6 Maret, Juz 6Bismillah.
Satu hal yang membuat aku sangat bangga sebagai seorang muslim adalah Islam mengajarkan hidup bersih dengan sangat tegas, baik ketika akan menghadap Allah SWT maupun dalam urusan privat seperti membasuh diri setelah buang air kecil atau besar. Tidak jarang aku malah menemukan sebagian masyarakat yang dianggap modern tapi belum menjadikan kebersihan setelah dari toilet sebagai kebiasaan yang sempurna.
Di Surat Al-Maidah, ada ketentuan bersuci yang sangat komprehensif. Aturannya merinci dari cara membasuh wajah dan anggota tubuh saat wudhu, kewajiban mandi junub ketika berhadas besar, sampai keringanan tayamum pakai debu yang bersih kalau tidak ada air atau sedang sakit.
Juz 6 sendiri membentang dari akhir Surat An-Nisa (mulai ayat 148) hingga pertengahan Surat Al-Maidah (berakhir di ayat 81), dan hampir semua ayatnya menyentuh aktivitas sehari-hari umat: aturan makanan halal dan haram, wudhu sebelum shalat, hukum sosial, keadilan, adab hubungan antaragama, larangan khamr, sampai urusan menjaga amanah.
Menurut Sayyid Qutb dalam tafsir Fi Zilal al-Quran, Surat Al-Maidah adalah surah yang membangun masyarakat beriman lewat aturan kehidupan yang nyata dan menyeluruh.
Ayat sentral tentang bersuci di juz ini ada di Surat Al-Maidah ayat 6. Di ujung ayat yang merinci tata cara wudhu, Allah berfirman:
“Maa yuriidullaahu liyaj’ala alaykum min harajin wa laakin yuriidu liyuthahhirakum wa liyutimma nimatahu alaykum laallakum tashkuruun.”
“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”
Soal urgensi ayat wudhu ini, aku jadi teringat penjelasan Ustadz Adi Hidayat dalam salah satu videonya. Beliau pernah mengingatkan sebuah prinsip penting, kesempurnaan shalat sangat tergantung pada kesempurnaan wudhu.
UAH merujuk sebuah hadits sahih yang sangat masyhur. Suatu ketika, Nabi sedang berada di masjid, lalu datang seseorang yang langsung mendirikan shalat. Setelah selesai, sahabat itu menghampiri Nabi dan memberi salam. Nabi menjawab salamnya, tapi kemudian bersabda, “Kembalilah shalat, karena sesungguhnya engkau belum shalat.”
Kejadian ini terulang sampai beberapa kali. Orang itu shalat, ditegur, mengulangi lagi. Akhirnya ia menyerah dan berkata, “Ya Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, itulah shalat terbaik yang bisa aku lakukan. Ajarilah aku.”
Menariknya, sebelum mengoreksi bacaan atau gerakan rukuk dan sujudnya, hal pertama yang Nabi ajarkan justru memperbaiki tata cara wudhunya lebih dulu, agar dilakukan dengan benar dan sempurna.
Aku juga ingat, Ustadz Adi bilang, ketika berwudhu jangan cuma fokus pada aktivitas fisik membasuh air. Di setiap gerakan, sampaikan pengharapan kita kepada Allah. Ketika membasuh muka, berdoalah agar mata ini dijaga dari melihat yang haram dan wajah kita dicerahkan di akhirat kelak. Ketika mencuci tangan, mintalah agar tangan ini kelak menerima catatan amal dari sebelah kanan dan dijauhkan dari mengambil yang bukan haknya. Begitu seterusnya sampai membasuh kaki, memohon agar langkah kita selalu diteguhkan di jalan ketaatan.
Tuh kan, ternyata wudhu saja maknanya dalam, tidak sekadar urusan basuh membasuh.
Wudhu diwajibkan agar kita benar-benar bersih secara fisik, karena aku akan berdiri menghadap Allah SWT, Sang Maha Suci, dan syarat mutlak menghadap Sang Pencipta adalah raga yang bersih. Sedangkan shalat yang aku lakukan setelah bersuci itu, sejatinya dihadirkan agar aku bisa membersihkan hati.
Wudhu mencuci raga dari debu dan kotoran dunia, shalat dan puasa mencuci batin dari kotoran dosa, dendam, dan kesombongan. Kombinasi keduanya bikin seorang muslim tak hanya modern secara peradaban, tapi juga suci lahir dan batin.
Bismillah, semoga puasa hari ini menyempurnakan kebersihan jiwa dan ragaku.
Wallahu alam.
