Software Kehidupan dan Dialog Dua Arah: Jangan Kalah dengan Bangsa Jin di Surat Ar-Rahman

27 Februari, Juz 27.

Bismillah.

Di Juz 27 ini kembali berjumpa dengan Surat Ar-Rahman. Surat ini sangat indah, sampai-sampai rasanya ini adalah kali ketiga aku menuliskannya. Tulisan pertama menyoroti tentang pengulangannya yang indah dan melatih ingatan. Tulisan kedua bulan lalu merenungi tentang hamparan nikmat dan keseimbangan alam. Dan hari ini, fokus ketigaku jatuh pada satu titik: Al-Quran. Sangat selaras dengan tiga pilar ibadah di bulan Ramadhan: Al-Quran, Shalat, dan Infak.

Sebelum lebih lanjut, Juz 27 ini terdiri dari bagian akhir Surat Az-Zariyat, lalu memuat utuh Surat At-Tur, An-Najm, Al-Qamar, Ar-Rahman, Al-Waqiah, dan ditutup dengan Surat Al-Hadid. Pembahasan di juz ini sangat padat, mulai dari peringatan kiamat, syukur atas nikmat, klasifikasi manusia di akhirat (VIP surga), hingga hakikat infak sebagai pinjaman kepada Allah. Surat-surat itu pun sangat menarik, insyaAllah di waktu lain akan kudalami.

Surat Ar-Rahman ini punya latar belakang yang sangat istimewa. Ia turun sebagai jawaban dari Allah atas kesombongan orang-orang kafir Quraisy. Dulu, seperti dinukil di akhir Surat Al-Furqan ayat 60, ketika mereka diseru untuk sujud kepada Ar-Rahman, mereka membantah dan mengejek: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang’, mereka menjawab: ‘Siapakah Yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?’, dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).”

Allah langsung menjawab bantahan itu dengan menurunkan sebuah surat yang susunan awalnya sungguh megah: Ar-Rahman (Tuhan Yang Maha Pengasih), Allamal-Quran (Yang telah mengajarkan Al-Quran), Khalaqal-insan (Dia menciptakan manusia), Allamahul-bayan (Mengajarnya pandai berbicara).

Dalam hal urutan ayat, Allah menyebutkan “mengajarkan Al-Quran” lebih dulu, padahal manusia yang diajari saja baru diciptakan di ayat setelahnya. Banyak yang bertanya, kenapa?

Merujuk pada tafsir Ibnu Katsir, urutan ini disusun bukan berdasarkan waktu kejadian, melainkan berdasarkan skala prioritas dan kemuliaan. Nikmat petunjuk (Al-Quran) derajatnya jauh lebih tinggi daripada nikmat eksistensi fisik (penciptaan manusia). Apalah arti diciptakan sebagai manusia jika hidupnya tak punya arah. Tanpa panduan Al-Quran, manusia tak ada bedanya dengan makhluk biologis lainnya. Jadi, manusia menjadi khalifah karena dilengkapi dengan hudan (petunjuk) bahkan sebelum diciptakannya.

Lalu di ayat keempat ada kata bayan. Menurut Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, bayan adalah kemampuan akal untuk memahami sesuatu dan kemampuan lisan untuk mengungkapkannya dengan jelas. Bayan adalah alat komunikasi dan pemahaman yang secara spesifik membedakan manusia dari hewan.

Terlintas analogi kekinian di kepalaku. Jika diibaratkan, Al-Quran yang merupakan hudan (petunjuk) itu adalah software utamanya. Fisik manusia ini adalah hardware-nya. Sedangkan bayan adalah semacam operating system atau machine learning-nya, yang membuat hardware ini bisa merespons, belajar, dan memproses software tersebut agar berfungsi optimal dan punya tujuan. Entahlah apakah istilah teknologinya seratus persen presisi, tapi analogi ini membuatku jauh lebih mudah mencerna keagungan ayat ini.

Lalu, berbekal mesin bayan ini, bagaimana seharusnya kita merespons Al-Quran?

Ayat-ayat Al-Quran ternyata tidak hanya diturunkan ke manusia, tapi juga ke bangsa Jin. Surat Ar-Rahman ini adalah salah satu bukti terkuatnya, dengan seruan penutupnya yang diulang hingga 31 kali dan selalu ditujukan untuk dua entitas tersebut: Fabi’ayyi aalaa’i rabbikumaa tukadzdzibaan. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu (jin dan manusia) dustakan?”

Ada sebuah riwayat masyhur yang sangat menampar. Suatu hari Rasulullah membacakan Surat Ar-Rahman ini dari awal hingga akhir kepada para sahabat. Para sahabat mendengarkannya dalam diam karena saking takjub dan takutnya. Namun, Nabi bersabda bahwa respons bangsa jin ternyata jauh lebih interaktif.

Ketika Nabi membacakan surat ini di malam pertemuannya dengan bangsa jin, setiap kali sampai pada ayat “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”, bangsa jin itu tidak diam. Mereka selalu menjawab serempak: “Tidak ada satu pun dari nikmat-Mu wahai Tuhan kami yang kami dustakan, maka bagi-Mulah segala puji.”

Dari sini dapat dipahami, sekadar membaca Al-Quran saja tidak cukup. Interaksi dengan Al-Quran adalah sebuah dialog dua arah. Allah sudah membekali kita dengan perangkat bayan, maka kita harus merespons ucapan/hudan-Nya dalam segala aktivitas.

Saat membaca Al-Quran, suasananya harus hidup. Kalau kita sampai pada ayat “Ya ayyuhalladzina amanu” (Wahai orang-orang yang beriman), seharusnya otomatis merespons, “Hadir, ya Allah. Apa perintah-Mu?”

Membaca Al-Quran dengan cara interaktif seperti ini membuat tadabbur Quran di bulan Ramadhan menjadi jauh lebih bernyawa. Ia bukan lagi sekadar deretan huruf mati yang dikejar target halamannya, melainkan surat cinta dari Ar-Rahman yang selalu menanti untuk direspons. Jangan sampai kalau ada pesan dari Allah, hanya ada centang satu, harusnya dua centang biru dan action, seperti di perangkat pesan.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News