29 Juli, Juz 29
Bismillahirrahmanirrahim.
Ayat 1-5
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ ﴿١﴾ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا ﴿٢﴾ نِّصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا ﴿٣﴾ أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا ﴿٤﴾ إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا ﴿٥﴾
“Hai orang yang berselimut, bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.”
Ayat ini turun di masa-masa awal kenabian, memanggil Nabi yang saat itu sedang berselimut, mungkin karena kedinginan atau gentar menghadapi beratnya tugas yang baru saja dipikulkan. Bukan diperintahkan langsung menghadapi tugas berat itu, tapi lebih dulu dibangunkan untuk shalat malam, dengan opsi durasi yang fleksibel, separuh malam, kurang sedikit, atau lebih sedikit. Yang menarik, di ayat 20 (penutup surat), Allah sendiri memberi keringanan dari kewajiban ini, karena Dia tahu manusia tidak selalu sanggup menghitung dan menjaga durasi malam dengan presisi, “maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an.”
Ayat ini yang membuatku merenungkan kembali disiplin rutinitasku sendiri yang lagi kendor belakangan. Makan jadi kurang teratur, beberapa baju mulai terasa sempit, dan olahraga terasa kehilangan slotnya, pagi habis untuk antar anak sekolah, malam sudah kecapean duluan.
Ada satu model di buku The Decision Book (Krogerus & Tschäppeler) yang belum pernah dibahas di jurnal ini, namanya The SuperMemo Model, subjudulnya “How to remember everything you have ever learned”, dari bab How to Understand Yourself Better. Model ini dikembangkan peneliti Polandia Piotr Woźniak, berdasarkan riset bahwa memori jangka panjang punya dua komponen, retrievability (seberapa mudah diingat saat ini) dan stability (seberapa dalam tertanam di otak). Tanpa diulang, sesuatu yang sudah dipelajari akan makin sulit diingat seiring waktu, dan yang paling efektif menjaga ingatan bukan belajar sekali secara intensif, tapi mengulang dengan interval yang tepat. Kutipan yang dipakai buku ini pas sekali, “Bukan soal apa yang kamu tahu, tapi apa yang kamu ingat.”
Kalau dipinjam membaca disiplin rutinitas, prinsipnya persis sama. Tubuh dan kebiasaan bekerja seperti memori, konsistensi kecil yang berulang jauh lebih kuat membentuk perubahan permanen dibanding usaha besar sesekali yang tidak pernah diulang. Ayat 2-4 sebenarnya sudah menunjukkan pola ini lebih dulu, bukan menuntut semalam penuh tanpa jeda, tapi cukup sebagian, separuh, atau bahkan kurang dari separuh, yang penting konsisten dijalani berulang. Ayat 20 menegaskannya lebih jauh, “bacalah apa yang mudah bagimu”, bukan target maksimal yang memberatkan sampai akhirnya menyerah total.
Ini yang perlu segera diambil tindakannya, bukan cuma direnungkan. Target olahraga 30 menit yang selama ini terasa berat bisa dikoreksi lebih realistis, 20 menit saja, situasional, disesuaikan hari itu ada waktu berapa. Soal makan, bukan berarti mulai skip-skip waktu makan, tetap makan seperti biasa, cuma porsinya yang dikurangi.
Tapi jujur saja, di titik inilah biasanya rencana rapi ini mulai goyah. Nasi bisa dikurangi atau bahkan di-skip, tapi begitu sampai sayur, tetap saja diambil banyak dan variasinya macam-macam, lauknya kadang dobel pula. Rasanya lucu sendiri menuliskan ini, niatnya mengurangi porsi, tapi tangan tetap bergerak mengambil lebih.
Di titik lelah seperti ini, biasanya yang menolong bukan menyalahkan diri, tapi mengingat kembali momen-momen ketika berhasil konsisten, sampai sempat kagum sendiri, “wow, kemarin aku bisa juga ya.” Momen semacam itu bukti bahwa kemampuannya sebenarnya ada, cuma perlu dipanggil ulang, persis prinsip SuperMemo tadi, ingatan yang sempat kuat tidak hilang total, cuma butuh dipicu kembali di waktu yang tepat, bukan dianggap sudah lenyap selamanya.
Yang menenangkan dari ayat ini, Allah sendiri yang menyusun kelonggaran itu, bukan menuntut kesempurnaan kaku sejak awal, tapi memberi ruang menyesuaikan dengan kemampuan nyata, asal konsisten dijalankan dari waktu ke waktu, sekecil apapun porsinya hari itu.
Wallahu a’lam.



