23 Februari, Juz 23.
Melanjutkan menu Ramadhan yang kususun untuk diriku. Setelah beberapa waktu lalu di pembahasan Juz 1 aku merenungkan tentang takbiratul ihram, doa iftitah, hingga penghayatan bacaan Al-Fatihah, hari ini di Juz 23 aku mendapat tambahan hikmah mendalam tentang ruku dan sujud.
Di juz ini, aku menemukan sebuah kisah luar biasa tentang sujudnya seorang Nabi sekaligus Raja besar. Kisah ini begitu agung hingga ayat tersebut dijadikan salah satu Ayat Sajdah, ayat yang disunnahkan untuk sujud tilawah saat membacanya.
Ayat tersebut ada di Surat Shad ayat 24, yang menceritakan peristiwa titik balik Nabi Dawud. Suatu ketika, saat menyadari kekeliruannya setelah terburu-buru memutus sebuah perkara, apa yang dilakukan sang Raja? Al-Quran merekamnya: “Wa kharra raaki’an wa anaab”, maka dia memohon ampunan kepada Tuhannya lalu menyungkur rukuk dan bertobat.
Para mufassir menjelaskan bahwa kata raaki’an (rukuk) di ayat ini bermakna sujud. Dalam Tafsir Al-Jalalain dan Zubdatut Tafsir ditegaskan bahwa yang dimaksud adalah beliau bersujud. Para ulama juga menjelaskan bahwa sujudnya Nabi Dawud ini adalah sujud syukur atas diterimanya taubat beliau.
Aku jadi merenungkan hikmah gerakan shalat, kenapa harus ruku dahulu, baru kemudian sujud?
Ternyata ini adalah proses transisi untuk menundukkan diriku. Ruku adalah cara mematahkan kesombongan tulang punggungku hingga turun sejajar. Seperti sedang disuruh menundukan ego. Lalu dari ruku, bangkit menuju i’tidal. Selama ini, apakah i’tidal hanya sekadar berdiri lurus sesaat untuk numpang lewat menuju sujud? Ada tuma’ninah (ketenangan) yang diwajibkan di sana. Mengingat kembali sebuah hadis masyhur dari Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu ‘anhu.
Dalam Shahih Bukhari nomor 799 dikisahkan, ketika kami suatu hari shalat di belakang Nabi, lalu beliau mengangkat kepala dari rukuk sambil membaca Sami’allaahu liman hamidah, seorang sahabat di belakang beliau mengucapkan: “Rabbanaa wa lakal hamdu, hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih.” Setelah selesai shalat, Nabi bertanya, “Siapa yang mengucapkan doa tadi?” Sahabat itu menjawab, “Saya.” Maka Rasulullah bersabda: “Aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat berlomba-lomba untuk menulis doa tersebut pertama kali” (HR. Bukhari).
Betapa dalam maknanya. I’tidal yang diiringi dengan tuma’ninah ternyata adalah waktu yang sangat mustajab. Para malaikat bahkan berebut mencatat pujian yang tulus dari seorang hamba.
Setelah memuji di posisi i’tidal, barulah tersungkur jatuh dalam sujud. Sujud adalah saat meletakkan keningku—simbol mahkota dan titik kehormatan tertinggi sebagai manusia—ke titik yang paling rendah, yaitu tanah.
Rasulullah bersabda: “Kondisi paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika dia sedang sujud, maka perbanyaklah doa” (HR. Muslim).
Doa Subhaanakallaahumma rabbanaa wa bihamdika, Allaahummaghfir lii yang sering kubaca saat ruku dan sujud, doa ajaran Rasulullah sungguh luar biasa, diriwayatkan dalam Shahih Bukhari bahwa Nabi memperbanyak bacaan ini saat ruku dan sujud sebagai bentuk penghambaan. Di dalam doa tersebut menggabungkan tasbih, tahmid, dan istighfar. Seolah lisan ini dilatih: sembari fisikku merendah, aku mengakui bahwa diriku penuh dosa dan sangat memelas mengharapkan ampunan-Nya.
Aku ingat penjelasan Ustadz Adi Hidayat tentang makna gerakan dua sujud. Apa yang sebenarnya harus ditekankan dalam kedua sujud itu?
Sujud pertama harus fokus pada memohon ampun. Kenapa? Karena setelah ini akan duduk untuk berdoa meminta banyak hal. Bagaimana mungkin doa dan permintaan diterima jika diriku belum diampuni oleh Allah? Maka sujud pertama adalah sarana pembersihan diri dari dosa.
Lalu bangkit dan duduk di antara dua sujud. Di posisi duduk ini, para ulama menjelaskan bahwa inilah saat yang sangat strategis untuk berdoa. Dalam riwayat shahih, Rasulullah membaca doa: “Rabbighfir lii, rabbighfir lii” (Ya Tuhanku, ampunilah aku). Ustadz Adi Hidayat menambahkan bahwa di sinilah momen memohon ampunan, rahmat, rezeki, dan kesehatan untuk bekal hidup di dunia.
Kemudian turun lagi untuk sujud kedua. Di sujud kedua ini, karena aku harus selalu percaya bahwa Allah Maha Mengabulkan doa, maka di balik doa sujud, kubisikkan rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat dan pengkabulan doa yang sudah kurasakan maupun yang kelak akan kurasakan.
Selain tentang ruku dan sujud di siang hari, Juz 23 juga membahas tentang pentingnya membawa ketundukan itu ke keheningan malam alias qiyamul lail. Pesan ini terekam di Surat Az-Zumar ayat 9: “(Apakah orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dalam keadaan bersujud, berdiri, takut pada (azab) akhirat, dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya hanya ululalbab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran” (QS. Az-Zumar: 9).
Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa ciri orang berilmu sejati adalah mereka yang mau mengorbankan waktu istirahat malamnya untuk sujud dan berdiri, mengharap rahmat Allah.
Dan bukan di ayat ini saja shalat malam berulang-ulang disampaikan fadhilah besarnya.
Mumpung masih dikaruniai usia di bulan Ramadhan ini, momen di mana pahala dilipatgandakan. Semoga aku mampu menjadikan ruku, i’tidal, dan sujud hari ini sebagai ibadah yang paling merunduk, paling tuma’ninah, dan paling telak mengikis keakuanmu.
Wallahu a’lam.



