27 Juli, Juz 27
Bismillahirrahmanirrahim.
Beberapa hari lalu aku menyimak kajian Ustaz Firanda Andirja soal Surat An-Najm, dan satu bagian yang paling membekas adalah kisah orang Quraisy yang tertegun begitu mendengar bahasanya.
An-Najm tercatat sebagai surat pertama yang dibacakan Nabi Muhammad secara terang-terangan di depan umum, di Masjidil Haram, di hadapan kaum musyrikin Makkah. Menurut hadis riwayat Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud, ini juga surat pertama yang di dalamnya turun ayat sajdah.
Ayat 62 (penutup surat)
فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا
“Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah Dia.”
Kejadian yang terjadi sesudahnya tercatat lengkap dalam hadis sahih. Begitu Nabi membaca ayat ini, beliau langsung bersujud. Yang terjadi selanjutnya di luar dugaan, semua orang yang hadir di sekitarnya ikut bersujud, termasuk kaum musyrikin yang jelas-jelas memusuhi dakwahnya. Ibnu Mas’ud sendiri yang menyaksikan momen itu bercerita, hanya ada satu orang yang tidak ikut sujud dengan sempurna, seorang lelaki tua yang justru mengambil segenggam tanah lalu meletakkannya di dahi, ia tetap enggan menyembah Allah sepenuhnya meski tubuhnya seolah tertarik ikut merunduk. Orang itu, menurut riwayat, adalah Umayyah bin Khalaf, yang kemudian mati dalam keadaan kafir di Perang Badar.
Ada catatan penting soal riwayat ini. Ada versi cerita lain yang lebih dramatis, dikenal sebagai kisah “gharaniq” (ayat-ayat setan), yang mengklaim Nabi sempat salah ucap memuji berhala-berhala Quraisy sebelum membaca ayat ini. Riwayat ini ditolak keras oleh mayoritas ulama hadis, termasuk Qadhi Iyadh yang menyebut sanadnya lemah dan tidak bisa dipercaya. Yang sahih dan disepakati cuma satu, seluruh yang hadir, muslim maupun musyrik, tersungkur sujud murni karena kekuatan bacaan itu sendiri, bukan karena kesalahan ucap apapun.
Yang membuat peristiwa ini luar biasa, kaum musyrikin itu bukan orang yang mudah tunduk. Mereka sudah lama menolak dakwah Nabi, bahkan sengaja membuat kegaduhan supaya tidak mendengar bacaan Al-Qur’an dengan jelas, seperti disebut dalam Fussilat 26, “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya.” Tapi begitu lantunan An-Najm menyergap mereka tanpa sempat dihindari, respons tubuh mereka bergerak lebih dulu daripada penolakan yang biasanya mereka jaga rapat-rapat.
Ada satu model di buku The Decision Book (Krogerus & Tschäppeler) dari bab How to Understand Others Better, namanya The Black Box Model, subjudulnya “Why faith is replacing knowledge”.
Model ini menjelaskan, semakin kompleks sebuah sistem, semakin sedikit orang yang benar-benar memahami cara kerjanya secara detail, sehingga kepercayaan perlahan menggantikan pemahaman teknis.
Contoh paling sederhana, hampir semua orang memakai ponsel pintar setiap hari tanpa perlu paham cara kerja prosesornya, tapi tetap percaya penuh alat itu akan berfungsi.
Begitu juga aku pribadi yang sangat percaya kepada navigasi google map. Kemanapun pergi, walaupun sudah tahu persis rutenya, rasanya belum pas kalau tidak menghidupkan navigasi google map. Orang seperti aku yang mengikuti Google Maps, jarang memeriksa ulang rute yang disarankan, cukup percaya aplikasi itu sudah menghitung jalur tercepat, meski tidak tahu persis algoritma di baliknya. Hanya kondisi tertentu, akhirnya harus bertanya-tanya, kenapa disarankan lewat sini ya, bukan biasanya; yang seringkali ada macet di jalur biasa.
Pola serupa berlaku juga di dunia kerja. Tim finance menerima hasil hitungan sistem ERP tanpa menelusuri logikanya. Tim marketing menjalankan rekomendasi algoritma iklan tanpa tahu bagaimana AI menentukan target audiens; cukup merasa sudah pakai prompt yang tepat sebelumnya. Bahkan keputusan strategis di level pimpinan kadang diambil dari dashboard yang datanya sudah diolah berlapis, tanpa pernah ditelusuri sampai ke sumbernya.
Percaya pada kotak hitam semacam ini memang tidak terhindarkan, tidak ada yang sanggup memahami detail teknis semua sistem yang dipakainya setiap hari. Yang perlu dijaga hanya satu, jangan sampai keputusan besar diambil di atas fondasi yang sebenarnya tidak pernah benar-benar diperiksa.
Untuk mengecek kapan kepercayaan semacam itu masih aman, ada tiga hal yang bisa jadi pegangan. (1) Seberapa besar dampak keputusannya, kalau kecil dan mudah diperbaiki, cukup percaya tanpa perlu membedah semuanya. (2) Seberapa terbukti rekam jejak sistem itu selama ini, kepercayaan yang lahir dari hasil konsisten berbeda dari kepercayaan buta sejak awal. (3) Dan kalau keputusannya besar serta sulit dibatalkan, sisihkan waktu memeriksa setidaknya satu lapis di bawah permukaan, sekadar memastikan logikanya masuk akal, meski tidak perlu memahami seluruh detail teknisnya.
Kalau dipinjam membaca peristiwa An-Najm ini, ada pola serupa yang menarik, meski konteksnya sangat berbeda. Kaum Quraisy tidak sempat membedah dulu secara rasional kenapa mereka harus tunduk, penolakan mereka yang biasanya kokoh justru dilewati oleh sesuatu yang bekerja lebih cepat dari argumen, kekuatan bahasa dan bacaan itu sendiri. Bedanya dengan Black Box Model yang bicara soal kepasrahan pada sistem yang terlalu rumit untuk dipahami, di sini yang terjadi justru kebalikannya, ketundukan itu muncul bukan karena ketidaktahuan atau kerumitan, tapi karena kejelasan dan kekuatan yang begitu telak sehingga akal sehat pun kalah cepat oleh respons tubuh.
Yang paling menyayat dari kisah ini justru Umayyah bin Khalaf. Tubuhnya ikut tertarik oleh momen itu, tapi hatinya menolak sampai akhir, ia memilih jalan tengah yang sebenarnya bukan jalan tengah sama sekali, sujud simbolis ke tanah, bukan penyerahan diri yang sesungguhnya. Ini pengingat bahwa terpukau sesaat oleh kebenaran tidak otomatis berarti menerimanya, sebagaimana dibuktikan nasibnya sendiri yang berakhir di ujung pedang Badar, masih dalam kekafiran yang sama.
Wallahu a’lam.



