1 Maret, Juz 1.
Bismillah.
Hari ini aku memulai kembali langkah pertama dalam perjalanan belajar memahami Al-Quran sedikit demi sedikit, senukil demi senukil, secara harian.
Dalam pengajian Sabtu bada shubuh lalu di masjid komplek kami, Masjid Al-Akhbar, Ustadz Dr. Ahmad Sarwat, Lc, MA membahas tentang rekonstruksi sejarah dan hikmah Nuzulul Quran.
Al-Quran tidak turun sekaligus dari langit dalam bentuk buku yang sudah dijilid. Ia turun secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun. Ada fase Makkah yang ayat-ayatnya lebih fokus pada penanaman akidah, ketauhidan, hari kiamat, dan perbaikan akhlak dasar. Lalu ada fase Madinah yang lebih menekankan pada tatanan hukum sosial, kenegaraan, dan syariat.
Turunnya pun seolah acak, sebagian ayat-ayatnya juga seperti jurnal harian kehidupan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, serta respon terhadap lingkungannya saat itu. Ada suatu peristiwa atau pertanyaan apa, lalu turunlah wahyu sebagai jawabannya.
Contohnya di Juz 1 ini. Saat ada kejadian di mana sebagian dari Bani Israil pada masa itu berpura-pura beriman di depan para sahabat, namun di belakang mereka saling memarahi karena takut rahasia kitab mereka terbongkar, Allah merespons situasi hari itu juga dan membongkarnya di Surat Al-Baqarah ayat 76:
“Wa idzaa laqul ladziina aamanuu qaaluu aamannaa, wa idzaa khalaa badhuhum ilaa badhin qaaluu atuhadditsuunahum bimaa fatahallahu alaikum liyuhajjuukum bihii inda rabbikum, afalaa taqiluun”
“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: ‘Kami telah beriman’. Tetapi apabila mereka kembali kepada sesamanya, mereka berkata: ‘Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu? Tidakkah kamu mengerti?'”
Contoh lain walau di juz yang berbeda, Al-Quran merekam langsung kehidupan pribadi Nabi dan tradisi sosial sahabat. Misalnya saat Nabi diperintahkan menikahi Zainab binti Jahsy, mantan istri anak angkatnya (Zaid bin Haritsah). Ayat ini turun untuk mendobrak tradisi jahiliyah yang menyamakan anak angkat dengan anak kandung. Peristiwa ini direkam di Surat Al-Ahzab ayat 37:
“Falammaa qadhaa zaidum minhaa wataran zawwajnaakahaa…” “Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia…”
Lalu, apa hikmah agung di balik turunnya Al-Quran secara acak dan bertahap ini?
Hikmahnya adalah proses internalisasi di kalangan sahabat lebih kuat. Format bertahap ini adalah strategi pedagogis dari Allah agar perubahan syariat tidak mengejutkan umat secara tiba-tiba (culture shock). Bangsa Arab dididik perlahan untuk meninggalkan tradisi jahiliyah. Al-Quran menanamkan fondasi iman terlebih dahulu, sehingga saat hukum final turun, mereka sudah memiliki mental yang cukup kuat untuk mematuhinya.
Proses delivery (penyampaian) dari Nabi kepada para sahabat pun sangat luar biasa. Al-Quran turun sebagai “database berbasis hati” melalui frekuensi suara. Setiap wahyu turun, Nabi langsung menyampaikannya, dan ayat-ayat itu tidak sekadar dihafal di tenggorokan, melainkan meresap ke dalam jantung dan memori kolektif sahabat sebagai pedoman hidup.
Untuk merapikan “jurnal” yang turun acak tersebut, setiap tahun di bulan Ramadhan, Nabi melakukan murojaah bersama Malaikat Jibril. Di momen inilah Jibril melakukan audit, menyusun ulang urutan ayat dan surah agar selaras dengan cetak birunya di Lauhul Mahfuz. Susunan final yang rapi di memori para sahabat inilah yang akhirnya dibukukan pada masa Khalifah Utsman dengan alasan mendesak: wilayah Islam sudah tersebar luas dan banyaknya sahabat penghafal Al-Quran yang syahid.
Metode pedagogis yang bertahap ini sangat berbeda dengan kitab Taurat. Nabi Musa menerima Taurat secara sekaligus di Bukit Tursina, setelah peristiwa eksodus lari dari kejaran Firaun. Apakah ada dalilnya di Al-Quran bahwa Taurat turun berupa kepingan batu layaknya 10 Commandments (Sepuluh Perintah Tuhan)? Ada, yaitu di Surat Al-Araf ayat 145:
“Wa katabnaa lahuu fil alwaahi min kulli syai-im mauizhatun wa tafshiilal likulli syai-in…” “Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (kepingan batu Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu…”
Perbedaan cara turunnya wahyu ini menunjukkan variasi metode pendidikan Ilahi kepada masing-masing umat sesuai dengan konteks dan kesiapan mereka.
Secara psikologis, menerima tumpukan aturan hukum berat yang turun sekaligus itu menciptakan keterkejutan dan resistensi. Perbedaan sejarah wahyu inilah yang menjadi benang merah mengapa di Juz 1 aku langsung disuguhi rentetan kisah tentang Bani Israil. Allah menceritakan secara gamblang bagaimana keras kepalanya sebagian mereka dan kebiasaan mereka membantah.
Salah satu yang paling epik di Juz 1 adalah “drama sapi betina”, yang bahkan diabadikan menjadi nama surah ini, Al-Baqarah. Ketika ada kasus pembunuhan dan Allah menyuruh mereka menyembelih seekor sapi untuk mengungkap pelakunya, mereka tidak langsung taat. Mereka malah berdebat dan banyak tanya untuk mengulur waktu. Di ayat 68 mereka mendebat soal umurnya, lalu di ayat 69 mereka mendebat warnanya:
“Qaaluud-u lanaa rabbaka yubayyil lanaa maa lawnuhaa, qaala innahuu yaquulu innahaa baqaratun shafraa-u faaqiun lawnuhaa tasurrun naadziriin”
“Mereka berkata: Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya. Musa menjawab: Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan pandangan orang-orang yang melihatnya.”
Padahal kalau dari awal mereka langsung menyembelih sapi apa saja, selesai urusannya.
Watak keras kepala dan kebiasaan mencari celah aturan pada sebagian mereka direkam jauh-jauh hari di Surat Al-Baqarah ayat 84 dan 85:
“…Tsumma antum haa-ulaa-i taqtuluuna anfusakum wa tukhrijuuna fariiqam minkum min diyaarihim…” “…Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya…”
Membaca kisah tentang sebagian Bani Israil di Juz 1 ini terasa relevan sebagai pelajaran universal tentang bagaimana manusia bisa tergelincir dalam pembangkangan ketika hawa nafsu dan kepentingan dunia menguasai hati. Al-Quran tidak sedang melabeli suatu etnis, tetapi memperingatkan siapa pun yang mengulangi pola yang sama.
Dari rentetan sejarah dan kisah di Juz 1 ini, apa hikmah besar dan relevansinya bagi aku yang sedang menjalani ibadah puasa?
Hikmah terbesarnya adalah peringatan keras agar aku tidak meniru mentalitas pembangkangan tersebut. Saat diberi perintah oleh Allah, jangan banyak mendebat, mencari celah hukum, atau menunda-nunda seperti kisah drama sapi betina. Mentalitas seorang mukmin sejati adalah sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taat), bukan sami’na wa “nanyaina” (kami dengar dan kami banyak nanya).
Relevansinya dengan Ramadhan pun sangatlah erat. Ramadhan adalah Syahrul Quran (bulan diturunkannya Al-Quran). Jika dahulu Malaikat Jibril turun setiap Ramadhan untuk mengaudit susunan wahyu bersama Rasulullah, maka Ramadhan kali ini adalah momentum bagiku untuk mengaudit hati dan keimananku.
Apakah hatiku sudah selembut Al-Quran dan siap menerima perintah, atau justru mengeras seperti batu (kalhijaarati aw asyaddu qaswah)? Puasa di bulan ini mendidikku untuk taat tanpa banyak membantah. Saat azan maghrib berkumandang aku segera berbuka, saat imsak aku menahan diri. Murni bentuk ketaatan total tanpa perdebatan.
Bismillah, dengan kesadaran bahwa Al-Quran adalah jurnal kehidupan yang hidup, mari mulai perjalanan tadabbur 30 Juz di bulan suci ini. Semoga Allah melembutkan hati dan menjauhkan dari sifat pembangkangan yang pernah menjerumuskan umat-umat terdahulu.
Wallahu alam.
