3 Maret, Juz 3

Bismillah.

Membuka Juz 3 hari ini, ingatanku langsung melayang ke tadi malam. Di masjid dekat rumah, Masjid Baitul Hakim, aku yang tidak tahu jadwal khatib tarawih, sangat gembira bertemu kembali satu shaf dengan Ustadz Dr. KH. Ali Sibro Malisi. Beliau adalah tetangga depan rumah semasa aku masih di pondok mertua indah. Tentu saja banyak kenangan dari masa-masa itu dalam bertetangga dan berjamaah di mushola seberang rumah.

3 Maret 2026

Ustadz Ali Sibro tadi malam membawakan tema yang kaya dengan kisah hikmah dan rasa syukur. Tadi pagi, ketika membaca Juz 3, benang merah ceramah beliau ternyata persis ada di sini: tentang infak, dan prioritas amal, dan terhubung dengan dua figur besar yang cara berimannya sangat berbeda tapi sama-sama menakjubkan.

3 Maret 2026

Di Juz 3 ini, Allah begitu masif berbicara tentang infak. Dimulai dari janji 700 kali lipat di Al-Baqarah: 261, lalu adab agar tidak menyakiti penerima di ayat 262-264, dan puncaknya di Ali Imran: 92: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna, sebelum menginfakkan harta yang kamu cintai.”

3 Maret 2026

Ayat ini turun saat Abu Thalhah mewakafkan kebun kurma kesayangannya, Bairuha’, yang terletak persis di depan Masjid Nabawi. Ia paham, surga tak bisa dibeli dengan yang biasa-biasa saja, tapi dengan yang paling ia cintai.

3 Maret 2026

Lanjut ke dua orang tokoh.

3 Maret 2026

Pertama, Raja Najasyi.

3 Maret 2026

Ashama ibn Abjar, penguasa Habasyah. Ketika awal-awal kaum beriman di Makkah tumbuh, banyak yang tidak kuat dengan persekusi dan siksaan kaum Quraish. Sebagian dari mereka yang dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib (sepupu Nabi sekaligus kakak dari Ali bin Abi Thalib) diperintahkan untuk hijrah ke Habasyah dan diterima serta dilindungi oleh Raja Najasyi. Beliau wafat di negeri yang jauh, tidak pernah hijrah ke Madinah, tidak pernah ikut perang Badar, tidak pernah duduk bersimpuh di majelis Nabi. Tapi ketika ia wafat, Rasulullah menshalatkannya dari jauh, shalat gaib.

3 Maret 2026

Apa yang membuatnya istimewa?

3 Maret 2026

Di Surat Ali Imran ayat 91, Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir, tidak akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, sekalipun ia menebus diri dengan itu.”

3 Maret 2026

Emas sebanyak bumi tak bisa menebus dosa kekafiran. Tapi Raja Najasyi tidak punya emas sebanyak bumi. Ia hanya punya satu hal, yaitu iman yang bersembunyi di dada seorang raja, dan keberanian menyembunyikan kaum muslimin yang dikejar-kejar Quraisy.

3 Maret 2026

Ia selamat karena di saat sebagian besar penguasa memilih menindas kaum lemah, ia justru membuka pintu istana untuk mereka. Ia adalah wujud nyata dari keadilan sosial yang disebut dalam Surat At-Tawbah ayat 60, bahwa zakat dan infak diperuntukkan bagi mereka yang tertindas. Saya jadi teringat Bangsa Yaman dan Iran, Lebanon, dan semua bangsa pembela orang lemah, semoga Allah memberikan pahala dan rahmat karena pemimpin dan rakyat mereka telah rela berkorban.

3 Maret 2026

Kedua, Uwais Al-Qarni.

3 Maret 2026

Kalau Raja Najasyi mewakili iman seorang penguasa yang menyelamatkan, maka Uwais mewakili iman yang lahir dari ruang paling sederhana: rumah.

3 Maret 2026

Uwais tidak pernah ke Madinah. Ia tinggal di Yaman, sibuk merawat ibunya yang sudah renta. Ia tidak punya pasukan, tidak punya pengaruh. Di mata manusia, ia mungkin tak lebih dari penggembala biasa. Tapi di langit, namanya harum melebihi banyak orang.

3 Maret 2026

Rahasia Uwais ada di Surat Al-Baqarah ayat 215. Ketika para sahabat bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasul, kepada siapa kami harus berinfak?” turunlah ayat: “Katakanlah: Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diberikan kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan.”

3 Maret 2026

Urutan pertama: orang tua.

3 Maret 2026

Uwais tidak menginfakkan harta, ia menginfakkan seluruh hidupnya. Waktu, tenaga, masa mudanya, ia gadaikan untuk senyum ibunya. Ia adalah bukti bahwa bakti kepada orang tua adalah infak yang paling utama, dan bahwa dari rumah yang penuh bakti, keberkahan akan mengalir turun-temurun.

3 Maret 2026

Allah berfirman dalam Surat At-Tur ayat 21: “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal mereka.”

3 Maret 2026

Itulah janji Allah. Keberkahan yang tak terputus. Warisan iman yang terus mengalir.

3 Maret 2026

Dua tokoh ini, Raja Najasyi dan Uwais, tidak pernah bertemu Nabi. Raja Najasyi hanya berkirim surat, Uwais bahkan tidak pernah ke Madinah. Tapi keduanya mendapat tempat tertinggi di sisi Allah.

3 Maret 2026

Ustadz Ali Sibro mengingatkanku akan mereka. Beliau tidak sedang berceramah tentang teori infak yang rumit.

3 Maret 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News