13 April, Juz 13
Bismillah.
Ada rasa yang sulit aku usir beberapa hari terakhir. Melihat kebiadaban berjalan setiap hari, disiarkan langsung, dan tidak satu pun mekanisme hukum dunia yang sanggup menyentuhnya. Rasanya campur antara marah, capek, dan sedikit putus asa. Juz 13 mengambil Yusuf ayat 53 sampai Ibrahim ayat 52, dan ternyata Surat Ibrahim menjawab persis perasaan itu, satu per satu.
Jawaban pertamanya justru berupa teguran, dan sasarannya bukan penindas, melainkan orang-orang yang pernah tertindas.
Wa idz qāla mūsā liqaumihī udzkurū ni’matallāhi ‘alaikum idz anjākum min āli fir’auna yasūmūnakum sū’al ‘adzābi wa yudzabbiḥūna abnā’akum wa yastaḥyūna nisā’akum…
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari pengikut-pengikut Firaun; mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, dan menyembelih anak-anakmu laki-laki, dan membiarkan hidup anak-anakmu perempuan…” (QS 14:6)
Musa sengaja mengorek luka lama kaumnya. Bukan untuk memelihara dendam, tapi supaya mereka ingat rasanya jadi pihak yang lemah. Peringatan semacam ini punya maksud yang jelas, yaitu supaya kelak ketika giliran mereka berkuasa, mereka tidak mengulangi persis apa yang dulu Firaun lakukan kepada mereka.
Dan ayat sesudahnya menyebutkan konsekuensinya.
Wa idz ta’adzdzana rabbukum la’in syakartum la’azīdannakum wa la’in kafartum inna ‘adzābī lasyadīd.
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS 14:7)
Yang terjadi kemudian kebalikan dari harapan itu. Ingatan tentang penderitaan menguap, dan yang tersisa cuma pengingkaran. Mereka yang dulu anak-anaknya disembelih berubah jadi yang menyembelih. Dan pengingkaran seperti ini tidak pernah dibiarkan tanpa tagihan.
Jawaban kedua menyasar langsung ke sumber rasa gentar itu, yaitu anggapan bahwa strategi mereka terlalu rapi untuk bisa digagalkan.
Wa qad makarū makrahum wa ‘indallāhi makruhum, wa in kāna makruhum litazūla minhul jibāl.
“Dan sungguh, mereka telah membuat makar (tipu daya) mereka, padahal di sisi Allah ada (balasan) bagi makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (tidak mampu) melenyapkan gunung-gunung.” (QS 14:46)
Mereka memang merasa sudah merancang segalanya dengan sempurna. Narasi dikuasai, opini global dikendalikan, teknologi dikerahkan, hukum internasional dimainkan sesuka hati. Perumpamaan gunung di ujung ayat itu pas sekali, karena mereka mengira makarnya sanggup memindahkan gunung dan mengubah peta dunia sesuai selera. Padahal seluruh rancangan itu tetap berada di dalam genggaman Allah. Tidak ada satu pun strategi yang lolos dari hitungan-Nya. Yang terlihat sebagai kekuatan sebenarnya cuma fatamorgana.
Jawaban ketiga inilah yang paling menenangkan sekaligus paling menakutkan.
Wa lā taḥsabannallāha ghāfilan ‘ammā ya’maluẓ ẓālimūn, innamā yu’akhkhiruhum liyaumin tasykhaṣu fīhil abṣār.
“Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (karena ketakutan).” (QS 14:42)
Kalimat pembukanya seperti ditujukan langsung kepada orang yang sedang menahan rasa seperti aku. Jangan pernah mengira Allah lengah. Yang selama ini kita baca sebagai pembiaran ternyata namanya penangguhan, dan dua hal itu jauh berbeda.
Penangguhan bukan tanda lemah. Itu bagian dari keadilan yang bekerja sampai tuntas. Mereka dibiarkan menumpuk dosanya sampai ke titik ketika hukuman datang, tidak tersisa lagi celah untuk menyangkal atau berkilah.
Jadi kekebalan hukum yang mereka nikmati hari ini bukan tanda selamat. Itu justru bagian dari proses menuju kehancuran yang jauh lebih besar.
Melupakan sejarah penderitaan sendiri, membangun kekuatan di atas kesombongan, lalu merasa makarnya tak tersentuh siapa pun. Tiga hal itu kalau berkumpul di satu tempat cuma menandakan satu hal, bahwa perjalanan menuju kehancuran sudah dimulai.
Kezaliman hari ini memang terlihat kuat, tersusun rapi, dan terlindungi dari segala arah. Tapi semua itu penangguhan, bukan pembiaran. Keadilan Allah tidak pernah absen, cuma jadwalnya belum sampai.
Wallahu a’lam.


