Hari #17, 1 Oktober – Juz 1
Bismillah
Mulai hari ini bacaan kembali ke juz pertama, dan siklus penuh dimulai. Kemarin tulisan ditutup dengan tentang Pemilik rumah. Hari ini giliran rumahnya sendiri, dari saat pertama kali fondasinya ditinggikan.
Lembah yang tidak ada apa-apanya
Sebelum ada bangunan, yang ada cuma lembah.
Dalam riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas, Ibrahim membawa Hajar dan bayinya Ismail ke tempat itu, lalu meninggalkan mereka di sana dengan sekantung kurma dan sedikit air. Tidak ada orang, tidak ada tanaman, tidak ada sumber air.
Hajar mengejar suaminya yang berjalan pergi dan bertanya, apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini. Ibrahim menjawab ya. Dan Hajar berkata, kalau begitu Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.
Bekal habis. Air habis. Bayinya menangis kehausan. Dan Hajar berlari bolak-balik antara dua bukit, tujuh kali, mencari tanda kehidupan di kejauhan.
Lalu air itu terpancar di dekat kaki bayinya.
Dari situ segalanya bermula. Kabilah Jurhum yang sedang melintas melihat burung berputar-putar di atas lembah, dan burung menandakan air. Mereka datang meminta izin menetap. Hajar mengizinkan dengan satu syarat: air itu bukan milik mereka.
Lembah yang tadinya kosong jadi berpenghuni. Ismail tumbuh di antara mereka, belajar bahasa Arab dari mereka, dan kelak menikah dengan perempuan dari kabilah itu.
Semuanya karena satu sumur.
Air yang keluar di tempat itu
Aku percaya Ibrahim berhenti di tempat itu bukan karena kebetulan, melainkan petunjuk Allah SWT. Dan ternyata secara ilmu bumi, titik itu memang titik yang masuk akal.
Sumur Zamzam berada di dasar Wadi Ibrahim, lembah kering yang membelah Makkah dan dikepung perbukitan batu. Dalamnya sekitar tiga puluh meter. Empat belas meter pertama menembus endapan pasir dan kerikil yang dibawa banjir lembah selama ribuan tahun. Bagian bawahnya menembus batuan dasar.
Di antara keduanya ada lapisan setebal setengah meter berupa batuan lapuk yang sangat lolos air. Dari lapisan tipis itulah air utama masuk ke dalam sumur.
Sumbernya dari air hujan yang meresap di lembah dan dari rekahan batu di gunung-gunung sekitar Makkah. Jadi lembah itu titik kumpul. Air yang jatuh di perbukitan mengalir turun lewat retakan, berkumpul di endapan lembah, dan muncul persis di situ.
Rasanya pun bisa dijelaskan. Kandungan mineral airnya tinggi, sekitar 814 mg zat terlarut per liter menurut satu penelitian, sementara air minum biasa umumnya di bawah 500. Kalsium dan magnesiumnya banyak. Itu sebabnya terasa berat dan sedikit asin.
Lalu apakah bisa kering? Secara ilmu, bisa. Justru karena itu dijaga. Saudi Geological Survey punya pusat khusus yang memantau tinggi muka air dan mutunya, dan laju pemompaan diatur supaya tidak melebihi kemampuan tanah mengisi ulang. Ada juga catatan penelitian bahwa makin padatnya bangunan di kawasan itu membuat air hujan lebih banyak mengalir di permukaan daripada meresap.
Jadi ilmu menjelaskan bagaimana airnya ada. Rekahan batu, endapan lembah, lapisan lapuk setebal setengah meter.
Yang tidak dijelaskan ilmu adalah kenapa seorang laki-laki yang berjalan dari arah utara, tanpa peta dan tanpa alat apa pun, berhenti persis di titik itu. Bukan dua kilometer ke utara, bukan di lembah sebelah.
Dan Hajar sendiri tidak menemukan airnya dengan berlari. Dia berlari tujuh kali ke dua bukit, karena di sanalah akal menyuruh mencari. Airnya justru ada di bawah kaki anaknya, di tempat dia meninggalkannya.
Lalu fondasi itu ditinggikan
Bertahun-tahun kemudian Ibrahim kembali. Dan kali ini ada pekerjaan yang harus diselesaikan ayah dan anak.
وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُ ۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
“Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail, seraya berdoa, ‘Ya Tuhan kami, terimalah dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.'” (Al-Baqarah: 127)
Mereka sedang mengerjakan bangunan yang akan dituju miliaran orang sampai hari kiamat. Dan yang keluar dari mulut mereka sambil mengangkat batu bukan kalimat kebanggaan, melainkan permintaan agar diterima.
Rabbana taqabbal minna.
Kalimat itu diucapkan di tengah pekerjaan, bukan sesudahnya. Jadi bukan laporan hasil kerja, tapi kekhawatiran yang dibawa sambil bekerja.
Tempat berkumpul dan tempat yang aman
Beberapa ayat sebelumnya, Allah menyebut untuk apa rumah itu dijadikan.
وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًا ۗ وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّى
“Dan ingatlah ketika Kami menjadikan rumah itu tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat.” (Al-Baqarah: 125)
Kata matsabah artinya tempat yang didatangi berulang-ulang. Orang pulang dari sana lalu ingin kembali lagi. Persis seperti yang aku rasakan setiap selesai tawaf wada.
Dan maqam Ibrahim yang disebut di ayat itu bukan makam. Itu batu tempat beliau berpijak ketika meninggikan dinding Ka’bah yang makin lama makin tinggi. Batu itu masih ada sampai sekarang, disimpan dalam kubah kaca di dekat Ka’bah.
Jadi ketika kita shalat dua rakaat setelah tawaf di belakang maqam itu, kita sedang berdiri di belakang sebuah batu yang pernah diinjak Ibrahim sambil menyusun dinding dan sambil berdoa agar amalnya diterima.
Kalau diingat seperti itu, dua rakaat yang biasanya kita kerjakan terburu-buru karena didorong orang di belakang jadi terasa lain.
Doa yang isinya untuk orang lain
Yang paling banyak di bagian ini justru doa Ibrahim, dan hampir semuanya bukan untuk dirinya sendiri.
رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ
“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (Al-Baqarah: 126)
Minta keamanan untuk negerinya. Minta rezeki untuk penduduknya. Lalu minta keturunannya diajari manasik dan diterima tobatnya. Lalu minta diutus seorang rasul dari kalangan mereka.
Doa terakhir itu dikabulkan ribuan tahun kemudian lewat kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.
Dan permintaan rezeki berupa buah-buahan di lembah tanpa tanaman itu juga dikabulkan, dengan cara yang tidak masuk akal secara pertanian. Buahnya memang tidak tumbuh di sana. Buahnya datang dibawa orang dari mana-mana, dan sampai hari ini masih begitu.
Yang tidak selesai dibangun
Ada satu bagian dari sejarah bangunan itu yang menarik untuk kita yang pernah tawaf.
Ka’bah yang dibangun Ibrahim dulu lebih luas dari yang sekarang. Ketika kaum Quraisy membangun ulang, lima tahun sebelum kenabian, dana halal yang terkumpul tidak cukup. Mereka memutuskan mempersempit bangunannya, dan sebagian fondasi Ibrahim ditinggalkan di luar.
Bagian yang tertinggal itulah yang sekarang kita kenal sebagai Hijr Ismail, area setengah lingkaran berdinding rendah di sisi Ka’bah.
Itu sebabnya orang yang tawaf harus mengelilingi Hijr Ismail dari luar, tidak boleh memotong lewat dalam. Karena secara fondasi, bagian itu masih bagian dari rumahnya.
Dan ada kalimat Nabi kepada Aisyah, bahwa seandainya kaumnya tidak baru saja meninggalkan masa jahiliyah, beliau akan membangunnya kembali sesuai fondasi Ibrahim.
Jadi bangunan yang kita kelilingi hari ini bukan bentuk aslinya. Tapi tetap kita kelilingi, karena yang dinilai memang bukan bentuknya.
Apa yang aku ambil untuk hari ini
Dua hal.
Pertama, soal Hajar. Dia berlari tujuh kali dan airnya tidak keluar dari tempat yang dia datangi. Airnya keluar dari bawah kaki anaknya, di tempat yang sejak awal ada di sana. Usahanya tetap diabadikan jadi rukun, meski bukan usahanya yang menghasilkan air itu.
Kedua, soal rabbana taqabbal minna. Kalau orang yang membangun Ka’bah saja masih khawatir amalnya tidak diterima, maka kalimat itu seharusnya ikut menempel di setiap amal yang aku kerjakan, agar aku serius dan ikhlas mengerjakan sebuah amal.
Wallahu a’lam bi showab.







