Trik Sarung Santri Gontor yang Terpakai Lagi Puluhan Tahun Kemudian di Miqat

Hari #24, 8 Oktober – Juz 8

Bismillah

Setiap kali manasik, jamaah selalu diajari cara memakai kain ihram supaya tidak mudah kendor. Satu helai untuk bagian bawah, satu helai untuk bagian atas.

Buat yang tidak terbiasa memakai sarung, ini pasti merepotkan. Tapi aku kebetulan pernah jadi santri pondok, jadi urusan ini tidak asing.

Dan cara memakai sarung yang paling aku ingat justru yang aku lihat di Pondok Modern Gontor, Ponorogo. Para santri di sana memakai sarung seperti biasa, tapi dilengkapi ikat pinggang. Waktu pertama kali melihatnya, sebagai anak kecil aku merasa itu aneh sekali. Belakangan baru tahu manfaatnya: sarungnya jadi kencang sekali dan tidak perlu khawatir melorot. Apalagi aku juga baru tahu kemudian bahwa memakai sarung itu hanya dengan celana dalam. Pantesan gak boleh melorot.

Kembali ke kain ihram. Berbagai cara mengikat sebenarnya sah-sah saja, tapi aku selalu melengkapinya dengan sabuk. Aman.

Kain yang bermacam-macam, tapi sama saja

Pakaian ihram yang dibawa dari tanah air biasanya tebal dan kelihatan bagus. Di tanah haram pemandangannya lain. Ada yang kainnya tipis, hampir seperti kain kafan. Ada yang sudah tampak kotor. Ada yang cara pakainya tidak pas, dan macam-macam lagi.

Tapi hakikatnya sama. Kain ihram harus bersih dan menutup aurat.

Dua cara melihat tubuh manusia

Aku pernah ke Museum Louvre, dan di sana banyak sekali patung tanpa busana. Suatu kali aku bertanya kenapa begitu.

Dari yang aku baca dan pahami, para seniman membuat patung tanpa busana untuk menggambarkan kepolosan dan kelemahan manusia. Karena sering kali justru pakaian yang membuat manusia merasa besar dan sombong. Dengan telanjang, katanya, itulah manusia apa adanya.

Islam sampai pada kesimpulan yang mirip, tapi dengan jalan yang berbeda. Aurat tetap aurat, dan tidak pernah jadi sarana untuk apa pun.

Yang dipakai justru dua lembar kain putih tanpa jahitan, sama untuk semua orang. Dan dari situ kepolosan itu tetap tersampaikan, bahkan lebih jelas, karena yang hilang bukan pakaiannya melainkan tandanya. Tidak ada merek, tidak ada jabatan, tidak ada yang menunjukkan siapa lebih tinggi dari siapa.

Belajar Manasik 03: Pakaian ihram

Untuk laki-laki, dua lembar kain tidak berjahit. Satu dililitkan di bagian bawah, dari pusar sampai sekitar setengah betis, dan satu lagi disampirkan di bagian atas. Tidak memakai pakaian yang berjahit membentuk tubuh, tidak menutup kepala dengan yang menempel, dan sandalnya tidak menutup mata kaki.

Kedua pundak ditutup sepanjang waktu, kecuali ketika tawaf. Pada tawaf yang disunahkan idhtiba’, pundak kanan dibuka dengan menyelipkan kain ke bawah ketiak. Selesai tawaf, pundak ditutup kembali.

Untuk perempuan tidak ada ketentuan warna atau model khusus. Pakaian apa pun yang menutup aurat dan tidak menyerupai pakaian laki-laki sudah memadai. Yang dilarang cuma dua, menutup wajah dengan cadar yang menempel dan memakai sarung tangan.

Soal ikat pinggang, tidak masalah dipakai, dan memang banyak membantu. Yang sering dibawa jamaah adalah sabuk yang sekaligus punya tempat menyimpan uang dan dokumen.

Disunahkan mandi sebelum berihram, memakai wangi-wangian di badan sebelum niat, dan memotong kuku serta merapikan diri sebelum berangkat, karena setelah niat semua itu tidak boleh lagi.

Yang dikatakan juz ini tentang pakaian

Al-A’raf menyusun tiga ayat berurutan soal ini, dan ketiganya saling melengkapi.

Pertama, soal asal usul dan tujuannya.

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ سَوْاٰتِكُمْ وَرِيْشًا ۗ وَلِبَاسُ التَّقْوٰى ذٰلِكَ خَيْرٌ

“Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik.” (Al-A’raf: 26)

Jadi pakaian itu dua fungsinya, menutup dan memperindah. Keduanya diakui. Tapi disebutkan ada satu pakaian yang lebih baik dari keduanya, dan itu tidak terlihat mata.

Kedua, perintah berpenampilan baik di rumah ibadah.

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْا

“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap memasuki masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (Al-A’raf: 31)

Ketiga, teguran untuk yang bersikap terlalu keras.

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِيْنَةَ اللّٰهِ الَّتِيْٓ اَخْرَجَ لِعِبَادِهٖ وَالطَّيِّبٰتِ مِنَ الرِّزْقِ

“Katakanlah, siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?” (Al-A’raf: 32)

Kalau dibaca bersama, arahnya jelas. Berpakaian bagus itu tidak dilarang, bahkan diperintahkan ketika ke masjid. Perhiasan juga tidak haram. Yang dijaga cuma dua, jangan berlebihan dan jangan lupa bahwa ada pakaian lain yang lebih menentukan.

Dan kain ihram adalah satu-satunya keadaan di mana semua itu dilepas untuk sementara. Bukan karena pakaian bagus itu salah, tapi supaya kita tahu rasanya berdiri tanpa satu pun penandanya.

Yang dibawa pulang

Al-An’am di juz ini ditutup dengan kalimat yang pas untuk ini.

قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (Al-An’am: 162)

Empat hal disebut berurutan, dan dua di antaranya bukan ritual. Hidup dan mati ikut masuk ke dalam daftar itu.

Jadi hikmah pakaian ihram semestinya juga ikut pulang, bahkan ketika kita kembali memakai pakaian sehari-hari sesuai kebiasaan dan adat masing-masing. Bukan berarti harus berpakaian seadanya, karena ayat tadi justru menyuruh berpakaian baik.

Yang perlu dijaga cuma satu. Jangan sampai pakaian itu yang menentukan bagaimana kita memandang diri sendiri, dan bagaimana kita memandang orang lain.

Di mataf, orang yang kainnya tipis dan sudah kusam itu berdiri sejajar dengan yang kainnya tebal dan baru. Dan tidak ada satu pun yang peduli.

Oiya, satu lagi, bagi yang ingin mengulang umrah, pakaian ihram sebaiknya dipakai sekali. Sempatkan untuk mencuci, banyak jasa laundry di sekitar hotel. Kain ihram yang bersih dan wangi insyaAllah lebih nyaman memakainya. 

Wallahu a’lam bi showab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *