Hari kelima, 19 September, Juz 19
Bismillah
Pagi ini, di taklim ba’da Subuh di Masjid Al-Akbar, Ustadz menyampaikan satu bab dari Imam Al-Ghazali. Salah satu yang merusak kehidupan seseorang adalah bakhil.
Penjelasannya menarik, karena bukan soal pelit uang receh. Kebakhilan sering kali muncul karena seseorang sedang menyiapkan uang. Kadang uang itu disiapkan untuk maksiat. Lebih sering lagi disiapkan untuk masa depan, termasuk masa depan anak-anak, sampai lupa bahwa yang menjamin masa depan bukan simpanan itu.
Kebalikannya adalah sakha’ atau jud: dermawan, memberi tanpa mengharap apa-apa.
Dan puncaknya adalah itsar. Mendahulukan orang lain padahal kita sendiri sedang butuh.
وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9)
Ayat ini turun sebagai pujian untuk penduduk Madinah yang berbagi dengan kaum Muhajirin, padahal mereka sendiri tidak berlebih.
Perhatikan susunan kalimat terakhirnya: man yuqa syuhha nafsihi, siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya. Bentuknya pasif. Artinya kikir itu sifat bawaan yang perlu dijaga dari luar, bukan sesuatu yang otomatis hilang karena kita merasa orang baik.
Ada kisah Abu Thalhah yang menjamu tamu Nabi. Malam itu di rumahnya cuma ada makanan untuk anak-anak. Dia dan istrinya menidurkan anak-anak lebih dulu, lalu memadamkan lampu, dan pura-pura ikut makan supaya sang tamu tidak sungkan menghabiskan. Padahal mereka tidak makan apa-apa.
Itsar itu bukan memberi dari kelebihan. Itsar itu memberi dari kekurangan, lalu menutupinya rapat-rapat supaya yang diberi tidak merasa berutang.
Dan juz hari ini bicara hal yang sama
Juz 19 memuat daftar yang barangkali paling praktis dalam Al-Qur’an: ciri-ciri ‘Ibadurrahman, hamba-hamba Ar-Rahman. Ada dua belas ciri, berurutan di akhir Surat Al-Furqan.
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang tidak sopan, mereka mengucapkan ‘salam’.” (Al-Furqan: 63)
Yang disebut paling pertama bukan shalatnya, bukan puasanya, bukan sedekahnya. Tapi cara berjalan.
Yang kedua adalah cara merespons orang yang menyapa dengan kasar. Jawabannya bukan balik kasar, bukan juga membela diri panjang lebar. Jawabannya satu kata: salam.
Daftar berikutnya mengalir ke soal harta.
وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi pertengahan di antara keduanya.” (Al-Furqan: 67)
Dua-duanya disebut sebagai cacat: boros dan kikir. Ini menyambung persis dengan kajian pagi tadi.
Lalu satu ciri lagi yang sangat cocok untuk orang yang sedang berdesakan di tempat ramai:
وَاِذَا مَرُّوْا بِاللَّغْوِ مَرُّوْا كِرَامًا
“Dan apabila mereka melewati sesuatu yang sia-sia, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan diri.” (Al-Furqan: 72)
Lewat saja. Tidak perlu berhenti, tidak perlu ikut campur, tidak perlu membalas.
Susunan daftarnya sendiri layak diperhatikan. Dibuka dengan cara berjalan dan cara menjawab orang, lalu ibadah malam, lalu harta, lalu larangan-larangan besar, dan ditutup dengan doa untuk pasangan dan anak. Dimulai dari luar rumah, berakhir di dalam rumah.
Haramain adalah tempat ujian untuk semua daftar itu
Ini yang aku pikirkan pagi ini. Mengunjungi Haramain artinya sebagian besar yang akan kita temui adalah jamaah dari berbagai negara, dengan berbagai bahasa, berbagai kebiasaan, dan berbagai sifat.
Daftar ‘Ibadurrahman jadi sangat konkret di sana.
Aku ingat pernah duduk bersebelahan dengan seorang jamaah dari Pakistan. Dia kesulitan mengatur internet di ponselnya. Aku bantu sedikit, sekadar yang aku bisa.
Selesai shalat, dia mengajak makan.
Di sinilah aku bingung. Dia cuma beli satu bungkus. Aku pikir dia lupa, jadi aku mau beli satu lagi untuk diriku. Ternyata tidak. Memang begitu caranya di sana: satu bungkus, dimakan berdua. Porsi makanan di sana memang besar sekali.
Aku yang tadinya merasa sedang membantu, malah dijamu. Dan dijamu dengan nikmat sekali, makan berdua dari satu bungkus menu Arab.
Itu itsar yang aku lihat dengan mata sendiri, dari orang yang bahkan tidak bisa berbicara dengan bahasa yang sama denganku. Kalau sebungkus itu dia makan sendiri, tentu dia lebih kenyang. Tapi dia memilih berbagi.
Ada juga kesempatan kecil yang datang begitu saja
Suatu kali aku melihat seorang muslimah terjepit di pintu keluar masjid, terdesak arus orang. Aku berdiri menahan sebentar, membuka sedikit ruang, sampai dia bisa keluar.
Dia mengucapkan syukron. Dari balik cadarnya cuma matanya yang terlihat, dan di situ terbaca rasa lega.
Sepele sekali. Beberapa detik saja. Tapi aku ingat sampai sekarang.
Dan itu kebaikan dari Allah, bukan dariku. Karena Dia yang menaruhku persis di tempat itu, persis pada detik itu.
Yang mendorong di depan Ka’bah
Ini bagian yang perlu aku catat baik-baik untuk diriku sendiri.
Di Haramain sering kita melihat orang yang tampak egois. Paling sering justru terjadi saat thawaf, di hadapan Ka’bah.
Ada yang memotong jalur tiba-tiba dari samping. Ada yang mendorong dari belakang supaya bisa lebih dekat ke dinding Ka’bah. Ada rombongan yang bergandengan tangan membentuk barisan dan menyapu siapa saja di depannya. Ada yang berhenti mendadak di tengah arus untuk berdoa atau berfoto, sementara ribuan orang di belakangnya terus bergerak.
Di pintu-pintu masjid pun sama. Orang berdesakan masuk dan keluar bersamaan, tidak ada yang mau menunggu.
Dulu aku cepat sekali menilai. Dalam hati sudah keluar kalimat: kok begitu, di tempat seperti ini pula.
Sekarang aku harus lebih hati-hati.
Karena bukan cuma kita yang ingin dekat Ka’bah. Bukan cuma kita yang ingin mendapat saf atau posisi terbaik. Bukan cuma kita yang bingung dan gamang. Semua orang merasakan hal yang sama. Berada di depan Ka’bah adalah hal yang istimewa, sangat istimewa. Menjelajahi masjid sebesar itu, mencari pintu, mencari rute, mencari rombongan yang hilang, dalam bahasa yang tidak dimengerti, itu tidak mudah bagi siapa pun.
Ternyata untuk ke Haramain tidak cukup belajar manasik. Yang juga perlu dipelajari adalah menahan diri, dan caranya dengan memahami: apa sebenarnya yang sedang dihadapi, dan siapa mereka yang berperilaku seperti itu.
Mereka sama-sama tamu Allah. Sama-sama di tempat baru. Sama-sama ingin ini, ingin itu. Ingin menyentuh dinding Ka’bah, ingin mencium Hajar Aswad, ingin shalat di belakang Maqam Ibrahim, ingin shalat di Raudhah. Ingin pulang membawa sesuatu yang sudah ditabung bertahun-tahun untuk didapat.
Bisa jadi orang yang mendorong itu menabung dua puluh tahun dari hasil bertani. Bisa jadi dia tahu ini satu-satunya kesempatan seumur hidupnya. Bisa jadi dia sudah tua dan takut tidak kuat menyelesaikan tujuh putaran.
Orang yang mendorongmu di depan Ka’bah itu bukan musuh. Dia cuma orang yang sama bingungnya denganmu, dan sama rindunya.
Di sinilah ayat tadi bekerja: wa idza khathabahumul jahiluna qalu salama. Kalau disenggol, didorong, dipotong jalurnya, jawab dengan salam. Bukan karena kita lebih hebat, tapi karena kita tidak tahu apa yang sedang dia alami.
Dermawan juga perlu akal
Ada dua kejadian lain yang perlu aku tulis, supaya tulisan ini tidak jadi naif.
Pertama, aku pernah bertemu penipu.
Modusnya halus. Dia mendekat dengan ramah, menawarkan penukaran uang, lalu di tengah obrolan bertanya: bawa uang berapa?
Pertanyaan itu yang sebenarnya jadi intinya. Dia bukan sungguh-sungguh ingin menukar. Dia ingin tahu kita membawa uang atau tidak, dan berapa banyak.
Jamaah dari luar negeri sering tidak cepat menangkap maksudnya. Kita di tempat asing, bahasanya terbatas, suasananya serba baru, dan hati kita sedang terbuka. Datang untuk beribadah, bukan untuk curiga. Pertanyaan semacam itu terdengar seperti obrolan biasa antarsesama tamu.
Aku sendiri tidak langsung sadar. Tapi qadarullah, entah kenapa usahanya berhenti di tengah jalan. Dia tiba-tiba seperti dipalingkan, lalu pergi begitu saja.
Aku tidak tahu apa yang membuatnya berhenti. Yang aku tahu, bukan kecerdikanku yang menyelamatkan. Waktu itu aku justru belum menangkap apa-apa.
Pelajarannya buatku dua. Pertama, di sana jangan pernah menjawab pertanyaan tentang berapa uang yang kita bawa, seramah apa pun yang bertanya. Kedua, ada penjagaan yang bekerja bahkan ketika kita sendiri lengah. Itu bukan alasan untuk lengah, tapi alasan untuk bersyukur.
Kedua, aku pernah didatangi orang yang meminta uang untuk pulang.
Waktu itu aku tidak langsung memberi, dan tidak juga langsung menolak. Aku tanya dulu: kamu butuh apa?
Dia bilang susu, untuk anaknya.
Jadi aku ajak dia ke Bin Dawood, aku belikan susunya, lalu aku bilang: khalas. Jangan uang, ya. Kebutuhanmu saja.
Aku bukan sedang merasa pintar. Aku cuma belajar bahwa dermawan bukan berarti menyerahkan akal. Memberi itu perintah, tapi memastikan pemberian kita sampai pada kebutuhannya juga bagian dari memberi.
Kalau ternyata dia berbohong soal anaknya, susunya tetap sampai. Yang aku pertanggungjawabkan cuma niatku.
Yang ditanya nanti bukan itu semua
Juz ini juga memuat doa panjang Nabi Ibrahim, dan penutup doanya jadi pengingat untuk semua yang aku tulis di atas.
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Asy-Syu’ara: 88–89)
Harta tidak berguna. Anak-anak tidak berguna. Yang tersisa cuma keadaan hati.
Justru itu yang menjawab kenapa bakhil disebut merusak. Orang bakhil menyimpan untuk masa depan dan untuk anak-anak, dua hal yang di ayat ini disebut tidak berguna nanti. Sementara yang dia korbankan untuk menyimpan itu, yaitu kelapangan hatinya, justru satu-satunya yang akan dibawa.
Hati yang bersih juga yang dibutuhkan di lingkaran thawaf. Hati yang tidak sibuk menghitung siapa yang menyerobot, siapa yang mendorong, siapa yang tidak tahu adab. Hati yang cukup lapang untuk tetap berputar dengan tenang di tengah ribuan orang yang sedang sama-sama rindu.
Hikmah hari ini
‘Ibadurrahman bukan gelar untuk orang yang banyak ibadahnya. Itu gelar untuk orang yang cara berjalannya rendah hati, yang tidak membalas ketika disenggol, yang tidak boros dan tidak kikir, dan yang melewati keributan tanpa ikut di dalamnya.
Semua ciri itu diuji di tempat ramai, bukan di tempat sepi. Dan tidak ada tempat yang lebih ramai dari lingkaran di depan Ka’bah.
Bagaimana dengan ceritamu?









