Tanda Kebesaran-Nya dan Matematika Langit tentang Harta: Membedah Surat Ar-Rum

21 Februari, Juz 21.

Dalam pembahasan Juz 21 pada Januari lalu, aku sempat menuliskan bagaimana Allah berjanji akan memberikan kemenangan kepada Romawi dalam waktu dekat setelah ia dikalahkan Persia. Asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat awal di Surat Ar-Rum ini adalah untuk membantah klaim kafir Quraisy yang mengatakan bahwa penyembah berhala (Persia) lebih unggul dari Ahlul Kitab (Romawi), yang secara tidak langsung menyindir bahwa mereka juga lebih unggul dari Muhammad SAW yang membawa risalah tauhid.

Hari ini, ketika mengulang kembali bacaan Surat Ar-Rum, aku tertarik pada ayat-ayat yang menggunakan kalimat yang sama secara berulang. Ada sebuah gaya bahasa (uslub) yang sangat indah di mana Allah mengulang frasa “Wa min aayaatihii…” (Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya…) hingga 7 kali! (ayat ke 20, 21, 22, 23, 24, 25, 46).

Ada apa sebenarnya?

Ternyata ayat-ayat yang diawali “Wa min aayaatihii” ini tidak sedang ingin membahas hadiah kemenangan besar, seperti kemenangan Romawi, tapi membahas hadiah kecil Allah yang sehari-hari kita rasakan, hal-hal “kecil” yang dekat dengan keseharian kita.

Rentetan pertama ada beruntun di Ayat 20 sampai 25. Allah menyebutkan tanda kebesaran-Nya secara berurutan:

  1. Asal-usul kita dari tanah (Ayat 20).

  2. Keluarga dan Jodoh yang menenteramkan / Sakinah (Ayat 21).

  3. Perbedaan bahasa dan warna kulit (Ayat 22).

  4. Nikmat tidur di waktu malam/siang dan bekerja (Ayat 23).

  5. Hujan yang menghidupkan bumi yang mati (Ayat 24).

  6. Berdirinya langit & bumi hingga Hari Kebangkitan (Ayat 25).

Karunia atau pemberian, atau hadiah Allah di atas diberikan secara gratis kepada semua manusia. Hebatnya lagi, ujung ayat-ayat tersebut disesuaikan dengan potensi akal dan indra kita. Ada yang diakhiri dengan “…bagi kaum yang merenung”, “…bagi orang yang berilmu”, “…bagi kaum yang mendengar”, dan “…bagi kaum yang berakal”. Allah menantang logika dan akal sehat kita untuk mensyukuri nikmat gratis ini.

Sebagai contoh, mari kita lihat kutipan Ayat 23: “Wa min aayaatihii manaamukum bil-laili wan-nahaari wabtighaa’ukum min fadhlih, inna fii dzaalika la’aayaatil liqawmiy yasma’uun.” (“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.”).

Sempat terjeda beberapa belas ayat, frasa “Wa min aayaatihii” ini kembali muncul satu kali lagi di Ayat 46. Di sini Allah menyebutkan bahwa Dia-lah yang mengirimkan angin untuk menggerakkan kapal-kapal di lautan agar manusia bisa mencari karunia-Nya (infrastruktur berdagang/ekonomi).

Fasilitas dan hadiah sudah diberikan gratis, tapi kenyataannya banyak manusia yang tidak bersyukur, maka dari itu ujung ayatnya disuruh berpikir dan merenung.

Lalu, apa benang merah dari semua keajaiban di atas?

Ternyata benang merahnya tertuju pada salah satu pilar amalan atau resolusi utama kita di bulan Ramadhan ini, yaitu: INFAK.

Di bulan puasa ini, saat kita dilatih menahan lapar untuk memunculkan empati, rentetan ayat tadi seolah membangunkan kesadaran kita. Kita sudah sangat banyak dapat “gratisan” dan Allah sudah memberikan rezeki penuh, maka sekarang saatnya ada hak orang lain yang harus kita perhatikan.

Sebelum menyuruh kita berinfak, Allah membedah penyakit utama kecintaan manusia pada harta di Ayat 37. Allah menegaskan bahwa Dia-lah yang memegang keran rezeki; melapangkan dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Harta kita bukanlah murni hasil kecerdasan kita, melainkan titipan mutlak dari-Nya.

Karena Allah-lah yang memegang keran rezeki tersebut, maka di Ayat 38 Allah menginstruksikan dengan tegas: “Maka berikanlah haknya kepada kerabat dekat, orang miskin dan musafir…” Kata “haknya” menyadarkan kita bahwa sebagian uang di dompet kita sejatinya adalah hak milik orang lain yang Allah titipkan lewat perantara kita.

Lalu di Ayat 39, Allah membalikkan logika finansial manusia: “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat/infak untuk mencapai keridhaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).”

Rangkaian ayat ini seolah menelanjangi sifat pelit manusia. Logikanya begini: Kalau urusan kemenangan negara superpower saja Allah yang berikan (Ayat 1-6), urusan detak jantung dan tidur siang kita Allah yang jamin (Ayat 23), sampai infrastruktur rantai pasok ekonomi global (angin & kapal) Allah sediakan secara gratis (Ayat 46)… Lalu kenapa tangan kita masih berat untuk memberi alias berinfak? Kenapa kita masih takut miskin saat bersedekah dan malah mencari aman lewat jalan riba?

Di mata manusia, menahan harta itu bikin kaya. Tapi di “Matematika Langit”, harta yang dilepaskan ke kotak amal atau disedekahkan untuk takjil tetanggalah yang justru menjadikan pelakunya sebagai “Al-Mudh’ifuun” (Orang-orang yang asetnya terus dilipatgandakan oleh Allah).

Apalagi sebagai gong penutupnya, di Ayat 40 Allah mengingatkan siklus mutlak kehidupan: Kita diciptakan, diberi rezeki, lalu pasti akan dimatikan. Untuk apa menimbun dan menahan hak orang lain, jika ujung-ujungnya kita akan meninggalkan harta tersebut saat mati?

Kesimpulan hari ini, juz 21 mengingatkan bahwa kita hidup dikelilingi oleh “Wa min aayaatihii”—tanda kebesaran-Nya yang tak terhitung harganya. Jangan biarkan tangan kita menggenggam harta terlalu erat di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.

Bismillah, mari kita buktikan bahwa akal kita jalan (ya’qiluun). Lepaskan hak mereka yang ada pada harta kita hari ini.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News