28 April, Juz 28
Bismillah.
Memasuki Juz 28 (Surah Al-Mujadilah hingga Surah At-Tahrim), Al-Qur’an menyajikan penjelasan yang sangat jernih tentang bagaimana sebuah sistem penindas runtuh dari dalam, sekaligus membongkar kepalsuan ideologi yang membajak nama agama. Di juz ini, Surah Al-Hasyr membedah rapuhnya benteng pertahanan yang selama ini dibanggakan, sementara Surah Al-Jumu’ah menelanjangi akar kesombongan teologis mereka.
Tepat pada 28 April ini, ayat-ayat tersebut terasa begitu nyata ketika dunia diguncang oleh terbitnya buku dan wawancara Prof. Omer Bartov. Beliau bukan orang sembarangan—seorang sejarawan Holocaust terkemuka, veteran militer Israel, sekaligus akademisi yang paham betul seluk-beluk sistem tersebut. Secara terbuka, ia menyatakan bahwa Zionisme telah menjelma menjadi mesin pembantaian massal dan harus segera dihentikan.
Momen ini mengingatkan pada peringatan Allah dalam Surah Al-Hasyr ayat 2:
…وَيَظُنُّونَ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمْ حُصُونُهُم مِّنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا… يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ…
“…wa zhannū annahum māni‘atuhum ḥuṣūnuhum minallāhi fa atāhumullāhu min ḥaiṡu lam yaḥtasibū… yukhribūna buyūtahum bi’aidīhim wa aidil-mu’minīn…”
Rezim penjajah selalu merasa aman di balik benteng narasi dan pencitraan yang dibangun berpuluh-puluh tahun. Namun, Allah menghancurkan kebohongan itu dari arah yang tidak pernah mereka duga. Kesaksian jujur dari tokoh yang tumbuh di dalam lingkaran mereka sendiri menjadi bukti bahwa narasi palsu bisa runtuh bukan hanya karena gempuran dari luar, melainkan karena kebusukan yang akhirnya terbongkar dari dalam.
Kepalsuan ideologi ini kemudian dipertegas dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 5 lewat perumpamaan yang sangat menohok:
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا…
“Maṡalullażīna ḥummilut-taurāta ṡumma lam yaḥmilūhā kamaṡalil-ḥimāri yaḥmilu asfārā…”
Ini bukan sekadar catatan sejarah masa lalu, melainkan teguran universal. Ketika kitab suci dan nilai-nilai agama hanya dijadikan alat politik tanpa pernah menghadirkan keadilan dan kemanusiaan, agama itu kehilangan ruhnya. Membawa teks suci tanpa keberanian moral untuk menegakkan keadilan hanya membuat pelakunya seperti keledai yang memikul tumpukan buku tebal—tidak mengerti hakikat kebenaran yang dibawanya.
Kebangkrutan moral ini kian benderang saat disandingkan dengan Surah Al-Jumu’ah ayat 6-7:
قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِن زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِن دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ . وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ…
“Qul yā ayyuhallażīna hādū in za‘amtum annakum auliyā’u lillāhi min dūnin-nāsi fatamannawul-mauta ing kuntum ṣādiqīn. Wa lā yatamannaunahū abadam bimā qaddamat aidīhim…”
Ayat ini meruntuhkan perasaan merasa paling istimewa atau merasa menjadi kelompok pilihan Tuhan. Klaim superioritas semacam itu menjadi tidak bermakna ketika perbuatan di lapangan penuh dengan kezaliman. Ketakutan luar biasa yang menyelimuti mereka sejatinya lahir dari kesadaran batin atas tumpahan darah dan kejahatan yang dilakukan oleh tangan mereka sendiri.
Juz 28 memberikan pelajaran berharga bahwa kehancuran sebuah sistem tiran sering kali berakar dari dalam rumahnya sendiri. Ketika suara kejujuran mulai bergema dari orang-orang yang pernah berdiri di dalam sistem tersebut, dan ketika ajaran agama dipisahkan dari nilai keadilan, maka keruntuhan bangunan itu hanyalah soal waktu. Kekuatan sejati tidak pernah terletak pada benteng propaganda atau persenjataan, melainkan pada kejujuran, keadilan, dan keselarasan antara keyakinan dan perbuatan.
Wallahu a’lam.
