4 Maret, Juz 4
Bismillah.
Selama ini aku pikir infak itu ya infak uang. Ternyata ada juga yang namanya infak ego.
Memasuki hari ke-14 Ramadhan, aku masih pengin ngulik soal infak. Setelah kemarin diingatkan kalau prioritas tertinggi bakti kepada orang tua bisa diwujudkan lewat infak, di Juz 4 ini Allah memperluas dimensi infak itu jadi semacam kurikulum lengkap bagi calon penghuni surga.
Alhamdulillah hari ini akhirnya sempat menengok Bulik yang sedang dirawat di RS Hermina Ciputat, setelah kemarin sore sempat kelewatan waktu untuk ke sana. Waktu memutuskan untuk menunda kemarin, sepanjang jalan pulang kantor aku gelisah terus, karena ingat derajat kedekatan Bulikku ini seperti Ibuku sendiri, semenjak Ibu berpulang.
Lega rasanya hari ini kunjungannya bisa terlaksana. Sempat ngobrol ngalor-ngidul dengan Bulik Yati yang sedang sakit, Bulik Iim yang juga sedang menengok, dan Itha binti Mudjahidin, sepupuku, sambil berdoa semoga kesembuhan tercurah buat beliau, dan rahmat serta barokah buat kami semua.
Juz 4 sendiri membentang dari pertengahan Surat Ali Imran (mulai ayat 93) sampai hampir sepertiga awal Surat An-Nisa (berakhir di ayat 23). Isinya soal keteguhan iman pasca kekalahan Perang Uhud, prinsip musyawarah dalam kepemimpinan, teguran agar umat Islam tidak bercerai-berai, sampai transisi ke Surat An-Nisa yang merevolusi hukum-hukum sosial, perlindungan hak perempuan, anak yatim, dan struktur keluarga.
Di antara hamparan hukum itu, aku berhenti di Surat Ali Imran ayat 133 dan 134. Allah menyuruhku bergegas berlomba menuju ampunan dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.
“Wa saari’uu ilaa maghfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘arduhas samaawaatu wal ardu ui’ddat lil muttaqiin.”
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”
Ayat 134 lalu merinci siapa profil orang bertakwa yang berhak mendapat surga seluas itu:
“Alladziina yunfiquuna fis sarraa-i wad darraa-i wal kaadzimiinal ghaizha wal ‘aafiina anin naas, wallahu yuhibbul muhsiniin.”
“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
Ayat ini turun setelah Perang Uhud, saat hati kaum muslimin sedang sedih, marah, dan berpotensi saling menyalahkan.
Membaca ayat ini sambil mengaitkannya dengan kegelisahanku kemarin, aku sadar arti infak di waktu sempit itu bukan cuma soal dompet yang sedang tipis, tapi juga soal waktu dan tenaga yang sedang terbatas.
Menyisihkan waktu di tengah himpitan kesibukan untuk menengok orang sakit, itu juga wujud nyata infak di waktu sempit. Kehadiran fisik, senyuman, genggaman tangan, dan doa kesembuhan yang diucapkan langsung, ternyata jadi sedekah rasa aman yang sangat mahal bagi orang yang sedang diuji. Pantas saja Rasulullah mengabarkan ada tujuh puluh ribu malaikat yang ikut mendoakan rahmat bagi siapa saja yang menjenguk saudaranya yang sakit.
Ngobrol dengan Bulik Yati tadi juga bikin aku bernostalgia ke masa remaja. Dulu Ibuku (rahimahallah) selalu memberi contoh langsung bagaimana menyayangi adik-adiknya, termasuk Bulikku ini. Kalau kami anak-anaknya mulai cemburu karena perhatian beliau, Ibu langsung mengingatkan bahwa itu praktik nyata kasih sayang persaudaraan. Kami sepuluh bersaudara, jadi urusan persaudaraan dan persatuan memang jadi perhatian utama orang tua kami.
Merenungi lagi susunan ayat 134 di atas, urutannya ternyata logis dan berjenjang. Setelah perintah berinfak (harta maupun waktu), Allah langsung menyambungnya dengan menahan amarah (wal kaadzimiinal ghaizh), memaafkan kesalahan orang lain (wal aafiina anin naas), lalu berbuat kebaikan (ihsan).
Di sinilah jawaban soal infak ego yang kupertanyakan di awal tulisan. Memaafkan dan menahan amarah sejatinya bentuk infak level tertinggi. Kalau infak harta dan waktu itu menyedekahkan apa yang kumiliki, memaafkan itu menginfakkan egoku sendiri, dengan sadar memberikan hakku untuk marah dan membalas dendam, lalu melepaskannya lillahi ta’ala, demi membeli kelapangan hati dan tiket ke surga.
Inilah rasanya esensi terdalam dari madrasah Ramadhan yang sedang kujalani. Puasa melatih menahan amarah, memaksa memaafkan, dan mendorong terus berinfak empati di tengah kesempitan.
Bismillah. Semoga puasa di hari ke-14 ini benar-benar melatihku lulus dari kurikulum surga Surat Ali Imran ini, jadi pribadi yang dermawan hartanya, ringan langkah menengok saudara yang sakit demi menyambung jejak ajaran Ibunda, dan luas hati untuk menginfakkan ego demi sebuah sifat memaafkan.
Wallahu alam.
