21 Maret, Juz 21
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, laa ilaaha illallahu wallahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahilham.
Hari ini gema takbir bersahutan. Lebaran selalu identik dengan semangat kembali ke fitrah. Bagiku, kembali ke fitrah bukan sekadar kembali seperti bayi yang tanpa dosa, melainkan titik tolak untuk menjadi versi diri yang lebih baik, lebih dekat kepada Allah, dan lebih baik dalam menjalani peran sebagai hamba, suami, dan ayah.
Tadi pagi, sepulang dari shalat Ied, aku memeluk anak-anakku satu per satu. Dalam pelukan erat itu, sambil mengucapkan doa minal aidzin wal faidzin dan memohon maaf atas segala kurangku sebagai ayah, aku mengajukan satu pertanyaan sederhana ke mereka: “Apa improvement yang akan dilakukan setelah Ramadhan ini?”
Mendengar pertanyaan itu, jawaban mereka ternyata beragam dan membuat hatiku sangat bersyukur. Si bungsu dengan polosnya bilang ingin fokus improvement di tahfidz Qurannya. Si tengah, dengan tekadnya, ingin mulai merutinkan shalat Dhuha. Sedangkan si sulung, yang kini semakin dewasa, mengatakan ingin lebih banyak dan lebih dalam belajar tentang Islam.
Niat baik mereka di pagi Syawal ini seolah merangkum semua pelajaran yang kudapatkan di hari-hari terakhir Ramadhan kemarin.
Saat menatap wajah mereka yang bersemangat, aku teringat pelajaran dari Juz 19 lalu. Aku bertanya bukan untuk menuntut perubahan instan. Dalam perjalanannya nanti, kalau hafalan si bungsu tersendat, Dhuha si tengah terlewat, atau si sulung mulai jenuh, aku sudah belajar untuk bersabar. Sebagaimana pesan Surat Asy-Syu’ara, tugasku sebagai ayah hanyalah membimbing dan mengajak, bukan memaksakan hasil.
Tekad improvement mereka hari ini sangat selaras dengan kurikulum parenting di Juz 21 lewat Surat Luqman.
Keinginan si sulung dan si bungsu untuk mendalami Islam dan Al-Qur’an adalah fondasi menjaga tauhid, sebagaimana nasihat pertama Luqman di ayat 13:
Ya bunayya la tusyrik billah, inna syirka ladzulmun ‘azhim.
(Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar).
Tekad si tengah untuk menjaga shalat Dhuha juga bentuk ketahanan mental seperti di ayat 17:
Ya bunayya aqimish shalah…
(Wahai anakku, dirikanlah shalat…)
Semua improvement itu pada akhirnya menuntut integritas. Mereka harus sadar Allah selalu melihat di manapun mereka berada, seperti pesan Luqman di ayat 16:
Ya bunayya innaha in taku mithqala habbatim min khardalin fatakun fi shakhratin aw fis samawati aw fil ardhi ya’ti bihallah.
(Wahai anakku, sungguh jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu, atau di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya balasan).
Setelah pelukan maaf-maafan itu kulepaskan, aku kembali disadarkan oleh pelajaran Juz 20 lalu. Tugasku memang menyemangati target perbaikan mereka selagi mereka ada di pelukanku. Tapi setelah pelukan ini terurai dan mereka kembali melangkah ke dunia nyata, aku harus rela melepaskan mereka dengan tawakal penuh. Karena pada akhirnya, aku tidak bisa selalu berjalan di samping mereka, tapi aku berharap nilai yang kutanamkan bisa berjalan bersama mereka.
Seperti ibunda Nabi Musa yang melepaskan bayinya ke pusaran sungai (QS. Al-Qashash: 7), aku percaya kekuatan yang membuat anak-anakku bisa konsisten melakukan improvement itu murni datang dari hidayah Allah, bukan dari kuatnya genggamanku.
Hari ini garis start yang baru. Anak-anakku akan berjuang dengan rencana improvement mereka, dan aku pun harus berjuang dengan perbaikanku sendiri sebagai ayah dan sebagai hamba.
Dalam perjuangan ini, aku bersyukur tidak sendirian.
Pelukan selanjutnya adalah pelukan ke istriku tersayang. Dialah pelengkap hidupku, anggota tim yang paling suportif dalam mendidik anak-anakku, sekaligus partner sejati dalam mengejar ridha dan pahala Allah sepanjang waktu lalu maupun ke depan. Bersamanya, perjalanan ini terasa lebih ringan dan lebih bermakna.
Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Semoga Allah menerima seluruh amal puasa kita, dan memampukan kita menjadi pribadi yang jauh lebih baik di sebelas bulan ke depan.
Wallahu a’lam.

