Mereka Memasang Spanduk “Singa” di Atas Reruntuhan Rumah Sakit, dan Al-Qur’an Punya Sebutan Lain untuk Mereka

23 April, Juz 23

Bismillah.

Sampai hari ini, 23 April 2026, sudah lebih dari 72.568 nyawa gugur di Gaza. Angka itu terlalu besar untuk dibayangkan, dan mungkin justru karena itu ia berhenti terasa. Sementara serangan ke masjid, penembakan remaja lima belas tahun, dan kawat berduri yang memblokade sekolah anak-anak di Um al-Khair, Tepi Barat, sudah jadi pemandangan harian.

Lalu muncul satu gambar yang membuat aku berhenti lebih lama daripada biasanya. Militer Zionis menancapkan spanduk bertuliskan “Rising Lion”, Singa yang Bangkit, di atas reruntuhan Rumah Sakit Indonesia di kawasan Jabalia. Pemerintah Indonesia langsung melayangkan protes keras.

Aku terus memikirkan pilihan kata itu. Singa. Dipasang di atas puing sebuah rumah sakit, fasilitas kemanusiaan yang tidak punya satu pun senjata untuk membalas.

Dan Juz 23, yang membentang dari Yasin ayat 28 sampai Az-Zumar ayat 31, ternyata punya sebutan sendiri untuk pasukan semacam itu.

Jundum mā hunālika mahzūmum minal-aḥzāb.

“Suatu bala tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang bersekutu, pasti akan dikalahkan.” (QS 38:11)

Jundun mahzūm, pasukan yang kalah. Bukan pasukan yang nanti akan kalah setelah bertempur, tapi pasukan yang statusnya memang sudah kalah sejak awal.

Dalam kacamata militer mana pun, menghancurkan rumah sakit dan membunuh pasien bukan kemenangan. Itu justru penanda paling jelas bahwa yang melakukannya tidak sanggup menghadapi lawan yang bisa membalas. Spanduk itu bukan simbol kejayaan, melainkan pengumuman bahwa nurani di dalam sana sudah mati. Satu pihak menamai dirinya singa, dan Allah sudah menamai mereka pecundang jauh sebelum spanduk itu dicetak.

Yang lebih berat justru pertanyaan yang muncul saat melihat anak-anak terhalang kawat berduri dan remaja ditembak tanpa sebab. Ke mana perginya keadilan untuk puluhan ribu korban ini?

Wa mā khalaqnas-samā’a wal-arḍa wa mā bainahumā bāṭilā, dzālika ẓannulladzīna kafarū…

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir.” (QS 38:27)

Anggapan bahwa semua ini berlangsung tanpa perhitungan, bahwa alam semesta ini kosong dari keadilan, justru disebut sebagai cara berpikir orang-orang yang ingkar. Tidak ada yang terjadi sia-sia, dan tidak ada darah yang menetes tanpa dicatat. Para pelaku boleh merasa aman dari hukum dunia, dan sejauh ini memang begitu, tapi rasa aman itu cuma berlaku di satu pengadilan yang bukan pengadilan terakhir.

Di tengah semua itu, ada pemandangan lain yang tidak kalah penting. Sebagian kelompok Yahudi Ortodoks anti-Zionis menggelar aksi penolakan, mengibarkan solidaritas untuk Palestina, bahkan terang-terangan menentang simbol-simbol negara Israel.

Wa bāraknā ‘alaihi wa ‘alā isḥāq, wa min dzurriyyatihimā muḥsinuw wa ẓālimul linafsihī mubīn.

“Dan Kami limpahkan keberkatan atasnya (Ibrahim) dan atas Ishak. Dan di antara keturunannya ada yang berbuat baik dan ada yang berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (QS 37:113)

Satu garis keturunan, dua jalan yang berbeda. Ada yang muhsin, ada yang zalim terhadap dirinya sendiri. Ayat ini penting supaya aku tidak ikut-ikutan berpikir dengan cara yang sama seperti mereka. Kezaliman itu pilihan, bukan identitas yang menempel pada darah dan keturunan. Menyamaratakan seluruh keturunan Ishak sama saja dengan meminjam logika supremasi yang sedang aku kritik.

Dan perlawanan yang muncul dari dalam kelompok mereka sendiri itu bukti bahwa kebenaran tidak pernah benar-benar padam di mana pun.

Jadi spanduk singa di atas puing itu sebetulnya sedang mengumumkan hal yang berlawanan dengan maksudnya. Yang dipamerkan bukan kekuatan, melainkan kelemahan yang berusaha ditutup dengan kata-kata besar.

Mesin kekerasannya memang masih berjalan. Tapi retakannya makin kelihatan, kebenarannya mulai bersuara bahkan dari dalam tubuh mereka sendiri, dan di atas semua itu ada perhitungan yang tidak pernah lalai dan tidak pernah sia-sia.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News