18 April, Juz 18
Bismillah.
Beberapa hari ini dunia dibuat muak sekaligus tersentak oleh satu sampul majalah. L’Espresso, majalah ternama Italia, memasang tajuk besar “L’ABUSO”. Fotonya seorang tentara Zionis yang menyeringai bangga sambil memvideokan seorang perempuan Palestina yang ketakutan dan tertekan.
Reaksi kelompok Zionis luar biasa marah. Dan itu yang menarik. Puluhan kecaman resmi lewat begitu saja tanpa mereka gubris, tapi satu sampul majalah membuat mereka meradang. Alasannya sederhana. Wajah asli mereka baru saja ditelanjangi di jantung Eropa, dan kali ini tidak lewat pernyataan diplomatik, melainkan lewat gambar yang tidak bisa dibantah.
Juz 18 membentang dari Al-Mu’minun ayat 1 sampai Al-Furqan ayat 20, dan isinya menjelaskan tiga hal sekaligus. Kenapa manusia berseragam bisa punya mental serendah itu, kenapa mereka mati-matian menekuk hukum dunia, dan kenapa semua yang mereka bangun ujungnya cuma fatamorgana.
Mulai dari seringai di sampul itu.
Ilā fir’auna wa mala’ihī fastakbarū wa kānū qauman ‘ālīn. Fa qālū a nu’minu libasyarayni miṡlinā wa qaumuhumā lanā ‘ābidūn.
“Kepada Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya, tetapi mereka menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang congkak. Maka mereka berkata, ‘Apakah pantas kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (Musa dan Harun), padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah hamba-hamba (budak) kita?'” (QS 23:46-47)
Dua istilahnya persis menggambarkan wajah di sampul itu. Qauman ‘ālīn, kaum yang congkak. Dan lanā ‘ābidūn, mereka itu cuma pelayan kita. Ironinya luar biasa, karena kalimat itu dulu diucapkan tentang Bani Israel ketika mereka masih jadi korban rasisme Firaun. Hari ini mereka yang mengucapkannya, cuma dengan objek yang berbeda.
Begitu sebuah rezim berhasil meyakinkan dirinya bahwa bangsa lain bukan manusia yang setara, memvideokan penderitaan seorang perempuan sebagai bahan lelucon berhenti terasa sebagai kejahatan. Begitu juga mengebom rumah sakit yang berisi bayi-bayi. Bukan karena mereka kehilangan akal, tapi karena di kepala mereka korbannya memang tidak dihitung sebagai manusia. Itulah akar sistem apartheid yang paling brutal, hilangnya rasa kemanusiaan gara-gara kesombongan ras.
Teks kecil di bawah judul sampul itu juga tidak kalah penting. Isinya deretan fakta pahit, mulai dari pencaplokan Tepi Barat, pemusnahan Gaza, invasi Lebanon, sampai pembersihan etnis. Semua itu mereka jalankan sambil terus berusaha menekuk hukum internasional supaya pas dengan kepentingan politiknya.
Wa lawittaba’al-ḥaqqu ahwā’ahum lafasadatis-samāwātu wal-arḍu wa man fīhinn…
“Dan seandainya kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi, dan semua yang ada di dalamnya…” (QS 23:71)
Ayat ini bicara tentang skala kerusakannya. Kalau kebenaran boleh ditekuk mengikuti nafsu penindas, yang rusak bukan cuma satu wilayah, melainkan seluruh tatanan. Dan itu sedang terjadi. Standar ganda negara-negara adidaya yang membiarkan kebiadaban ini berjalan sudah meruntuhkan pilar-pilar hukum humaniter yang dibangun berpuluh tahun. Yang hancur di Gaza bukan cuma Gaza.
Lalu kenapa satu sampul majalah bisa sesakit itu buat mereka? Jawabannya ada di ayat berikutnya.
Walladzīna kafarū a’māluhum kasarābim biqī’atiy yaḥsabuhuẓ-ẓam’ānu mā’an ḥattā idzā jā’ahū lam yajid-hu syai’an…
“Dan orang-orang yang kafir, amal perbuatan mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatanginya air itu, dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun…” (QS 24:39)
Selama puluhan tahun mereka menjual satu narasi ke seluruh dunia, bahwa mereka adalah pasukan paling bermoral sedunia. Dari kejauhan memang tampak seperti oase, lengkap dengan bahasa hak asasi manusia dan demokrasi.
Fatamorgana cuma sanggup bertahan selama tidak ada yang mendekat. Begitu dunia betul-betul mendatanginya, dan kali ini lewat media arus utama Eropa sendiri, yang ditemukan bukan air. Yang ada cuma pelecehan, tangan berlumur darah, dan kebiadaban tanpa rem. Lam yajid-hu syai’an, tidak didapatinya apa-apa.
Itulah kenapa mereka lebih marah pada satu sampul majalah daripada pada puluhan kecaman. Kecaman masih bisa dibantah dengan narasi tandingan. Sampul itu memaksa orang berjalan mendekat dan melihat sendiri bahwa oasenya memang tidak pernah ada.
Sekuat apa pun mesin perang sebuah rezim, kalau fondasinya supremasi rasial yang merendahkan manusia lain, sebenarnya ia sudah keropos dari dalam. Jadi tidak perlu gentar dengan ilusi tak terkalahkan yang mereka pelihara. Legitimasi moral yang mereka bangun selama ini menyilaukan kalau dilihat dari jauh, dan kosong melompong begitu didatangi.
Wallahu a’lam.

