Masih Sulit Berpihak pada Kemanusiaan di Palestina? Mungkin Karena Ceritanya Terlanjur Diputarbalik

Bismillah.

Yang membuatku bingung bukan kejadiannya. Korbannya jelas, pelakunya jelas, gambarnya beredar setiap hari. Yang membuatku bingung, kenapa masih begitu banyak orang yang kesulitan memahami musibah di Palestina, bahkan ragu harus berpihak ke mana.

Lama-lama aku paham. Cerita yang sampai ke mereka memang sudah dibolak-balik lebih dulu. Propaganda hari ini bukan pekerjaan iseng, tapi industri bernilai jutaan dolar, dikerjakan orang-orang profesional, dan targetnya kita yang cuma punya waktu semenit untuk menggulir layar.

Dan ini bukan hal baru sama sekali.

Ada relief batu di Roma yang umurnya hampir dua ribu tahun, di dinding Gapura Titus, dipahat untuk merayakan kemenangan Romawi atas Yerusalem. Gambarnya arak-arakan orang memanggul menorah, pelita bercabang tujuh dari Bait Suci.

Siapa yang memanggulnya? Bagi sejarawan, jelas itu prajurit Romawi yang menang perang, sedang memamerkan rampasan. Tapi berabad-abad beredar pembacaan lain, bahwa yang memanggul itu tawanan Yahudi sendiri, membawa benda sucinya menuju pembuangan. Steven Fine menelusuri asal-usul pembacaan itu dalam kuliahnya, Who is Carrying the Menorah?, dari Italia zaman Renaisans sampai masuk ke ikonografi Zionis.

Satu batu yang sama, tidak bergeser sedikit pun sejak dipahat, melahirkan dua cerita yang berlawanan arah. Yang satu soal kekalahan, yang satu soal martabat yang tidak ikut hancur. Dan dari cerita kedua itulah lahir klaim untuk kembali.

Kalau batu saja bisa dibalik ceritanya, apalagi berita yang lewat di layar kita hari ini.

Jalan keluarnya cuma satu, cari sumber yang tidak bisa diutak-atik siapa pun. Dan ternyata bahannya melimpah, sudah tersedia sejak dulu. Al-Qur’an membahas Bani Israel lebih detail daripada bangsa mana pun. Wataknya, cara bereaksi ketika diperintah, cara memutar kata, semuanya direkam. Teksnya tidak bergeser satu huruf pun selama lebih dari empat belas abad, terjaga bukan cuma di lembaran tapi di dalam dada jutaan penghafalnya.

Jadi April ini aku mau baca satu juz sehari sambil memegang benang merah itu. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk paham polanya, lalu jujur menandai bagian mana yang ternyata sedang bercerita tentang diriku sendiri.

Karena yang direkam di sana bukan penyakit khusus satu bangsa. Itu penyakit manusia.

Yuk, sebulan ke depan kita cari sama-sama hikmahnya langsung dari Al-Qur’an, satu juz setiap hari, di jurnal tadabur bulan April ini.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News