5 Maret, Juz 5
Bismillah.
Alhamdulillah, hari ke-15 Ramadhan. Setengah perjalanan puasa sudah kulewati. Pertanyaannya, sudah terasa belum hasilnya, terutama di dalam keluarga?
Beberapa waktu lalu aku sempat berkomitmen menjadikan keluarga sebagai support system terbaik, institusi kecil yang saling menopang dalam ketaatan kepada Allah. Ramadhan seharusnya jadi momentum untuk itu. Tapi dipikir-pikir, jawabannya belum sepenuhnya jelas, perjalanan ini masih jauh dari selesai.
Fenomena yang biasa terjadi di pertengahan Ramadhan juga mulai kelihatan, shaf tarawih mulai menyusut dan maju ke depan. Jamaah tidak lagi seramai awal bulan. Semangat yang semula penuh perlahan mulai menurun.
Siang tadi di kantor, dalam sesi taklim ba’da dhuhur, aku sempat tidak enak sama rekan kantor yang kuminta jadi penceramah, tapi jamaah yang hadir sangat sedikit. Sebagian tertidur di tempat shalat, sebagian lain memilih kembali ke meja kerja. Syukurlah pak ustadz tetap menyampaikan materi dengan sabar.
Tapi daripada terus mengamati orang lain, lebih jujur kalau aku balik lihat ke diri sendiri. Pertanyaan yang lebih penting bukan soal mereka, tapi soal diriku sendiri: apakah aku bisa istiqomah sampai akhir Ramadhan?
Di Juz 5 aku menemukan ayat yang cukup gamblang menyinggung fenomena ini. Allah menggambarkan bagaimana ibadahnya orang-orang munafik.
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” QS. An-Nisa: 142
Rasanya seperti Al-Qur’an sedang menggambarkan penyakit ibadah yang gampang muncul justru di pertengahan Ramadhan begini.
Allah menyebut beberapa ciri sekaligus. Pertama, kemunafikan, dan ini bukan label ringan, tidak ada satu pun mukmin yang mau termasuk di dalamnya. Lalu disebutkan bagaimana kemunafikan itu tampak dalam perilaku ibadah: berdiri shalat dengan malas, ibadah yang ingin dilihat manusia, dan hanya sedikit mengingat Allah.
Aku jadi bertanya sendiri, kalau aku kadang merasa malas dalam ibadah, apakah itu berarti aku munafik? Waduh!
Untungnya para ulama menjelaskan kemunafikan itu ada dua bentuk. Pertama, kemunafikan akidah, orang yang berpura-pura beriman padahal di dalam hatinya tidak percaya. Inilah yang dimaksud dalam ayat ini menurut para mufasir seperti dalam Tafsir Ibnu Katsir, karena iman tidak benar-benar hidup di hati mereka, ibadah pun terasa berat dan dilakukan dengan malas.
Kedua, kemunafikan perilaku (nifaq ‘amali), yang bisa terjadi pada seorang muslim biasa: kadang malas, kadang riya, kadang lalai. Sifat-sifatnya menyerupai orang munafik, tapi tidak otomatis membuat seseorang munafik dalam akidah.
Yang agak melegakan, tidak setiap rasa malas menjadikan seseorang munafik. Tapi kemalasan dalam ibadah bisa jadi pintu menuju sifat-sifat yang menyerupai kemunafikan kalau dibiarkan terus-menerus. Jadi yang perlu dihindari ya sifat malasnya itu sendiri.
Menariknya, para ulama juga menyebut keadaan seperti ini sering muncul saat semangat ibadah mulai menurun, dalam tradisi ulama disebut futur, melemahnya semangat setelah masa awal yang penuh antusias.
Makanya pertengahan Ramadhan memang sering jadi masa ujian. Awal Ramadhan biasanya penuh energi, tapi kualitas Ramadhan justru ditentukan oleh kemampuan bertahan sampai akhir, jangan sampai ibadah cuma kuat di awal lalu melemah di tengah jalan.
Ayat ini juga kasih petunjuk soal akar masalahnya: kurangnya dzikir kepada Allah. Allah menyebut mereka hanya sedikit mengingat-Nya. Ketika hati jarang berdzikir, ibadah gampang terasa berat. Sebaliknya, ketika hati sering mengingat Allah, ibadah justru jadi tempat beristirahatnya jiwa.
Jadi mungkin obatnya bukan sekadar memaksa diri lebih rajin, tapi menghidupkan lagi hubungan hati dengan Allah.
Bismillah. Ramadhan masih tersisa separuh jalan. Kesempatan meraih lailatul qadar masih terbuka lebar. Semoga Allah menjauhkan ibadah kita dari mentalitas kaum munafik, menyembuhkan kita dari penyakit malas dan riya, serta memberikan tenaga ekstra untuk berlari lebih kencang menuju garis akhir yang penuh ampunan.
Wallahu a’lam.
