan lebih suka menghabiskan waktunya untuk urusan lain, bisa jadi menanggung ketidaksempurnaan yang membuat ibadahnya tidak sah tanpa dia sadari.
Jadi dalam dua hari berturut-turut aku mendengar hal yang sama. Ada yang perlu aku periksa ulang.
Jujur saja aku agak lupa detailnya. Soal cara bertakbir misalnya, ada beberapa kaifiyah yang berbeda di antara empat mazhab. Seingatku dulu aku sudah memastikan mana yang aku ikuti dan kenapa. Tapi sekarang aku harus buka buku lagi.
Dan itu tidak apa-apa. Orang yang mau memeriksa ulang jauh lebih aman daripada orang yang merasa sudah selesai.
Para sahabat yang berputar di tengah shalat itu pun sedang melakukan hal yang sama. Mereka tidak sedang mengaku salah, karena arah yang lama memang benar pada waktunya. Mereka cuma menerima bahwa ada yang perlu diubah, lalu langsung mengubahnya.
Aku sendiri sering kesulitan mengubah kebiasaan yang jauh lebih kecil dari itu.
Belajar Manasik 01: Bekal dan niat sebelum berangkat
Juz ini memuat panduan haji paling padat dalam Al-Qur’an, di Surat Al-Baqarah ayat 196 sampai 203. Dari situ aku mulai rangkaian belajar manasik ini, dari langkah paling awal.
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰى وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
“Dan berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (Al-Baqarah: 197)
Menurut riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas, ayat ini turun berkaitan dengan sebagian orang Yaman yang berangkat haji tanpa membawa bekal. Mereka mengatakan dirinya bertawakal, lalu sesampainya di sana justru meminta-minta kepada orang.
Jadi perintahnya jelas: berbekallah. Bukan berangkat dengan tangan kosong lalu menyebutnya tawakal.
Yang perlu disiapkan sebelum berangkat:
Biaya yang halal dan cukup, termasuk untuk keluarga yang ditinggalkan di rumah.
Urusan yang belum selesai. Utang dilunasi atau diberi tahu, amanah dikembalikan, kesalahan kepada orang dimintakan maaf.
Badan. Umrah itu berjalan jauh, berdiri lama, dan berdesakan. Latih jalan kaki sejak sekarang.
Ilmu. Pelajari urutan manasiknya sebelum berangkat, supaya di sana kita beribadah, bukan sekadar mengikuti arahan mutawif.
Dan inilah yang sedang aku kerjakan lewat madrasah seratus hari ini. Termasuk lewat hal-hal yang datang di luar rencana, seperti pengajian kemarin malam dan tadi pagi. Dua-duanya tidak membahas umrah sama sekali, tapi masuk ke dalam bekal yang sama.
Kalau kaifiyah shalat yang aku kerjakan lima kali sehari saja masih perlu diperiksa ulang, apalagi manasik yang mungkin cuma kita kerjakan sekali atau dua kali seumur hidup.
Dan yang disebut ayat tadi sebagai sebaik-baik bekal, yaitu takwa. Perhatikan bahwa ayat itu tidak berkata jangan bawa bekal. Perintahnya tetap berbekal. Yang ditambahkan cuma pengingat bahwa ada satu bekal yang lebih menentukan daripada seluruh isi koper.
Soal niat, umrah dimulai dengan niat ihram yang diucapkan di miqat, bukan dari rumah. Yang dibawa dari rumah adalah niat yang lebih dalam dari itu: untuk siapa perjalanan ini.
Tempat dan tata cara niat ihram akan dibahas di langkah berikutnya.
Wallahu a’lam bi showab.






