18 Maret, Juz 18
Bismillah.
Hari ini sudah di hari ke-28 Ramadhan. Para pemburu Lailatul Qadar masih menyisakan satu malam ganjil, malam ini insyaAllah. Aku memohon semoga Allah memberiku kekuatan untuk tetap istiqamah dalam beribadah: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika, wa syukrika, wa husni ‘ibadatik.
Ada rasa yang sulit dijelaskan. Sedih karena Ramadhan akan pergi, tapi juga ada bahagia menyambut Idul Fitri. Namun di balik itu semua, ada satu kegelisahan, apakah Ramadhanku benar-benar berhasil?
Karena keberhasilan itu bukan di garis finish, tapi setelahnya. Para ulama menyebutnya prinsip al-hasanah ba’dal hasanah, kebaikan yang melahirkan kebaikan berikutnya. Kalau setelah Ramadhan aku tetap menjaga ibadah, berarti ada sesuatu yang berhasil. Tapi kalau kembali seperti semula, mungkin ada yang perlu dievaluasi.
Aku ingin sekali menjaga ghirah ini, merasakan “rasa Ramadhan” itu tetap hidup di sebelas bulan berikutnya. Persoalannya, bagaimana caranya.
Jawabannya kutemukan di Juz 18, di dalam Surah An-Nur, surat yang namanya sangat indah, artinya Cahaya.
Isi surat ini penuh aturan yang ketat. Ada hukuman bagi pezina. Ada teguran keras bagi penyebar fitnah dan hoaks. Ada perintah menundukkan pandangan, menjaga aurat, bahkan adab anak-anak mengetuk pintu di waktu privat. Sekilas ini seperti “pembatas”. Tapi justru surat ini dinamakan Cahaya.
Kenapa?
Jawabannya Allah letakkan di tengah-tengah surat, pada ayat 35, ayat yang sering disebut sebagai Ayat An-Nur. Di ayat itu Allah berfirman: “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara…” Allah menggambarkan cahaya-Nya seperti pelita yang berada dalam kaca, dan kaca itu bening seperti bintang yang berkilau. Para ulama menjelaskan, cahaya itu adalah iman, dan kaca itu adalah hati manusia.
Ternyata aturan-aturan ketat di awal surat tadi, seperti menjaga pandangan, menahan lisan dari gosip, dan menjaga kehormatan, bukanlah penjara. Aturan-aturan itu justru diturunkan sebagai “lap pembersih” agar kaca di dalam dadaku tetap bening.
Kalau mata ini liar, kalau lisan ini bebas menyebarkan apa saja, kalau hati ini dibiarkan mengikuti hawa nafsu, kaca itu akan berdebu. Pelan-pelan buram. Lalu gelap. Dan ketika kaca itu kotor, cahaya iman di dalamnya tidak akan mampu menerangi hidup.
Ramadhan selama 28 hari ini ternyata proses membersihkan kaca itu. Menahan lapar, menahan amarah, menahan diri dari yang sia-sia, semuanya “lap pembersih”.
Selama Ramadhan ini aku juga sedang menyalakan pelita itu dengan tiga hal yang kujaga: Al-Qur’an, shalat, dan infak. Kalau puasa membersihkan kacanya, tiga amalan itu bahan bakar cahayanya.
Tapi masalahnya selalu sama setiap tahun. Begitu Ramadhan selesai, aku sering tanpa sadar meletakkan “lap” itu. Kembali ke kebiasaan lama. Kembali longgar. Kembali membiarkan debu-debu kecil menempel lagi. Pelan-pelan, cahaya itu meredup.
Padahal ukuran keberhasilan Ramadhan bukan pada seberapa kuat aku di dalamnya, tapi seberapa konsisten aku setelahnya.
Maka di penghujung Ramadhan ini, fokusku mulai bergeser. Bukan lagi sekadar mengejar garis finish, tapi memastikan apa yang sudah dibangun ini tidak runtuh setelahnya.
Aku tidak ingin kaca hati ini jernih hanya sebulan, lalu buram lagi sebelas bulan berikutnya. Aku ingin menjaga tiga pilar itu tetap hidup: Al-Qur’an, shalat, dan infak. Tidak harus sebesar di bulan Ramadhan, tapi cukup konsisten. Cukup stabil. Cukup hidup.
Karena mungkin, istiqamah itu bukan tentang melakukan yang besar, tapi tentang tidak meninggalkan yang kecil.
Semoga Ramadhan ini benar-benar mencetak kebiasaan baru. Dan semoga cahaya iman itu tidak padam setelah 1 Syawal, tapi terus menyala menjadi nurun ‘ala nur (cahaya di atas cahaya) yang menuntun langkahku, bahkan saat Ramadhan telah lama pergi.
Wallahu a’lam.


