12 Februari, Juz 12
Dipikir-pikir aku kenal kata insecure belum lama. Karena masa mudaku dulu tidak ada istilah itu. Tapi karena hari-hari ini sering aku dengar dari cerita-cerita anakku, aku mulai serius memahami.
Hari ini masuk Juz 12, ada Surat Yusuf drama kehidupan Yusuf AS, yang disebut dalam Al-Quran sebagai kisah terbaik.
Insecure (perasaan tidak aman/tidak berharga karena membandingkan diri) aku pikir adalah perasaan yang hanya dirasakan Gen Z, tapi ternyata adalah penyakit tua yang terekam jelas di Surat Yusuf.
Kakak-kakak Nabi Yusuf, walau mereka anak seorang Nabi, mereka banyak dan kuat, tapi mereka punya perasaan insecure.
Mereka berkata: “Yusuf dan saudaranya lebih dicintai ayah kita daripada kita, padahal kita ini satu golongan yang kuat.” (QS Yusuf: 8)
Rasa insecure membuat mereka butuh validasi manusia. Karena merasa “kalah saing”, mereka membuang Yusuf ke sumur.
Dari situ dipahami kalau insecure yang tidak diobati akan melahirkan hasad (dengki) dan kejahatan.
Lalu bagaimana Yusuf? Dibuang, jadi budak, dipenjara. Secara status sosial harusnya merasa rendah dan hina, minder seumur hidup.
Tapi Yusuf tetap tegak. Dia “Secure” (Tenang).
Kenapa? Karena dia punya Husnudzon kepada Allah.
Yusuf tidak hanya “percaya Allah baik”. Ia tetap bekerja dengan excellence. Saat jadi budak, ia profesional. Saat dipenjara, ia berdakwah dan membantu orang lain menafsir mimpi. Saat diberi amanah mengurus logistik Mesir, ia kompeten.
Husnudzon yang aktif melahirkan kualitas.
Logikanya bisa aku terapkan, kalau aku husnudzon (yakin) akan akan menang tender, maka konsekuensinya: aku harus propose metodologi terbaik dan financial proposal kompetitif. Pantas lah kalau aku bikin proposal sampai tepar.
Kalau aku husnudzon akan mendapat Lailatul Qadar, maka konsekuensinya aku akan bangun setiap malam, biar tidak ada celah berselisih.
Kalau ada rasa insecure dalam diriku, mungkin muncul karena aku terlalu banyak melihat hasil orang lain, tapi minim melakukan aksi sendiri atau ikhtiar.
Tapi kalau aku sibuk “berkeringat” melakukan ikhtiar, rasa insecure itu akan mati dengan sendirinya. Harusnya aku jadi percaya diri, bukan karena aku hebat, tapi karena aku tahu Allah melihat usahaku.
Surat Yusuf mengajarkan: Fokus pada takdir Allah untukku, bukan membandingkan jatah orang lain.
Sebentar lagi Ramadhan. Ini adalah momen terbaik. Kalau rasa insecure-ku muncul kembali, aku harus membangun harga diri di hadapan Allah.
Jangan sampai aku masuk Ramadhan dengan mental insecure: “Ah, dosaku banyak, doa dan tobat pasti percuma.”
Tapi aku mau dengan husnudzon yang aktif: “Aku yakin Allah Maha Pengampun, maka aku akan minta ampun sungguh-sungguh.” “Aku yakin Allah menerima doa, maka aku akan berdoa sampai menangis.”
Aku harus sibukkan diri dengan aksi. Biarkan orang lain pamer pencapaian dunianya. Aku fokus membangun “pencapaian langit”.
Ketika aku sibuk mengejar ridho Allah, aku tidak akan punya waktu lagi untuk merasa insecure pada penilaian manusia.
Wallahu a’lam.



