26 Mei, Juz 26

Bismillah.

Pengalaman berada di pekerjaan konsultan, kami sering masuk sebagai sub-konsultan. Kontraktor utamanya orang lain, nama kami tidak ada di halaman depan, dan lingkup kerja, jadwal, sampai format laporan sudah ditentukan dari sana. Anehnya, peran teknis kami di beberapa proyek justru sangat menentukan. Yang tidak menentukan itu besarannya, bukan isinya. Jadi kami manut saja, meski di beberapa titik pendekatan kami sebenarnya berbeda.

Di satu proyek belakangan ini, perbedaan itu terasa agak mengganjal. Ada konsep dan metodologi yang menurutku berisiko. Aku sampaikan seperlunya, lalu selesai. Keputusannya bukan di tangan kami.

Yang paling tidak enak ternyata bukan porsi yang kecil. Tapi melihat sesuatu yang berpotensi keliru sambil tahu bahwa suaraku tidak cukup untuk mengubah arahnya.

Juz 26 hari ini padat sekali dengan jejak sirah. Ada rombongan jin yang berhenti mendengarkan bacaan Nabi di lembah Nakhlah. Ada adab para sahabat di hadapan Rasulullah yang direkam di awal Surah Al-Hujurat, lengkap dengan kisah Abu Bakar dan Umar yang suaranya sempat meninggi. Ada juga teguran keras soal berita yang diterima tanpa diperiksa dulu. Tapi yang paling lama aku tunggui adalah Surah Al-Fath, karena surat ini hampir seluruhnya rekaman satu peristiwa: Perjanjian Hudaibiyah, tahun 6 Hijriah.

Seribu empat ratus orang berangkat dari Madinah. Mereka tidak membawa perlengkapan perang, karena niatnya memang umrah. Quraisy menghalangi di Hudaibiyah, dan setelah ketegangan panjang, keduanya duduk berunding. Suhail bin Amr yang mewakili Quraisy.

Bagian yang paling membekas justru detail-detail kecil saat naskahnya ditulis. Nabi meminta Ali menuliskan Bismillahirrahmanirrahim. Suhail menolak, katanya ia tidak mengenal kata itu, dan minta diganti dengan Bismika Allahumma. Nabi setuju. Lalu Nabi meminta ditulis “dari Muhammad Rasulullah”. Suhail menolak lagi: kalau kami mengakui engkau utusan Allah, tentu kami tidak akan memerangimu — tulis saja namamu dan nama ayahmu. Nabi setuju sekali lagi, dan naskah itu ditulis “dari Muhammad bin Abdullah”.

Belum kering tintanya, datang Abu Jandal dengan kaki terbelenggu, tertatih-tatih. Ia anak Suhail sendiri, yang lari dari siksaan di Makkah. Karena klausul yang baru saja disepakati, ia harus dikembalikan.

Umar tidak sanggup diam. Ia mendatangi Rasulullah, lalu Abu Bakar, dengan pertanyaan yang beruntun. Bukankah kita di atas kebenaran dan mereka dalam kebatilan? Bukankah kalau kita terbunuh kita ke surga dan mereka ke neraka? Lalu kenapa kita harus mengalah dalam urusan agama kita dan pulang begitu saja, padahal Allah belum memutuskan apa-apa antara kita dan mereka? Abu Bakar menjawab pendek: beliau itu Rasulullah, dan Allah tidak akan pernah menyia-nyiakannya.

Di perjalanan pulang, turunlah ayat pembuka Surah Al-Fath:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا

Innaa fatahnaa laka fathan mubiinaa.

“Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”

Nabi menyuruh seseorang membacakan ayat itu kepada Umar. Umar bertanya, apakah ini kemenangan? Nabi mengiyakan. Baru setelah itu hatinya tenang.

Aku suka sekali dengan jarak yang ada di situ. Di dalam ruangan, semua orang merasa sedang kalah. Dari langit, peristiwa yang sama disebut kemenangan yang nyata. Bukan akan menjadi kemenangan nanti, tapi sudah menang, sejak tanda tangan itu dibubuhkan.

Kepingan ini mengingatkanku pada satu babak dalam sejarah kita sendiri. November 1946, di sebuah desa di kaki Ciremai, delegasi Indonesia yang dipimpin Sutan Sjahrir menandatangani Perjanjian Linggarjati. Isinya berat: Belanda hanya mengakui secara de facto wilayah Republik atas Jawa, Sumatera, dan Madura. Republik yang baru setahun diproklamasikan itu bahkan tidak diakui sebagai negara utuh, melainkan akan menjadi salah satu negara bagian dalam sebuah federasi. Di dalam negeri, reaksinya keras. Sejumlah partai dan laskar menolaknya karena dianggap merugikan dan mengecilkan cita-cita kemerdekaan.

Yang sering luput adalah apa yang terjadi setelahnya. Justru dari pengakuan de facto yang terasa sempit itu, posisi Indonesia di mata dunia menguat. Negara-negara lain, termasuk negara-negara Arab, mulai mengakui Republik. Sesuatu yang tidak bisa didapat lewat pertempuran mana pun waktu itu.

Tapi aku tidak mau membuat perbandingan ini terlalu rapi. Linggarjati tetap dilanggar Belanda lewat Agresi Militer beberapa bulan kemudian, dan perjuangan masih panjang setelahnya. Tidak setiap keputusan yang terasa keliru berakhir seperti Hudaibiyah. Kadang yang keliru memang benar-benar keliru.

Sahl bin Hunaif, yang ikut hadir di Hudaibiyah, bertahun-tahun kemudian mengatakan sesuatu yang menohok kepada orang-orang di zaman fitnah: curigailah pendapat kalian sendiri, jangan agama kalian. Ia sedang bilang bahwa yang paling mungkin keliru di situasi seperti itu adalah cara kita membaca keadaan, bukan kebenaran yang sedang kita pegang.

Jujur saja, aku duduk di dua kursi yang berbeda. Di kantor, akulah yang mengambil keputusan dan timku yang membacanya sebagai mundur atau mengalah. Di proyek konsultan, aku yang jadi Umar — melihat risiko, menyampaikannya, lalu harus menerima bahwa keputusannya di tangan orang lain. Dan kursinya bisa bertukar kapan saja, kadang di minggu yang sama.

Duduk bergantian di dua kursi itu mengajariku satu hal. Saat aku di kursi pengambil keputusan, aku tidak boleh menganggap keberatan timku sebagai kebisingan. Umar tidak sedang membangkang; ia sedang memperjuangkan sesuatu yang ia yakini benar. Dan saat aku di kursi sebelahnya, aku juga tidak boleh buru-buru menyimpulkan bahwa yang di depan sana pasti keliru hanya karena pendekatannya tidak sama dengan pendekatanku.

Soal proyek itu, aku belum tahu ujungnya. Mungkin risikonya benar-benar terjadi, mungkin tidak. Yang jelas aku sudah menyampaikan apa yang perlu aku sampaikan, dan sisanya bukan bagianku. Aku berhenti menilainya dari kursi tempat aku duduk sekarang.

Ada penggalan di ujung Surah Al-Fath yang rasanya pas untuk ditaruh di sini: فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا — “maka Dia mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News