Kotak-Kotak di Kepala yang Diam-Diam Menentukan Cara Kita Menilai Orang

25 Juli, Juz 25

Bismillahirrahmanirrahim.

Musyawarah itu kata yang sudah terlalu sering didengar, sampai terasa klise, dianggap basa-basi sebelum keputusan yang sebenarnya sudah ditentukan sepihak. Tapi justru karena terlalu sering diucapkan tanpa dipraktikkan sungguh-sungguh, ada baiknya dibongkar ulang dari sumbernya langsung, Surat Asy-Syura, ayat 38.

Ayat 38
وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

Yang menarik, musyawarah di sini disandingkan langsung dengan shalat, satu paket ciri orang beriman, bukan sekadar teknik manajemen sekuler yang kebetulan islami. Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz menjelaskan, musyawarah mencakup urusan umum maupun khusus, “tanpa mementingkan dan memaksakan pendapat individu”.

Menurut sebagian riwayat, ayat ini turun untuk kaum Anshar di Madinah, sementara Ibnu Katsir mengaitkan konteksnya dengan periode permusuhan yang sedang memuncak di Makkah, sekitar tahun kelima kenabian, sampai sebagian sahabat terpaksa hijrah ke Habasyah. Di tengah tekanan seberat itu, umat yang masih sedikit dan rentan justru diperintahkan membiasakan musyawarah, bukan menyerahkan semua keputusan ke satu tangan otoriter, meski secara logika krisis biasanya justru mendorong orang mencari komando tunggal yang cepat. Prinsip ini terbukti dipraktikkan konsisten sepanjang sejarah awal Islam, dalam Perang Khandaq misalnya, tawaran damai dari kaum Ghatafan sempat dipertimbangkan, tapi setelah musyawarah dengan para sahabat, keputusannya justru ditolak. Di Perjanjian Hudaibiyah, musyawarah panjang di antara kaum muslimin yang akhirnya membuka jalan damai tanpa kekerasan menuju Fathu Makkah.

Aku anak kelima dari sepuluh bersaudara, sebuah anugerah yang luar biasa besar. Wajar kalau di keluarga sebesar ini sering muncul perbedaan pendapat. Tapi yang aku pahami selama ini, menjaga keutuhan keluarga besar tidak berarti semua harus sesuai pendapatku, atau sebaliknya aku yang harus selalu mengalah. Ada tiga pertimbangan yang biasa aku pegang, dan kebetulan bisa disusun jadi kerangka yang lebih terstruktur.

Pertimbangan pertama, cek prinsip. Apakah sesuatu itu benar atau salah secara syar’i, ini bukan wilayah kompromi. Kalau sudah jelas hukumnya, tidak perlu didiskusikan ulang seolah semua pendapat setara bobotnya.

Pertimbangan kedua, kompromi pada wilayah teknis. Di luar prinsip yang sudah jelas, banyak hal sebenarnya wilayah ijtihad atau selera, di sinilah ruang kompromi dan musyawarah benar-benar berlaku, mencari yang terbaik sesuai aturan bersama, bukan sekadar mengalahkan pendapat pihak lain.

Pertimbangan ketiga, kurangi dampak emosional. Bahkan kalau prinsipnya sudah benar di pihak kita, cara menyampaikannya tetap perlu dijaga supaya tidak melukai, karena musyawarah yang benar secara isi tapi kasar dalam penyampaian bisa merusak keutuhan yang justru ingin dijaga. Termasuk di dalamnya, hindari argumentasi yang tidak perlu, apalagi sampai menilai negatif dan pada akhirnya su-u-dzon. Saya mengedapankan husnu dzon kepada Allah saja. Toh semua juga dari-Nya.  

Ada satu tambahan yang aku pegang di luar tiga hal itu, sebisa mungkin tidak menggantungkan kebutuhan primer pada keputusan kolektif, alias menjaga kemandirian. Begitu kebutuhan pokok tidak tersandera pada hasil musyawarah, tekanan untuk “harus menang” dalam setiap perdebatan jadi jauh berkurang. Dan kalau ternyata pendapatku tidak diambil, aku coba cari value added lain dari jalur yang berbeda, bukan terus memaksakan jalur yang sudah buntu.

Ada satu kerangka di buku The Decision Book (Krogerus & Tschäppeler) yang pas menjelaskan strategi terakhir ini, namanya The Morphological Box and SCAMPER, dari bab How to Improve Yourself. SCAMPER adalah singkatan dari tujuh cara memutar solusi ketika jalur langsung tertutup, Substitute, Combine, Adapt, Modify, Put to another use, Eliminate, Reverse.

Contoh yang sering dipakai dari dunia bisnis, Nintendo dengan konsol Wii. Nintendo tahu mereka tidak akan menang kalau terus bertarung head-to-head soal kekuatan grafis melawan PlayStation dan Xbox, dana risetnya jauh lebih kecil. Alih-alih memaksakan diri menang di pertarungan itu, Nintendo mengalihkan strategi, menciptakan kontrol gerak yang menyasar pasar sama sekali baru, keluarga dan pemain kasual yang sebelumnya tidak tersentuh konsol game. Hasilnya, Wii justru terjual lebih laris dibanding dua kompetitornya, bukan dengan menang di arena yang sama, tapi dengan menciptakan arena baru.

Prinsip yang sama yang aku pegang di keluarga besar. Kalau satu pendapat tidak diambil dalam musyawarah, bukan berarti harus terus didorong sampai menang, atau sebaliknya dipendam sebagai kekalahan. Energinya bisa dialihkan mencari value lain, entah cara berkontribusi lewat jalur berbeda, atau memastikan diri tetap mandiri secara kebutuhan pokok, supaya keputusan musyawarah yang berbeda dari pendapat pribadi tidak dirasakan sebagai ancaman, cukup sebagai satu dari banyak jalan menuju kebaikan bersama.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News