29 April, Juz 29
Bismillah.
Memasuki Juz 29 (Surah Al-Mulk hingga Surah Al-Mursalat), irama bacaan terasa berubah menjadi lebih cepat, menggetarkan, dan penuh dengan peringatan yang tegas. Secara riwayat sebab turunnya ayat, surah-surah Makkiyah di juz ini awalnya diturunkan di Makkah untuk meruntuhkan kesombongan para tiran Quraisy saat itu, seperti Abu Jahal dan Al-Walid bin Al-Mughirah.
Namun dalam kaidah tafsir, ada prinsip penting yang sangat terkenal: al-‘ibratu bi ‘umūmin-lafdzi lā bi khushūshis-sabab—pelajaran itu diambil dari keumuman makna kata, bukan terbatas pada khusus sebab turunnya saja. Al-Qur’an sejatinya sedang memberikan gambaran mendasar tentang watak dasar para penindas di setiap zaman.
Ketika hari ini kita membaca berita militer Israel mencegat dan menyita kapal-kapal bantuan kemanusiaan dari armada Global Sumud Flotilla (GSF) yang hendak berlayar menuju Gaza di perairan internasional, rasanya kita seperti sedang melihat watak elit musyrik Quraisy itu dipraktikkan kembali secara presisi.
Dalam Surah Al-Qalam ayat 12, Allah menggambarkan salah satu karakter buruk mereka:
مَنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ
“Mannā‘il lil-khairi mu‘tadin aṡīm.”
Artinya: “(Dan janganlah engkau patuhi orang) yang sangat enggan memberikan kebajikan, yang melampaui batas, lagi banyak dosa.”
Sifat ini makin dipertegas melalui kisah Ashabul Jannah atau Pemilik Kebun di Surah Al-Qalam ayat 17-24. Cerita tentang sekelompok pemilik kebun yang bersekongkol memanen hasil kebun mereka secara diam-diam di pagi hari, agar orang-orang miskin tidak bisa mendapatkan bagian sedikit pun dari hasil panen tersebut.
Karakter ini persis dengan siapa pun yang sengaja menghalangi bantuan kemanusiaan. Mereka bukan sekadar enggan memberi dari milik sendiri, melainkan aktif mencegah orang lain agar tidak bisa mengulurkan bantuan. Al-Qur’an menunjukkan bahwa ketamakan dan sikap menghalangi kebaikan seperti ini pada akhirnya hanya akan mencabut keberkahan dan mengundang kerugian besar yang tidak disangka-sangka.
Di sisi lain, Al-Qur’an juga membenturkan ilusi kekuatan militer dengan kekuatan niat yang tulus. Dalam Surah Al-Mulk ayat 20, Allah menegaskan bahwa bala tentara dan penolong tidak akan mampu menyelamatkan siapa pun tanpa perlindungan dari Allah Yang Maha Pengasih. Sementara dalam Surah Al-Insan ayat 8-9, Allah memuji orang-orang yang tetap memberi makan kepada yang membutuhkan hanya demi mengharap keridaan-Nya, tanpa menuntut balasan atau ucapan terima kasih.
Inilah yang membedakan antara pihak yang bertumpu pada persenjataan fisik dengan pihak yang bertumpu pada keteguhan hati (sumud). Pihak pertama mungkin merasa memegang kendali atas ruang gerak manusia, tetapi pihak kedua memegang nilai moral dan kemanusiaan yang tidak bisa dihancurkan.
Poin paling menakutkan dalam juz ini ada pada konsep istidraj, sebagaimana terekam dalam Surah Al-Qalam ayat 44-45:
فَذَرْنِي وَمَن يُكَذِّبُ بِهَٰذَا الْحَدِيثِ ۖ سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ . وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ
“Fa żarnī wa may yukażżibu bihāżal-ḥadīṡ, sanastadrijuhum min ḥaiṡu lā ya‘lamūn. Wa umlī lahum, inna kaidī matīn.”
Artinya: “Maka serahkanlah kepada-Ku (urusannya)… Kelak akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur menuju kebinasaan dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tenggang waktu kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku sangat teguh.”
Istidraj terjadi saat kezaliman dan kesombongan dibiarkan terus berjalan seolah-olah berhasil tanpa hambatan. Pelakunya merasa aman dan merasa tindakannya selalu benar, padahal penangguhan itu sejatinya adalah jebakan yang makin mendekatkan mereka pada kejatuhan.
Juz 29 mengingatkan kita bahwa watak penindas selalu berulang sepanjang sejarah: menghalangi kebaikan, bangga dengan kekuatan fisik, dan terjebak dalam rasa aman palsu. Tetapi di atas semua itu, ada nilai keberanian, ketulusan, dan keteguhan yang jauh lebih abadi. Keberhasilan lahiriah yang dibangun dari kezaliman bukanlah tanda kemenangan, melainkan proses menuju penyesalan yang pasti datang.
Wallahu a’lam.
